Tampilkan postingan dengan label Taubat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taubat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 April 2010

Warning Bencana & Bertobat Kembali Ke Jalan Allah SWT

Banyak kita-kita yang beranggepan bahwa negeri Indonesia, yang kita cintai karena Allah, dilanda musibah demi musibah karena Allah hendak memberikan (peringatan keras) kepada ummat Islam agar bertaubat dari berbagai maksiat yang kian tampil secara terang-terangan.

kemaksiatan yang hadir dewasa ini di Indonesia, negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia ini, sudah meliputi segenap aspek kehidupan. Silahkan dan mari sama-sama kita renungkan...!
Segenap aspek kehidupan tersebut telah dikembangkan dengan semangat mengabaikan bagaimana sebenarnya Allah menuntut kita mengelolanya. Manusia nyangkain bahwa semua aspek hidup itu boleh dikembangkan seenaknya menurut selera dan hawa nafsu manusia. Minjemin ungkapan bahasa saudara Adian Husaini beliau menulis sebagai berikut:

”Kita menyaksikan, bagaimana sekelompok orang – dengan alasan kebebasan berekspresi (freedom of expression) -- dengan terang-terangan menantang aturan Allah dalam soal pakaian. Mereka menyerukan kebebasan. Mereka pikir, tubuh mereka adalah milik mutlak mereka sendiri, sehingga mereka menolak segala aturan tentang pakaian. Bukankah tindakan itu sama saja dengan menantang Allah: ”Wahai Allah, jangan coba-coba mengatur-atur tubuhku! Mau aku tutup atau aku buka, tidak ada urusan dengan Engkau. Ini urusanku sendiri. Ini tubuh-tubuhku sendiri! Aku yang berhak mengatur. Bukan Engkau!” Memang, menurut Prof. Naquib al-Attas, ciri utama dari peradaban Barat adalah ”Manusia dituhankan dan Tuhan dimanusiakan!” ((Man is deified and Deity humanised). Manusia merasa berhak menjadi tuhan dan mengatur dirinya sendiri. Persetan dengan segala aturan Tuhan!”

Hal ini sedang terjadi secara global di seluruh penjuru dunia. Indonesia tidak terkecuali. Mengingat bahwa Indonesia dihuni oleh jumlah ummat Islam terbanyak di dunia, maka tanggung-jawab kitapun menjadi lebih besar untuk menunjukkan di hadapan Allah bahwa kita bukanlah ummat Islam yang sekedar bangga dengan kuantitas.

Masyarakat tersebut mengaku beriman, namun dalam beriman kepada Allah masyarakat itu sendiri yang menentukan bagaimana mereka beriman kepada Allah. Mereka ogah-ogahan tunduk kepada bagaimana semestinya mereka beriman menurut Kehendak Allah. Inilah yang dimaksud di dalam ayat:


وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ

”Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya...” (QS Al-An’aam ayat 91)

Dengan berlindung di balik faham-faham modern yang bersumber dari peradaban Barat sebagian muslim di negeri ini telah meninggalkan Islam sebagai Pegangan Hidup. Baik sadar maupun tidak sadar. Mereka meninggalkan berfikir dan berperasaan menurut bagaimana yang Allah kehendaki karena mereka telah termakan oleh faham Humanisme, Liberalisme, Sekularisme dan Materialisme.

masihkah kita perlu heran mengapa bencana demi bencana Allah tetapkan berlaku di tengah masyarakat berpenduduk muslim terbesar di dunia dewasa ini? Sudah tiba masanya bagi kita semua untuk bertaubat dengan Taubatan Nasuhan (taubat poll-pollan), khususnya di dalam menjadikan Islam sebagai satu-satunya Pegangan Hidup dalam kehidupan pribadi maupun kolektif.

Kata ”Taubat” bermakna ”kembali”, yakni kembali kepada Allah dalam segenap hal. Maka sudah tiba masanya bagi ummat Islam terbesar jumlahnya di dunia ini untuk kembali dan hanya kembali kepada semua aturan hukum Yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana, Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Aturan dan aturan bikinan manusia merupakan produk makhluk yang sarat sifat zalim dan bodoh.

إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

“Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS Al-Ahzab ayat 72)

Sangat gak konsisten jika di dalem doa kita berkata: ”Aku ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai Din dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul”, namun dalam keseharian kita masih saja mengakui dan mengagung-agungkan faham/ajaran peradaban Barat/siapa pun dia berasal yang sejatinya berprinsip mengingkari bahkan mempersekutukan Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Esa.

وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah ta’aala, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah ta’aala. BagiNyalah segala penentuan(hukum), dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS Al-Qashash ayat 88)

Pertaubatan Di perjalanan Hidup Saya

Apabila ternyata kita-kita ini termasuk orang yang rajin mengumpulkan poin keburukan, alias senang melakukan maksiat, keburukan dan dosa, maka ya banyak-banyak bersyukur saja kepada Allah. Kenapa mesti banyak bersyukur?

Ya, sebab dipanjangkannya umur kita saja , sudah merupakan karunia dari Allah. Dengan itu, kita bisa memperbaharui iman kita, bisa bertaubat, bisa kemudian mengejar ketertinggalan kita. Dan karunia bisa bertaubat sendiri adalah satu karunia yang masya Allah, mahal sekali. Teramat mahal malah. Banyak orang yang tiada sempat bertaubat, tapi kita diberi-Nya kesempatan bertaubat. Dan tiada yang bertaubat kecuali itu adalah untuk kebaikannya sendiri.

“… Wa man tazakkaa fainnamaa yatazakkaa linafsihi. Wa ilallaahil mashiir, Dan barangsiapa yang menyucikan diri, sesungguhnya ia menyucikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah lah tempat kembali”. (Qs. Faathir: 18).

“Fa-almahaa fujuuraha wataqwaahaa. Qad aflaha man zakkaahaa wa qad khaaba man dassaahaa, Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketaqwaan. Sungguh beruntung orang yang membersihkannya dan sungguh merugi orang mengotorinya”. (Qs. asy Syams: 8-10).

Hendaknya kita meng-enolkan dulu semua perbuatan buruk kita dengan bertaubat. Menghentikan perbuatan buruk, judi misalnya, tidak serta merta dianggap bertaubat. Perlu ada pernyataan lisan dari kita. Pernyataan memohon ampun. Pernyataan permohonan maaf. Kita minta ampun sama Allah, minta maaf pada-Nya atas semua kesalahan-kesalahan kita

Cara yang paling efektif di awal adalah shalat taubat. Shalatnya cukup 2 rakaat saja dengan bacaan bebas di setiap rakaatnya. Tapi, persiapkan diri yang betul, dengan benar-benar mendidik diri sebelum shalat, bahwa sebentar lagi kita akan menegakkan shalat dengan membawa dosa-dosa yang mau kita mintakan ampun kepada Allah. Allah sudah berjanji akan mengampuni kita bila kita mau datang kepada-Nya, bahkan Allah akan memberikan ampunan-Nya lebih banyak ketimbang dosa yang kita bawa kepada-Nya. Habis itu perbanyak shalat-shalat taubat di setiap kesempatan

Di awal-awal saya dulu meniti jalan pertaubatan, malah saya usahakan di setiap shalat fardhu, saya menegakkan shalat taubat plus shalat hajat. Shalat taubat untuk masa lalu saya, shalat hajat untuk masa depan saya. Bahkan sekarang-sekarang ini, saya mulai galakkan lagi. Selain tentu saja sehat, sebab ada gerakan-gerakan shalat yang menyehatkan fisik, menegakkan shalat sunnah taubat dan hajat juga menjadi satu keberkahan tersendiri adanya.



Begitu banyak fadhilah untuk masa lalu dan masa depan kita. Kemudian setelah itu, kejar semua ketertinggalan kita dengan banyak-banyak istighfar, dan menghidupkan sunnah-sunnah semaksimal-maksimalnya kemampuan kita. Bukan seadanya loh ya.

Semaksimalnya. Yang disebut ibadah sunnah itu; qabliyah ba’diyah, dhuha, tahajjud, witr, baca al Qur’an, shalat berjamaah, sedekah, dan menahan diri dari perbuatan-perbuatan buruk yang baru.