Tampilkan postingan dengan label Al Quran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al Quran. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Mei 2010

Suatu hari di Negeri Qur'ani

Saya harus menyelesaikan tugas mengajar privat di selatan Kairo hari itu. Perjalanan sekitar tiga puluh menit dari statsiun Demerdash, Abbasea. Pikiran saya tidak tenang, masih berkecamuk semenjak siang tadi. Kata teman-teman satu Fakultas ujian bisa jadi dimajukan dari biasanya. Terbayang oleh saya hafalan delapan Juz Al-Qur’an sudah menunggu. Ah, jika saja dulu di Indonesia sudah hafal banyak Al-Qur’an rasanya tidak usah pusing memikirkannya lagi, tinggal mengulang dan mendalami. Tidak seperti sekarang, terburu-buru menghafal karena ujian sudah dekat. Padahal dosen di kuliah berulang kali mengingatkan jangan menghafal Qur’an karena ujian, hafalkan ayat-ayat Qur’an karena ia kitabmu.

Diam-diam saya mengeluarkan mushaf kecil, membaca sisa bacaan yang belum selesai. Di depan saya berdiri, nampak anak muda berpakaian trendi sedang membaca kumpulan surat-surat pilihan dalam Al-Qur’an yang disebut Sab’ul Munjiyat. Tidak lama ia berdiri meninggalkan tempat duduknya, bersamaan dengan henti roda-roda baja kereta. Saya pun menempati kursi kosong bekas pemuda tadi.

Wajah-wajah dalam gerbong itu nampak lelah. Tetapi saya sedikit menemukan kesejukan, beberapa orang dalam gerbong itu membaca Al-Qur’an. Lelaki tua berambut putih yang duduk di samping saya juga mengeluarkan mushaf besar dari dalam tas lusuhnya. Memang terlihat ganjil, namun ia berusaha menyesuaikan dengan kondisi matanya yang (mungkin) sudah rabun.

Masyarakat Mesir cukup religius dalam keseharian mereka, utamanya dalam interaksi mereka dengan Al-Qur’an di tengah arus globalisasi dan invasi budaya Barat yang merajalela di negeri-negeri Muslim. Polisi, tentara dan satpam yang sedang jaga tak segan membaca Al-Qur’an. Saat pergi ke pertokoan Khan Khalili di kawasan Husein saya pun beberapa kali menyaksikan pemandangan yang membuat gairah keimanan menyala, beberapa penjaga toko Khan Khalili membaca Al-Qur’an sambil menunggu pembeli yang mayoritas turis Asing. Dan saat kami pergi ke kuliah, dalam bis-bis kota yang sesak beberapa orang Mesir membaca dan mengulang hafalan Qur’an-nya.

Pernah satu waktu sepulang dari perjalanan yang sama, saya ditegur seorang pemuda yang sedang mengulang hafalan Qur’an-nya.
“Apakah kamu membawa mushaf?”
“Ya” Jawab saya. “Mengapa kamu tidak membacanya?” katanya lagi.
“Saya tidak punya wudlu.”
“Apa salahnya mengulang hafalan Qur’an? Saya juga tidak punya wudlu!” saya mengangguk dan membenarkan nasihatnya.

Beberapa waktu lalu, adik kelas saya satu sekolah dulu bertanya, “Bagaimana cara menghafal Qur’an yang efektif?”

Saya tidak punya jawaban yang betul-betul saya tahu, hanya saja saya sarankan untuk terus menghafal dan banyak mengulang. Usahakan baca Qur’an di mana pun ada kesempatan seperti masyarakat Mesir melakukannya. Ia kemudian menjawab, bahwa untuk membaca Qur’an di setiap kesempatan terasa sulit jika diterapkan di kota seperti Jakarta. Saya tidak tahu pasti apakah memang benar di Jakarta susah untuk melakukannya? Karena masyarakat yang tadi saya ceritakan di atas ada di Kairo yang nota bene ibu kota Mesir.



Setidaknya satu hal yang diharap para pembaca Qur’an itu: keberkahan. Keberhakan dalam segala hal, bukan hanya dari sisi materi, jauh dari itu keberkahan di Hari Pengadilan seluruh manusia. Karena kata Nabi SAW, “Bacalah Qur’an. Karena ia akan menjadi pemberi syafa’at kepada para pembacanya.” Dan keberkahan itu sendiri telah dijanjikan Allah dalam kitab-Nya ini, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Q.S. Shaad: 29)

Penulis buku ‘Fî Dzilâlil Qurân’ (Di Bawah Naungan Qur’an) Sayyid Qutb, mengungkapkan kekagumannya kepada Al-Qur’an setelah lama ia bergelut dengan berbagai pemikiran Materealis, “Wajadtu-l Qur’an” (Kutemukan Al-Qur’an) katanya. Semenjak itu ia pun konsen mempelajari Al-Qur’an sampai ia menemui syahid di tiang gantungan, setelah merampungkan karya monumentalnya: Fî Dzilâlil Qur’ân.

Inilah sedikit gambaran dari sebuah Negeri Qur’an bernama Mesir. ‘Negeri Qur’an’ hanyalah sebuah nama yang terlintas di benak saya. Ia bukanlah negeri yang selalu identik dengan tanah Arab, bukan itu yang saya maksud. Negeri Qur’an ialah negeri yang masyarakat Muslimnya dekat dengan Al-Qur’an apapun bahasa nasionalnya. Negeri yang mencintai Al-Qur’an sebagaimana mereka menyintai Allah pemilik kitab-Nya. Negeri itu mungkin saja negeri kita tercinta: Indonesia.

Jumat, 23 April 2010

Keutamaan Membaca Ayat Kursi

Ayat kursi sangat kental dengan nuansa akidah, terutama akidah kepada Allah swt, yaitu akidah akan sifat-sifat Allah yang berbeda dengan sifat seluruh makhluk-Nya. Kejelasan akan sifat-sifat Allah sangatlah penting untuk menghindari dominasi khurafat, mitos dan syubhat yang kerap kali menutupi hati dan pandangan manusia. Justru Islam datang untuk menyelamatkan dan membersihkan hati manusia dari timbunan kotoran yang demikian berat, serta dari kesesatan dan kebingungan dalam kegelapan. Sehingga secara korelatif dijelaskan pada ayat setelahnya: ”Tidak ada paksaan dalam beragama”, bahwa akidah yang dibawa oleh Islam adalah akidah yang berdasarkan kerelaan hati setelah mendapat keterangan dan penjelasan yang terang benderang, bukan berdasarkan pemaksaan dan tekanan.

Menurut Ibnu Athiyah, yang dimaksud dengan kursi, berdasarkan hadits-hadits Rasulullah saw, adalah makhluk Allah yang agung yang berada di antara Arsy Allah swt, sedangkan Arsy Allah tentunya lebih besar berbanding kursi-Nya. Perbandingan antara keduanya seperti yang dituturkan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits riwayat Abu Dzar, “Bukanlah kursi Allah yang berada di Arsy Allah itu melainkan hanya seperti sebuah lingkaran besi yang dilemparkan di salah satu penjuru bumi”.

Penyebutan kata “kursi” yang secara fisik inderawi bisa digambarkan layaknya kursi tempat duduk manusia, begitu juga ungkapan ”dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya” sememangnya menurut Sayyid Qutb adalah untuk memudahkan manusia memahami dan menggambarkan keagungan dan luasnya kekuasaan Allah yang meliputi langit dan bumi, “Luasnya Kursi Allah meliputi langit dan bumi”. Ungkapan dalam kalimat deskripsi inderawi seperti ini akan memberikan kesan yang kuat dan mendalam serta mantap di dalam hati mengenai hakikat yang dimaksud.

Berdasarkan analisa bahasa yang dikemukakan oleh Az-Zamakhsyari bahwa penyebutan sifat-sifat Allah yang terkandung dalam ayat kursi ternyata tidak menggunakan kata penghubung (wau athaf) yang biasa digunakan dalam susunan kalimat bahasa Arab untuk menghubungkan antara satu kata dengan kata lainnya. Redaksi yang demikian ini menunjukkan kekuatan bayan (penjelasan) pada seluruh sifat-sifat Allah swt yang tersebut dalam ayat ini. Paling tidak terdapat empat penjelasan tentang sifat-sifat Allah dalam ayat kursi, yaitu: pertama, penjelasan akan keesaan Allah dalam mengatur seluruh makhluk. Kedua, penjelasan bahwa Allah adalah Raja atas seluruh makhluk yang diatur. Ketiga, penjelasan akan luasnya ilmu Allah yang mencakup seluruh makhluk, sampai kepada mereka yang diridhoi dan berhak mendapat syafa’at-Nya dengan mereka yang tidak berhak mendapatkannya. Dan keempat, penjelasan tentang pengetahuan Allah akan seluruh maklumat yang tersebar di langit dan bumi.

Wajar jika Ibnu Katsir menyimpulkan bahwa ayat kursi merupakan ayat yang paling agung dalam Al-Qur’an (A’zhamu ayatin fil Qur’an) dan memiliki kedudukan dan keutamaan yang banyak. Di antara keutamaan ayat kursi seperti yang ditegaskan dalam beberapa hadits Rasulullah diantaranya: pertama, ayat kursi merupakan pelindung dan benteng dari godaan syetan. Kedua, nilai ayat kursi setara dan sebanding dengan seperempat Al-Qur’an.

Sebuah kisah yang diutarakan oleh ayah Abdullah bin Ubay bin Ka’ab menjadi bukti nyata akan keampuhan ayat kursi sebagai pelindung. Ia menceritakan bahwa pada suatu malam ketika melihat-lihat kebun kurma miliknya, tiba-tiba ia terserempak dengan seekor hewan yang mirip dengan seorang anak yang baru menginjak usia baligh. Maka ayah Abdullah bin Ubay bin Ka’ab mengucapkan salam yang langsung dijawab oleh anak itu. Kemudian dengan nada penasaran ia bertanya, “Siapakah kamu? Apakah kamu dari golongan jin atau manusia?”. Dengan singkat anak itu menjawab, “Dari golongan jin”. Akhirnya ia meminta jin itu untuk mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Ternyata ketika disentuh, tangannya seperti tangan anjing dan juga bulunya. Maka aku bertanya, “Apakah demikian jin diciptakan?” Jin itu menjawab, “Bahkan ada yang lebih hebat dari ini”. “Apakah yang mengundang kamu datang kemari?”. Ayah Abdullah bin Ubay kembali bertanya. “Telah sampai berita kepadaku bahwa engkau adalah seorang yang sangat dermawan. Aku ingin mendapatkan sedekahmu”. “Jika memang demikian, aku ingin bertanya, apa yang dapat melindungi kami dari godaanmu?”. Pinta Abdullah bin Ubay. Dengan tegas, jin itu menjawab, “Ayat kursi”. Keesokan harinya, Ayah Abdullah bin Ubay menceritakan kepada Rasulullah apa yang dialaminya tadi malam. Maka Rasulullah bersabda, “Apa yang dikatakan oleh jin itu benar, tetapi dia tetap makhluk yang kotor”. (Diriwayatkan oleh Al-Hakim).



Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dijelaskan kedudukan ayat kursi yang senilai dengan seperempat Al-Qur’an. Anas bin Malik menceritakan bahwa Rasulullah saw pernah bertanya kepada salah seorang sahabatnya, “Wahai fulan, sudahkan kamu menikah?” Sahabat itu menjawab, “Saya tidak memiliki apapun untuk menikah”. Rasulullah bertanya kembali, “Bukankah bersama engkau (hafal) Al-Ikhlash?” Ia menjawab, “Benar wahai Rasulullah”. Rasulullah menjelaskan, “Ia sebanding dengan seperempat Al-Qur’an”. Rasulullah terus bertanya pertanyaan yang sama sampai terakhir Rasulullah bertanya, “Bukankah bersama engkau (hafal) ayat kursi?”. Ia menjawab, “Benar ya Rasulullah”. Maka Rasulullah bersabda, “Ia senilai dengan seperempat Al-Qur’an”.

Keagungan ayat kursi semakin jelas karena ayat ini secara terperinci mengandungi penjelasan akan sifat-sifat dzat Allah swt; dari sifat Wahdaniyah yang dinyatakan oleh Allahu La Ilaha Illah Huwa”, Sifat Maha Hidup yang berkekalan (Al-Hayyu), sifat Maha Kuasa dan berdiri sendiri (Al-Qayyum), bahkan sifat Qayyum Allah diperkuat dengan penafian akan segala yang mengarah kepada kelemahan, seperti “Tidak mengantuk dan tidak tidur”. Begitu juga dengan sifat memiliki yang berkuasa untuk melakukan apa saja terhadap makhluk yang dimiliki-Nya. Sifat iradah (berkehendak) yang ditunjukkan oleh kalimat “mandzalladzi yasyfa’u…”, dan iradah Allah di sini adalah pada urusan yang paling besar, yaitu syafa’at yang tidak dimiliki oleh siapapun kecuali atas izin Allah swt. Juga sifat “Ilm yang dinyatakan oleh “ya’lamu ma baina…..”. Terakhir sifat-sifat dzatiyyah Allah ditutup dengan sifat yang menunjukkan ketinggian dan keagunganNya, “Wahuwal Aliyyul Adzim”. Ibnu Abbas menuturkan, “Yang sempurna dalam ketinggian dan keagunganNya”.

Inilah sifat penutup bagi ayat kursi untuk menetapkan ke-Esa-an Allah pada kebesaran dan ketinggianNya. Alif Lam Ma’rifah yang digunakan dalam kedua sifat terakhir ”Al-Aliyyu Al-Azhimu” sesungguhnya untuk membatasi sifat itu hanya milik Allah Yang Maha Suci, tanpa ada yang bersekutu denganNya. Bahkan tidak ada seorang hamba pun yang berusaha mencapai posisi kebesaran dan ketinggian seperti ini melainkan Allah akan mengembalikannya kepada kehinaan dan kerendahan di akhirat kelak Allah swt berfirman, ”Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi..” (Al-Qashash: 83)

Demikianlah ayat kursi hendaknya dijadikan prinsip dan acuan dalam berinteraksi dengan Allah dan dengan seluruh makhluk-Nya. Hanya Allah Pemilik segala sifat kesempurnaan, sedangkan manusia tidak layak memakai pakaian kebesaran Allah. Keyakinan yang mendalam akan seluruh sifat-sifat Allah akan mampu melahirkan perasaan khauf (takut) akan murka dan azab Allah jika kita melanggar aturan-Nya. Begitu juga akan mampu melahirkan sifat raja’ (penuh harap) kepada kasih sayang dan rahmat Allah swt.

Tehnik Asyik Menghafal Al Qur'an

Murajaah lebih utama dari pada menghafal. Tips ini sangat penting diperhatikan. Kadang, kita lebih banyak berusaha menambah hafalan baru sementara hafalan lama terbiarkan begitu saja. Muraja’ah (upaya mengulang-ulang hafalan) sebaiknya dilakukan dengan bantuan teman seprofesi, artinya kita sama-sama murajaah dengan teman yang berniat juga untuk menghafal Qur’an. Dengan bantuan kaset rekorder dan atau audio dijital berformat MP3 pun sangat banyak diminati oleh para calon-calon penghafal Qur’an. Mengulang-ulang hafalan harus dijadikan rutinitas yang utama ketimbang menambah hafalan baru.

Jangan bergerak! Ya, jangan bergerak menuju hafalan baru bila hafalan lama atau hafalan yang baru saja dihafal belum benar-benar mantap di dalam memori kita. Beberapa orang hafidzh Qur’an yang pernah penulis temui mengatakan, usahakan menghafal ayat ibarat menghafal Al fatihah, seperti lancarnya kita membaca Al fatihah. Teksnya tidak lupa meskipun kita tidak terlalu konsentrasi untuk mengucapkannya. Gampang-gampang susah kan?

Raih kondisi yang OK. Perhatikan waktu-waktu yang baik untuk menghafal. Biasanya, banyak para penghafal Qur’an mengkhususkan waktu-waktu tertentu untuk menghafal dan mengkhususkan waktu yang lain untuk sekedar mengulang hafalannya. Tetap istiqomah dengan waktu tersebut, insya Allah bisa! Selain itu, mood juga sangat berpengaruh. Ketika waktu menghafal Qur’an bertepatan pada saat mood belum baik/mendukung, maka tangguhkan dulu. Sebab mood, kata para pakar kejiwaan, berhubungan dengan suasana pikiran (ingatan). Ketika sedang mood sedih, kita cenderung mengingat dan merekam hal-hal yang berhubungan dengan kesedihan, begitu juga sebaliknya. Untuk itu perhatikanlah mood pada saat menghafal Qur’an. Jika moodnya tidak mendukung, jangan bergerak, diam sejenak sampai mood untuk menghafal hadir kembali..

Milikilah bekal teoritis. Di sini penulis menganjurkan kepada para sahabat yang berkeinginan atau berminat menghafal Qur’an, menghafal ala kadarnya, separuh atau seluruhnya. Perlunya kita memiliki bekal teoritis tentang Al Qur’an. Yang dimaksudkan di sini adalah ilmu-ilmu tentang Qur’an (‘ulumul qur’an), dasar-dasar memahami tafsir Qur’an, asbabun nuzul juga penting. Mengapa perlu? Sebab hal ini sangat dibutuhkan dalam mempertahankan semangat, mood, serta mempermudah untuk menghafal Al Qur’an.

Keterampilan Bahasa Qur’an. Bahasa Qur’an berbeda dengan bahasa Arab. Walaupun demikian, ketika kita ingn memahami bahasa Qur’an terlebih dahulu kita harus memahami bahasa arab, minimal beberapa kaidah yang digunakan sebagai modal untuk menghafal Qur’an. Salah satu kajian dalam bahasa arab adalah ilmu nahwu dan sharaf. Dengan memahami ilmu nahwu dan sharaf ini, insya Allah menghafal Qur’an lebih mudah… Setelah penulis coba, sekali saja, sedikit, eh... ternyata dahsyat! Muraja’ahnya nyaman dengan bekal si nahwu dan sharaf...

Terjemah secara lafzhiyah sangat membantu. Inilah yang dirasakan penulis ketika dulu pernah mencoba-coba menghafal Qur’an. (Memang, sekarang semangat menghafal ana sudah kendor, wallahu a’lam). Disarankan, belajarlah tentang cara-cara menerjemahkan Al Qur’an secara lafzhiyah untuk membantu menghafal (saja!!!). Keterampilan menerjemah secara lafzhiyah tidak boleh digunakan dalam memahami atau menggali kandungan Al Qur’an secara sembaran. Mengapa? Aduh… penulis kurang tahu ya..., tanya ‘Ulama donk… Bagi penulis, keterampilan menerjemah sangat membantu untuk mempermudah menghafal, mempermudah. TITIK.

Irama itu penting sobat! Milikilah irama. Itulah cara beberapa orang untuk mengingat ayat-ayat tertentu atau seluruhnya. Irama yang digunakan untuk menghafal Qur’an sebaiknya spesifik. Seharusnya iramanya juga spesifik untuk setiap orang, untuk setiap surah, bahkan kalau memungkinkan untuk setiap bagian hafalan dari surah tertentu… Hal ini sangat membantu di dalam mengingat hafalan. Makanya tak sedikit para hufadzh memiliki irama khas. Memiliki irama, sebenarnya mudah. Boleh menggunakan irama khas pribadi, boleh juga mengikuti irama murattal dari syaikh timur tengah, atau siapa aja deh... Asal jangan irama rock dangdut. (Afwan, bercanda). Cukup dengan sering mendengarkan irama murattal, insya Allah, kita lebih muda meniru iramanya.

Sibuk Tetap Semangat Menghafal Al Qur'an

Ustadz,Bagaimana metode belajar dan menghafal al-Qur'an sendiri tanpa guru, bila saya ada waktu luang di kantor Lokasi saya di daerah Meruya , dimana lokasi terdekat untuk belajar?

Jawaban

Alhamdulillah, washshslatu wassalamu 'ala Rasulillah wa ba'du.

Bapak Ilham yang dirahmati Allah, belajar dan menghafal Al-Qur'an adalah pekerjaan yang sangat mudah. karena memang ada jaminan dari Allah SWT akan hal itu. kita bisa lihat dalam Al-Qur'an surat Al-Qamar, surat ke 54 ayat 17, 22, 32 dan 40.

"Sungguh telah kami mudahkan Al-Qur'an itu untuk diingat, maka apakah ada orang yang mengambil pelajaran?".

Ayat ini berulangan sampai empat kali, ini adalah sebagai penegasan dari Allah SWT bahwa Al-Qur'an mudah dipelajari, difahami, dihafal bahkan Al-Qur'an mudah diamalkan.

Di zaman modern ini banyak cara untuk bisa mempelajari Al-Qur'an,baik melalui CD, kaset dan lain sebagainya. Dengan demikian tidak ada lagi alasan bagi kita untuk tidak belajar AlQur'an. jadi bapak bisa mendengarkan kemudian mengikuti bacaan dari kaset atau CD tersebut. Bapak juga harus pandai-pandai memanfaatkan waktu luang dengan mendegarkan salah satu tilawah seorang syaikh terkenal. Saat berangkat juga bisa dimanfaatkan untuk mendengarkan tilawah tersebut. Lakukan itu secara berulang-ulang, insya Allah, sedikit demi sedikit bapak akan mampu, namun usaha ini barang tentu hasilnya sangat berbeda dengan orang yang belajar dengan bimbingan seorang guru.

Maka yang harus kita fahami bersama, bahwa belajar Al-Qur’an yang benar adalah harus dengan guru yang mengajari dan membimbingnya. karena dengan demikian dia dapat memperbaikinya bilamana sang murid keliru dalam membaca dan melafazhkan ayat-ayat Al-Qur’an. Karena dengan talaqqi dan musyafaha (menerima pelajaran dengan berhadapan langsung) kepada guru inilah cara yang paling benar. Sebagaimana para Ahlul Qur’an bertalaqqi langsung kepada gurunya, gurungya bertalaqqi kepada gurunya lagi sampai kepada para qari’ dari kalangan Tabi’in, kemudian mereka bertalaqqi kepada qari’ dari kalangan Shahabat RA, kemudian mereka bertalaqqi langsung kepada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bertalaqqi kepada Malaikat Jibril dan malaikat jibril menerima Al-Qur’an dari Allah SWT.

Bila tidak mengganggu konsentrasi bapak dalam bekerja di kantor, bisa saja bapak memanfaatkan sarana teknologi yang ada yang saya sebutkan tadi di atas. Tapi ini semua hanyalah sebagai sarana penunjang bapak dalam belajar Al-Qur'an. Sekali lagi bahwa belajar Al-Qur'an pada hakikatnya harus dengan guru, dan tidak boleh tidak.



Sedikit saran dari saya agar bapak mengumpulkan teman-teman sekantor untuk sama-sama berkomitmen dalam mengahafal Al-Qur'an, kemudian memanggil seorang guru yang bisa datang ke kantor untuk mengajarkan cara membaca dan menghafalkan Al-Qur'an walaupun hanya satu pekan sekali. ini akan lebih baik dari pada belajar Al-Qur'an sama sekali tidak dengan bimbingan guru. kalau ini bisa berlangsung secara kontiniu, insya Allah maka bapak bisa melihat hasilnya sendiri nanti.

Kalau seseorang sudah memiliki niat yang kuat untuk menghafal Al-Quran, maka tidak ada yang dapat menghalanginya untuk terus menghafal. Dan salah satu cara untuk menghafal Al-Quran adalah memulainya dengan yang lebih mudah untuk dihafal, dan tentunya surat-surat pendek itu lebih mudah untuk dihafal, mengapa demikian? selain memang ayat-ayatnya pendek-pendek, dia juga sering dibaca oleh para imam shalat-terutama bagi para imam yang tidak memiliki banyak hafalan- sehingga surat-surat pendek ini akan lebih mudah dihafal.

Cara menghafal surat-surat pendek

Ada banyak cara menghafal surat-surat pendek, diantaranya :
1. Perbanyak mendengar sebelum memulai menghafal, bisa dengan kaset murattal atau mendengarnya dengan khusyu' dari para imam shalat yang kebanyakan dari mereka sering membaca surat-surat pendek dalam shalat maghrib, isya dan subuh. atau yang lebih sering lagi pada saat shalat tarawih di bulan ramadhan, dimana kebanyak imam membaca surat-surat pendek.

2. Perbanyak membaca surat-surat pendek tersebut sehingga ketika kita mulai menghafalnya maka lidah kita sudah akrab dengan ayat-ayat yang akan kita hafal. kemudian setelah kita yakin benar bahwa surat-surat tersebut sudah kita hafal, baru kemudian pindah ke surat berikutnya.

3. Jangan lupa untuk membacanya di hadapan seorang teman yang bacaan atau hafalan Al-Qurannya lebih baik dari kita atau seorang guru tahfizh Al-Quran untuk menyimak hafalan kita, ini harus kita lakukan untuk menghindari salah baca dan salah menghafal.

4. Lakukan pengulangan (muraja'ah) secara teratur, terutama kita baca dalam shalat lima waktu atau dalam shalat sunnah.

5. Usahakan membaca hafalan sesuai dengan urutan yang tercantum di dalam Al-Quran, misalnya kita membaca surat Al-Qari'ah, At-Takatsur kemudian surat Al-'Ashr terus sampai surat An-Nas. sehingga kita mampu mengurutkan hafalan kita sesuai urutan yang ada dalam Al-Quran.

Demikian, mudah-mudahan setelah kita mampu menghafal surat-surat pendek tersebut, membuat kita tertarik untuk menghafal surat-surat panjang sehingga kita dapat merasakan nikmatnya menghafal Al-Quran.

Pembaca Al Qur'an dan Buah harum berasa Lezat

Membaca Al Quran termasuk amal yang sangat mulia, dan Allah menjanjikan pahala yang berlipat ganda bagi yang melakukannya. Seorang mukmin akan menjadikan Al Quran sebaik-baik bacaan di kala senang maupun susah, gembira ataupun sedih. Malahan membaca Al Quran bukan saja menjadi amal ibadah, tetapi juga menjadi penawar/obat bagi jiwa (Q.S. Fushshilat :44)

Dimanakah letak keutamaan atau kelebihan martabat orang yang membaca Al Quran?

* Rasulullah menyatakan dengan 4 perumpaman „ Perumpamaan orang Mu’min yang membaca Al Qur’an adalah seperti Bunga Utrujjah (baunya harum dan rasanya lezat), orang mukmin yang tak suka membaca Al Qur’an adalah seperti Buah Kurma (baunya tidak begitu harum, tapi manis rasanya), orang munafiq yang membaca Al Qur’an ibarat Sekuntum Bunga (berbau harum, tetapi pahit rasanya), orang munafiq yang tak suka membaca Al Qur’an tak ubahnya seperti Buah Hanzalah (tidak berbau dan rasanya pahit sekali).(HR.Bukhari & Muslim):

* Ada dua golongan manusia yang sungguh-sungguh orang dengki kepadanya, yaitu orang yang diberi oleh Allah Kitab Suci Al Qur’an ini, dibacanya siang dan malam; dan orang yang dianugerahi Allah kekayaan harta, siang dan malam kekayaannya itu digunakannya untuk segala sesuatu yang diridhai Allah“ (HR. Bukhari & Muslim).

* Rahmat Allah SWT terhadap orang yang membaca Al Quran sangat besar.seperti dijelaskan oleh Hadist „ kepada kaum yang suka berjamaah di rumah-rumah ibadah, membaca Al Qur’an secara bergiliran dan mengajarkannya kepada sesama, akan turunlah kepadanya ketenangan dan ketentraman, akan terlimpah kepadanya rahmat dan mereka akan dijaga oleh malaikat, dan Allah akan selalu mengingat mereka(Muslim dr. Abu Hurairah).

*Allah menjanjikan pahala yang berlipat ganda bagi orang yang membaca Al Quran, seperti yang di katakan oleh Ali bin Abi Thalib: 50 x kebajikan dari tiap-tiap huruf yang diucapkannya, yaitu orang yang membaca Al Quran dalam shalat, 25x kebajikan, yaitu membaca Al Quran diluar sholat dengan berwudhu’, 10 x kebajikan, yaitu: membaca Al Qur’an diluar sholat dengan tidak berwudhu’)

Mendengarkan bacaan Al Quran

Mendengarkan orang membaca Al Quran pahalanya sama dengan orang yang membacanya. Tentang pahala orang mendengarkan bacaan Al Quran (QS. 7 :204)

Semakin sering orang membaca dan mendengarkannya, semakin tertarik hatinya kepada Al Quran. Apalagi jika Al Quran dibaca dengan lidah yang fasih, suara yang baik & merdu akan lebih berpengaruh kepada jiwa yang mendengarkannya. Keadaan orang mukmin tatkala mendengarkan bacaan Al Quran digambarkan pada (QS. 8:2) . Rasulullah pun sangat suka mendengarkan bacaan Al Quran dari orang lain.



Membaca Al Quran sampai khatam

Seorang mukmin yang begitu dalam cintanya kepada Al Quran, ketika ia membaca Al Quran seolah-olah jiwanya mengahadap kehadirat Allah SWT, menerima amanat dan hikmat suci, memohon limpah karunia serta rahmat dan pertolongan-Nya. Sehingga tidak ada suatu kebahagiaan di dalam hatinya , melainkan bila dia dapat membaca Al Quran sampai khatam dengan keikhlasan hati.

Adab Membaca Al Quran

Imam Alghazali didalam kitabnya Ihya Ulumuddin menguraikan bagiamana tatacara membaca Al Quran: Adab batin dan adab lahir

Adab batin yaitu dengan hati dan jiwa: Bagimana cara hati membesarkan kalimat Allah SWT. Dia harus yakin bahwa kalam yang dibacanya adalah bukanlah kalam manusia, melainkan kalam Allah Azza wa Jalla.

Adab lahir:

* disunatkan membaca Al Quran sesudah berwudhu, lalu mengambilnya dengan tangankanan, dan memegangnya dengan ke 2 belah tangan.
*disunatkan membacanya di tempat yang bersih, (surau , rumah mushallah), yang paling utama di Mesjid.
*disunatkan menghadap ke kiblat, khusuk dan tenang, sebaiknya dengan pakaian yang pantas.
*ketika membaca, mulut hendaknya bersih
*Sebelum membaca disunatkan membaca Ta awwudz
*disunatkan membaca Al Quran dengan tartil (Q.S. 73:4)
*bagi orang yang sudah mengerti arti dan maksud ayat-ayat Al Quran disunatkan membacanya dengan penuh perhatian dan pemikiran tentang ayat tsb dan maksudnya.
*disunatkan membaca Al Quran dengan suara yang bagus lagi merdu (Zayyinulquraanabiaswaatik
um)
* Janganlah diputuskan hanya karena hendak berbicara dengan orang lain.

Batas untuk mempelajari Al Quran itu hanya bila seseorang sudah diantar ke liang kubur.

Al Qur'an Keutamaannya Di Dunia dan Akhirat

Al-Qur`an adalah kalamullah, firman Allah SWT yang diturunkan kepada nabi kita Muhammad selama 23 tahun. Ia adalah kitab suci umat Islam yang merupakan sumber petunjuk dalam beragama dan pembimbing dalam menjalani kehidupan di dunia dan akhirat.

Oleh karena itu, merupakan suatu kewajiban bagi seorang muslim untuk selalu berinteraksi aktif dengan al-Qur`an, menjadikannya sebagai sumber inspirasi, berpikir dan bertindak. Membaca al-Qur`an merupakan langkah pertama dalam berinteraksi dengannya, kemudian diteruskan dengan tadabbur, yaitu dengan merenungkan dan memahami maknanya sesuai petunjuk salafus shalih, lalu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, kemudian dilanjutkan dengan mengajarkannya.

Di samping itu, kita juga dianjurkan menghapalnya dan menjaga hapalan tersebut agar jangan terlupakan, karena hal itu merupakan salah satu bukti nyata bahwa Allah SWT berjanji akan menjaga al-Qur`an dari perubahan dan penyimpangan seperti kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Dan salah satu bukti terjaganya al-Qur’an adalah tersimpannya di dada para penghapal al-Qur’an dari berbagai penjuru dunia, bangsa arah dan ajam (non arab).

Banyak sekali anjuran dan keutamaan membaca al-Qur’an, baik dari al-Qur’an maupun as-Sunnah, di antara perintah membaca al-Qur`an adalah: firman Allah swt:

Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Rabb-mu (al-Qur’an).. (QS. al-Kahfi:27).

Dan firman-Nya:

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (al-Qur’an). (QS. al-’Ankabut:45)

Dan firman-Nya:

Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Rabb negeri ini (Mekah) yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. * Dan supaya aku membacakan al-Qur’an (kepada manusia). “. (QS. an-Naml:91-92)

Adapun di antara keutamaan membaca al-Qur`an dari sunnah Rasulullah SAW adalah:

1. Menjadi manusia yang terbaik:

“Dari Utsman bin ‘Affan rad, dari Nabi saw, beliau bersabda:

‘Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari al-Qur`an dan mengajarkannya.” HR. Al-Bukhari.

2. Kenikmatan yang tiada bandingnya:

Dari Abdullah bin Umar RA, dari Nabi, beliau bersabda:

“Tidak boleh ghibthah (menginginkan sesuatu yang dimiliki orang lain) kecuali dalam dua hal: (pertama) orang yang diberikan Allah SWT keahlian tentang al-Qur`an, maka dia melaksanakannya (membaca dan mengamalkannya) malam dan siang hari. Dan seorang yang diberi oleh Allah SWT kekayaan harta, maka ia infakkan sepanjang hari dan malam.”Muttafaqun alaih.



3. al-Qur`an memberi syafaat di hari kiamat: dari Abu Umamah al-Bahili RA, ia berkata, ‘Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda:

“Bacalah al-Qur`an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat memberi syafaat bagi ahlinya (yaitu orang yang membacanya, mempelajari dan mengamalkannya).” HR. Muslim.

4. Pahala berlipat ganda: dari Ibnu Mas’ud rad, ia berkata, ‘Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari al-Qur`an maka untuknya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipat gandakan dengan sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan ‘alif laam miim’ satu huruf, akan tetapi alif adalah satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf.” HR. At-Tirmidzi.

5. Dikumpulkan bersama para malaikat: dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, ‘Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Orang yang membaca al-Qur’an dan ia mahir dalam membacanya maka ia dikumpulkan bersama para malaikat yang mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang membaca al-Qur`an dan ia masih terbata-bata dan merasa berat dalam membacanya, maka ia mendapat dua pahala.” Muttafaqun ‘alaih.

Inilah sebagian dari anjuran dan keutamaan membaca al-Qur`an, dan yang perlu diingat bahwa pahala membaca al-Qur`an diperoleh bagi siapa pun yang membacanya, walau tidak memahami makna dan tafsirnya. Kendati kalau bisa memahaminya pahalanya tentu lebih baik dan lebih banyak pahalanya. Sebagian ulama menyebutkan beberapa hikmah keistimewaan membaca al-Qur`an yang pahalanya bisa diperoleh kendati tidak memahamainya, di antaranya adalah:

1. Sebagai faktor penting untuk menjaga keutuhan dan keaslian al-Qur`an dari perubahan dan campur tangan manusia, seperti yang menimpa kitab-kitab sebelumnya.
2. Membentuk persatuan kaum muslimin secara bahasa, memperkuat persatuan agama, dan memudahkan sarana komunikasi di antara mereka serta memperkokoh barisan mereka.
3. Sebagai langkah pertama bagi pembaca al-Qur`an untuk tadabbur, memahami dan mengamalkan al-Qur`an.

Salafus shalih dan al-Qur’an:

Berdasarkan anjuran-anjuran dan keutamaan-keutamaan di atas, para salaf sangat bersungguh-sungguh dalam memperbanyak membaca al-Qur`an dan menghapalnya, karena mengharapkan keutamaan dan pahala ini, serta karena cinta terhadap Kitabullah dan mendapatkan kenikmatan dengan membacanya.

Imam Abdurrahman al-Auza’i rahimahullah berlata: ‘Ada lima perkara yang selalu dipegang para sahabat nabi dan para tabi’in yang mengikuti langkah mereka dalam kebaikan: Selalu bersama jama’ah kaum muslimin, mengikuti sunnah, memakmurkan masjid, membaca al-Qur`an dan jihad fi sabilillah.”

Di antara para sahabat yang masyhur selalu bersama al-Qur`an adalah Utsman bin Affan RA, sehingga diriwayatkan bahwa beliau pernah berkata: ‘Jikalau hati kamu bersih niscaya kamu tidak pernah kenyang dari Kalamullah.”

Di antaranya lagi adalah Abdullah bin Amar bin Ash rad, seperti yang diriwayatkan dalam shahih tentang dialognya bersama Rasulullah SAW, hingga akhirnya Rasulullah SAW memintanya agar membaca dan mengkhatamkan al-Qur`an dalam tujuh hari.

Para salaf rahimahullah merasakan ketenangan dan kenikmatan saat membaca al-Qur`an, karena ia adalah Kalamullah yang tidak pernah bosan membacanya dan tidak pernah jemu mendengarnya. Allah SWT menghilangkan rasa jemu dan bosan dari pembaca dan pendengarnya dengan keikhlasan dan kebenaran iman, untuk memudahkan membaca dan mendengarnya. Firman Allah SWT:

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran (QS. al-Qamar:17)

Inilah rahasia perkataan Utsman bin Affan RA: ‘Jikalau hati kamu bersih niscaya kamu tidak pernah kenyang dari Kalamullah.” Itulah penyebab mereka selalu membaca al-Qur`an dan menjaga hizib mereka. Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: “Carilah kenikmatan dalam tiga perkara: shalat, al-Qur`an dan doa. Jika kamu mendapatkannya maka pujilah Allah SWT atas hal itu, dan jika kamu tidak mendapatkannya maka ketahuilah bahwa pintu kebaikan telah ditutup atasmu.”

Para salaf selalu berpegang teguh terhadap sunnah nabawiyah dalam berbagai aspek kehidupan mereka, tanpa terkecuali dalam hal membaca al-Qur`an. Abul ‘Aliyah ar-Rayahi berkata: “Kami adalah budak yang dimiliki orang, di antara kami ada yang membayar dharibah, ada pula yang melayani keluarganya. Kami mengkhatamkan al-Qur`an setiap malam, maka hal itu terasa berat bagi kami. Lalu kami mengkhatamkan setiap dua malam, ternyata juga merasa berat. Lalu kami mengkhatamkan setiap tiga malam, lalu kami merasa berat, sehingga kami saling mengeluh satu sama lain. Kami menemui Rasulullah SAW, maka beliau mengajarkan kepada kami agar mengkhatamkan setiap jum’ah, maka kami bisa shalat dan tidur, dan kami tidak merasa berat.”

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “Sepantasnya seseorang menjaga rutinitas dan memperbanyak membaca al-Qur`an. Para salaf mempunyai kebiasaan yang bervariasi dalam mengkhatamkan al-Qur`an. Ibnu Abi Daud meriwayatkan dari sebagian salaf bahwa di antara mereka ada yang mengkhatamkan setiap dua bulan, ada yang setiap bulan, ada yang setiap sepuluh hari. Dan dari sebagian mereka ada yang mengkhatamkan setiap delapan hari, dan dari kebanyakan mereka adalah mengkhatamkan al-Qur`an setiap tujuh malam. Dan dari sebagian mereka ada yang mengkhatamkan setiap tiga hari. Dan yang terbaik bahwa hal itu berbeda menurut tugas dan kewajiban seseorang.

Apabila dengan pelan ia bisa memahami makna dan tafsirnya secara baik, maka hendaklah ia membaca menurut kadar yang ia bisa mendapatkan kesempurnaan pemahaman yang dia baca. Demikian pula orang yang sibuk menyebarkan ilmu (mengajar, berdakwah dan sejenisnya) maka hendaklah membatasi diri agar tidak mengurangi tugas utamanya. Dan jika bukan seperti golongan di atas dan tidak punya tugas yang lain, maka hendaklah ia memperbanyak membacanya sebatas kemampuannya yang tidak menyebabkan rasa bosan.

Ibnu Abbas RA berkata: ‘Kalau bukan karena kemudahan yang diberikan Allah SWT kepada manusia niscaya tidak ada seorang pun yang bisa membaca Kalamullah.Dan di antara kemudahannya adalah mudah dibaca dan menghapalnya.

Di antara keutamaan menghapal al-Qur`an adalah hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas RA, ia berkata, ‘Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya orang yang tidak ada sedikitpun al-Qur`an di dalam rongganya, ia seperti rumah yang runtuh.

Dan Beliau mengutamakan di antara para sahabatnya menurut kadar hapalan al-Qur`an mereka, apabila mengutus pasukan beliau mengangkat imam dalam shalat bagi yang paling banyak hapalannya, mengedepankan di liang lahat bagi yang paling banyak hapalannya. Maka banyak sekali dorongan dan motivasi untuk lebih giat menghapal al-Qur`an. Memang tidak disebutkan secara pasti berapa jumlah sahabat yang hapal al-Qur`an, namun cukup sebagai bukti banyak yang hapal al-Qur`an, bahwa dalam perang Yamamah telah terbunuh tujuh puluh orang sahabat yang hapal al-Qur`an.

Di antara contoh penghapal al-Qur`an dari para sahabat, hadits Ibnu Mas’ud RA, ia berkata: ‘Aku hapal dari mulut Rasulullah SAW lebih dari tujuh puluh surah.”

Demikianlah sebagian di antara keutamaan membaca dan menghapal al-Qur’an, semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin.