Tampilkan postingan dengan label Yusuf Mansur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yusuf Mansur. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 April 2010

SMS Tanya Jawab Ustadz Yusuf Mansur

Assalamu'alaykum wr wb. maaf sblumnya kalo saya ganggu. sbenernya sy mau
tanya sm UYM tp sy gak tau telpnya, jd lwt mbak aja ya.. knapa ya mbak stlh kami
mjlni riyadhoh 40hr spt saran UYM justru keuangan kami jd tdk tlalu baik. uang
invest batubara mandeg & smkn gak jelas, bisnis yg lain jg mlh ditipu org. apa ada
yg salah ya mbak? apa yg hrs kami lakukan? walaupun kami tau ini ujian dr Allah.
tolong tanyakan ke UYM ya mbak.. wassalam-jbn

(-) InsyaAllah ga ada yg sia2. Apalagi riyadhah. Di dalam surah al Kahfi, di
pertengahan, ada ayat yg sangat meyakinkan: Innalladziina aamanuu wa 'amilush
sholihaati innaa laa nudhii'u ajro man ahsana 'amalaa; sesungguhnya, orang2 yang
percaya kepada Allah dan melakukan amal2 saleh, Kami tidak akan menyia2kannya. Ok,
positif aja ya ke Allah nya. Saya doakan semoga semua berlalu dg ujungnya adalah
ujung kebaikan. Kalau soal ujian, para nabi pun mendapatkan ujian. Juga saya. Ga
kira2 ujiannya. Banyak fitnah dan bahkan persoalan financial. Tapi saya percaya
Allah tidak akan membebani kepada kita sesuatu yang tidak sanggup kita pikul.
Sebagai ibrah, coba buka2 surah al baqarah: 212. Salam, Yusuf Mansur.



(+) 08188xxxx:
Asslmkm ustadz....pada waktu minggu yg lalu sy menyaksikan dan menyimak tayangan ttg
matematika sedekah....sy sgt tertarik dan berniat peeeeengeennn skali menjalankan
ibadah sedekah yg ustadz jabarkan....pertanyaan sy bgmana
caranya,syaratnya,aturanny
a...dll menjalankan matematika sedekah itu?trus siapa saja
yg berhak mendptkan sedekah dari kita?....apakah boleh sy memberikan sedekah kpada
karyawan sy?mengingat sy belum bisa memberikan mereka gaji yg besar....krena
Alhamdllah sy skarang sedang merintis perusahaan sy sendiri....mohon arahan dan
tuntunannya pak ustadz......,wasslmmm...

(-) Karyawan tuh diajarkan shalat tepat waktu, ajarkan qabliyah ba'diyah, ajarkan
dhuha, ajarkan puasa senen kamis. Ajarkan ibadah dan memperbaiki ibadah. Ajarkan
juga ttg keyakinan, iman, aqidah akhlak, dan fiqh ibadah. Undang guru/ustadz
setempat u/ ngajar. Ini adalah sedekah antum ke karyawan. Dan insyaAllah kebersamaan
dlm ibadah akan membuat perusahaan antum jadi maju. Soal sedekah, ke orang lain aja.
Tapi kalau mau sedekah ke keluarga sendiri dan ke karyawan sendiri, ga apa2 juga.
Sesungguhnya, kalau setiap orang mengurusi sebaik2nya keluarga dan orang2 deketnya,
maka makmur juga nih Indonesia. Salam.

Tehnik Asyik Menghafal Al Qur'an

Murajaah lebih utama dari pada menghafal. Tips ini sangat penting diperhatikan. Kadang, kita lebih banyak berusaha menambah hafalan baru sementara hafalan lama terbiarkan begitu saja. Muraja’ah (upaya mengulang-ulang hafalan) sebaiknya dilakukan dengan bantuan teman seprofesi, artinya kita sama-sama murajaah dengan teman yang berniat juga untuk menghafal Qur’an. Dengan bantuan kaset rekorder dan atau audio dijital berformat MP3 pun sangat banyak diminati oleh para calon-calon penghafal Qur’an. Mengulang-ulang hafalan harus dijadikan rutinitas yang utama ketimbang menambah hafalan baru.

Jangan bergerak! Ya, jangan bergerak menuju hafalan baru bila hafalan lama atau hafalan yang baru saja dihafal belum benar-benar mantap di dalam memori kita. Beberapa orang hafidzh Qur’an yang pernah penulis temui mengatakan, usahakan menghafal ayat ibarat menghafal Al fatihah, seperti lancarnya kita membaca Al fatihah. Teksnya tidak lupa meskipun kita tidak terlalu konsentrasi untuk mengucapkannya. Gampang-gampang susah kan?

Raih kondisi yang OK. Perhatikan waktu-waktu yang baik untuk menghafal. Biasanya, banyak para penghafal Qur’an mengkhususkan waktu-waktu tertentu untuk menghafal dan mengkhususkan waktu yang lain untuk sekedar mengulang hafalannya. Tetap istiqomah dengan waktu tersebut, insya Allah bisa! Selain itu, mood juga sangat berpengaruh. Ketika waktu menghafal Qur’an bertepatan pada saat mood belum baik/mendukung, maka tangguhkan dulu. Sebab mood, kata para pakar kejiwaan, berhubungan dengan suasana pikiran (ingatan). Ketika sedang mood sedih, kita cenderung mengingat dan merekam hal-hal yang berhubungan dengan kesedihan, begitu juga sebaliknya. Untuk itu perhatikanlah mood pada saat menghafal Qur’an. Jika moodnya tidak mendukung, jangan bergerak, diam sejenak sampai mood untuk menghafal hadir kembali..

Milikilah bekal teoritis. Di sini penulis menganjurkan kepada para sahabat yang berkeinginan atau berminat menghafal Qur’an, menghafal ala kadarnya, separuh atau seluruhnya. Perlunya kita memiliki bekal teoritis tentang Al Qur’an. Yang dimaksudkan di sini adalah ilmu-ilmu tentang Qur’an (‘ulumul qur’an), dasar-dasar memahami tafsir Qur’an, asbabun nuzul juga penting. Mengapa perlu? Sebab hal ini sangat dibutuhkan dalam mempertahankan semangat, mood, serta mempermudah untuk menghafal Al Qur’an.

Keterampilan Bahasa Qur’an. Bahasa Qur’an berbeda dengan bahasa Arab. Walaupun demikian, ketika kita ingn memahami bahasa Qur’an terlebih dahulu kita harus memahami bahasa arab, minimal beberapa kaidah yang digunakan sebagai modal untuk menghafal Qur’an. Salah satu kajian dalam bahasa arab adalah ilmu nahwu dan sharaf. Dengan memahami ilmu nahwu dan sharaf ini, insya Allah menghafal Qur’an lebih mudah… Setelah penulis coba, sekali saja, sedikit, eh... ternyata dahsyat! Muraja’ahnya nyaman dengan bekal si nahwu dan sharaf...

Terjemah secara lafzhiyah sangat membantu. Inilah yang dirasakan penulis ketika dulu pernah mencoba-coba menghafal Qur’an. (Memang, sekarang semangat menghafal ana sudah kendor, wallahu a’lam). Disarankan, belajarlah tentang cara-cara menerjemahkan Al Qur’an secara lafzhiyah untuk membantu menghafal (saja!!!). Keterampilan menerjemah secara lafzhiyah tidak boleh digunakan dalam memahami atau menggali kandungan Al Qur’an secara sembaran. Mengapa? Aduh… penulis kurang tahu ya..., tanya ‘Ulama donk… Bagi penulis, keterampilan menerjemah sangat membantu untuk mempermudah menghafal, mempermudah. TITIK.

Irama itu penting sobat! Milikilah irama. Itulah cara beberapa orang untuk mengingat ayat-ayat tertentu atau seluruhnya. Irama yang digunakan untuk menghafal Qur’an sebaiknya spesifik. Seharusnya iramanya juga spesifik untuk setiap orang, untuk setiap surah, bahkan kalau memungkinkan untuk setiap bagian hafalan dari surah tertentu… Hal ini sangat membantu di dalam mengingat hafalan. Makanya tak sedikit para hufadzh memiliki irama khas. Memiliki irama, sebenarnya mudah. Boleh menggunakan irama khas pribadi, boleh juga mengikuti irama murattal dari syaikh timur tengah, atau siapa aja deh... Asal jangan irama rock dangdut. (Afwan, bercanda). Cukup dengan sering mendengarkan irama murattal, insya Allah, kita lebih muda meniru iramanya.

SMS Tanya Jawab Ust Yusuf Mansur

Assalammualaikum wr wb ust,sy sedih ust,bingung hrs bgmn,mau curhat dgn Allah tp sdg
tdkbs..jd sy ptskn cerita dgn ust,tdk mengapa bg sy jk ust tdk bls,krn sy tau ust
pasti sibuk bgt,yg pntg beban sy aga bkurang stlh bcerita.. Ust,sy sbagai istri yg
pny 1keinginan u/suami(ingin suami bs kuliah lg)berusaha menjalankn apa yg ust
suruh,qobliah badiyah,dhuha,tahajud(walau1-2hr suka bolong),sadaqoh,puasa
senenkmis,bc AlQuran(walau tdk byk tp sy bc),sy jg ikhlaskn mtr u/disedekahkn(walau
blm tlaksana) krn inget dgn matematika yg sll ust ajarkan. Smua sy lakukn
demisuami..tp ust apa balasan dr suami;-(;-( dia gpnah tahajud,sll ada alesan g mau
sholat jamaah ke mesjid(jamaah hny sm sy dirmh),gpnah qobliyah,tkdg cemberut/berat
hati sy sodaqoh.jk sy tdk bs sholat spt skr,mashaallah ust,dia spt gaingat wkt
sholat,bolong2nya makin parah,uda3hr dia meninggalkn subuh,duha..sy malu ust,malu pd
Allah SWT, sbnrny skr sholatnya sdh lmyn dibandingkn dulu yg hmpr tdk pnah sholat,sy
hrs menangis mmohon br dia sholat,rasanya skr dia spt gada beban mninggalkn sholat.. Jujur hub kami jg krg baik hmpr tiap hari kami btengkar,kt2 kasar,binatang,sumpah serapah sll sy dngar,sy
sdh tdk sanggup lg ust,menerima kekasarnnya hargadiri sy tll srg diinjak2,dihancurkn
bahkn dia mlakukn ddpn anak2.. Tkdg sy ingin mengakhiri perkawinan ini,baru sadar
stlh7,5th bhub,hmp6th pnikahn,sy salah mmilih imam,sy lelah dr dulu menunggu dia
u/jd imam yg sbnr2nya imam dlm klrg.. Mhon klo ust ada wkt bls sms sy,mhon
petunjuk,meski sy pun tak lelah mmohon ptunjuk dr Allah SWT u/mberikn jalan klrnya..
Wassalammualaikum wr wb..e-di-kalimantan.

(-) Teruuuusss aja begitu. Ga usah putus asa. InsyaAllah akan ada masa titik balik
dan peningkatan. Amin. Saya punya sahabat yang menjadi salah satu pimpinan pondok,
malah parah. 6th hidup jauh dari Allah. Tapi dia nyimpen istri yang salehah, yang
tahan banting. Terus menerus mendoakan dan menyhalatkan suaminya. Hingga kemudian
suaminya itu bangkrut. Dalam bangkrutnya, suami itu lalu berduka, sedih, dan tambah
hilang kendali lagi. Namun sang istri dengan kepositifannya, memandang bahwa itu
tanda2 bahwa Allah sedang "bekerja" mengembalikan suaminya. Hingga suatu saat
suaminya mendengar scr tdk sengaja ceramah salah satu ustadz terkenal di negeri ini.
Saat itulah hatinya terbuka, menjadi lembut, dan rakus akan ilmu dan dakwah.
Subhaanallaah, sekarang malah mimpin pesantren dan lembaga dakwah. Jadi, terus saja
ya.



Bila dlm 1bl belom berhasil, 1th. Jika 1th blm brhasil, 2th dan seterusnya. Jika
ketemu keadaan yang malah parah sekalipun, seperti kondisi suami tsb, maju aja
terus. Senantiasa ttp positif. Bayangkan ya? Jika dua2nya tidak positif? Wuah, kira2
apa yang akan trjadi? Yang satu ibadah terus, yang satu maksiat terus, atau
setidaknya, tidak ibadah. Bukannya malah menemukan kejayaan, malah keterpurukan.
Namun siapa sangka, itu adalah titik baliknya. Salam dan doa buat ibu dan suami,
serta keluarga. Semoga doa berpulang kembali buat saya, istri dan keluarga. Amin.

Hukuman Bagi yg Tidak Berzakat

Hadis riwayat Abu Zar ra., ia berkata: Aku menghampiri Nabi saw. yang sedang duduk di bawah bayang-bayang Kakbah. Ketika beliau melihatku beliau bersabda: Mereka benar-benar merugi, demi Tuhan Kakbah! Kemudian aku duduk, tetapi tidak tenang, maka aku segera bertanya: Wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, siapakah mereka? Rasulullah saw. menjawab: Mereka adalah orang-orang yang paling banyak harta, kecuali yang berkata begini, begini dan begini (beliau memberi isyarat ke depan, ke belakang, ke kanan dan ke kiri). Mereka yang mau berbuat demikian sangat sedikit. Setiap pemilik unta atau sapi atau kambing yang tidak mau membayar zakatnya, pasti nanti pada hari kiamat, hewan-hewan itu akan datang dalam keadaan lebih besar dan lebih gemuk dari sebelumnya, menanduki pemiliknya dengan tanduk-tanduknya dan menginjak-injak dengan telapak kaki-telapak kakinya. Setiap kali yang lain telah selesai, datang lagi yang pertama sampai diputuskan di hadapan seluruh manusia. (Shahih Muslim No.1652)

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Bahwa Nabi saw. bersabda: Tidak akan membuat aku senang jika aku mempunyai emas sebesar gunung Uhud, bahkan ditambah lagi (gunung) kedua dan ketiga, kecuali satu dinar milikku yang aku sisakan untuk membayar utang tanggunganku. (Shahih Muslim No.1653)

Rasulullah Saw mengecam dengan begitu kerasnya bagi orang-orang Muslim yang memiliki harta yang berlimpah ruah, namun enggan membayar zakatnya untuk membantu saudara-saudaranya yang berada dalam lilitan kesulitan. Mereka menumpuk harta hanya untuk kesenangan pribadinya. Tetapi melalaikan perintah Allah dan Rasul-Nya.



Dalam hadits di atas betapa sangat jelas sabda Rasulullah Saw yang menyatakan bahwa orang-orang yang memiliki harta yang banyak, namun enggan untuk membayar zakat adlah orang-orang yang sangat merugi. Rasulullah Saw menggambarkan dengan sebuah ilustrasi nanti di hari kiamat, orang-orang yang memiliki unta, sapi, kambing yang tidak membayar zakatnya, hewan-hewan tersebut akan datang dengan keadaan yang lebih besar dan gemuk dari waktu di dunia. Kemudian hewan-hewan itu akan menanduki pemiliknya yang enggan membayar zakat dan menginjak-injak dengan telapak kakinya. Kejadian itu akan terus-menerus terjadi, karena setiap yang satu selesai akan datang yang lainnya lagi.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ia mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Tidak seorang pun yang memiliki emas dan perak yang tidak membayar zakatnya, kecuali nanti di hari kiamat, akan dipanaskan sebuah lembaran besi di api neraka lalu disetrikakan ke badan, dahi dan punggungnya. Bila sudah dingin, akan dipanaskan kembali secara terus menerus di hari yang panas terik yang lamanya sama seperti 50 ribu tahun, sampai selesai diputuskan nasib semua manusia, di saat itu masing-masing dapat melihat nasibnya apakah ke surga atau ke neraka." (H.R. Muslim).

Demikianlah keadaan orang-orang yang enggan membayar zakat. Karena syariah zakat memang sangat kental dengan dimensi sosial, yang ternyata saat ini zakat sangat dibutuhkan oleh kaum yang tidak mampu, karena himpitan ekonomi yang terjadi saat ini. Wallaahu a’lam.

Pengemis, preman, anak kecil dan Orang Kaya

Suatu hari dalam perjalanan pulang menggunakan bis jurusan Senen-Cikokol, aku duduk dibangku nomer dua belakang pak sopir (biasanya lebih sering berdiri berdesak-desakan). Seperti biasa, alunan gitar akustik dan nyayian seniman jalanan ibu kota selalu menghibur gendang telinga para penumpang yang penat kerja seharian . Kalau di hitung-hitung, ada tiga hingga lima pengamen naik turun bis menjajakkan hiburan terbaiknya, ada yang berpuisi, lagu pop-rock terbaru, nasyid, dangdut, bahkan nyayian kidung rohani gereja. “Sambung menyambung seperti pulau Indonesia, jadi jangan bosan ya!,” kata pengamen menjelaskan.

Ada juga yang berlagak seperti preman, meminta uang tanpa sajian hiburan apapun, kata-katanya mengancam. “Dari pada saya menodong, mencuri, menjambret, lebih baik saya terus terang pada om, tante, bapak, ibu. Dengan sumbangan seratus limaratus, seribu dua ribu berarti anda telah mengurangi angka kriminal di Jakarta,” kata salah seorang dari mereka. Yang terakhir ini membuat saya jadi eneg, dan males merogoh kantong untuk berpartisipasi walau hanya gope.

Di hari yang lain, seorang anak laki-laki kecil, berwajah kusam, kulitnya (gelap) terbakar matahari menggendong (mungkin) adiknya. Dengan memelas dia berdiri didepan memperkenalkan diri. “Para penumpang yang budiman, bantulah kami untuk membelikan susu adik saya, ayah meninggal, kami tidak bisa beli susu. Tolonglah pak-bu, om-tante, kakak biar adik saya tidak nangis terus…” kemudian dia duduk bersimpuh sambil mengangkat tangan kanannya, “Saya Apandi bersumpah bahwa apa yang saya katakan benar. Kalau saya berbohong biarlah saya mati dipinggir jalan,”

Setelah berprolog tentang kemalangan nasib, sambil mengelus-elus kepala adiknya, sesekali adiknya menangis, ia mengeluarkan kantong permen Relaxa, dan mulai mengedarkan dari penumpang satu ke penumpang yang lain. Saya perhatikan, hanya satu-dua penumpang yang menyumbang.. Sepertinya para penumpang “tidak” tersentuh oleh aksi eksploitasi ketidakberdayaan anak laki-laki kecil itu. Melihat kejadian itu hatiku menjadi gelisah, ada pertanyaan besar di dalam diriku, mungkinkah anak belasan tahun itu hanya dimanfaatkan oleh sindikat tertentu untuk dijadikan mesin uang dengan menampilkan wajah papa dan kepolosannya?. Mungkin sebagian besar penumpang sudah tau dari media massa tentang fatwa MUI soal keharaman memberi sumbangan di jalanan?

Mengapa sih hanya untuk membeli sebungkus nasi atau susu harus merendahkan harga diri dengan mengeksploitasi kemiskinan dan bersumpah serapah? Apa tidak ada jalan lain untuk menjemput rezeki? Alangkah baiknya jika berkarya ala musisi jalanan, karena saya perhatikan pengamen yang mendendangkan sholawat Nabi, Opick, atau nasyid ala Raihan lebih disukai dan diminati penumpang dari pada harus mengumpat atau memelas. Apalagi bis Senen-Cikokol sering dihinggapi pengamen gereja dengan mendendangkan kidung gereja yang sangat mengganggu gendang telinga saya yang sangat sensitif (maaf ya pengamen gereja?). Logika ideologi lebih dikedepankan sehingga setiap kali ada pengamen yang melantunkan nasyid Opick atau Raihan, para penumpang dari deret bangku depan sampai belakang suka ria memenuhi kantong permen Kopiko dengan limaratus-seribu.“Ini pertarungan ideology bung!”. Kecamuk hati saya.

Duhai anak kecil, janganlah kau umbar kemiskinan. Cobalah berkarya yang lebih bermakna. Pasti para penumpang akan berempati kepadamu!. Ingatlah nak, di antara mulainya tujuan yang diinginkan Syariat Islam adalah, membangun mental seorang Muslim untuk tidak suka meminta-meminta, dan memelihara air mukanya dari kehinaan akibat mengemis. Inilah pancaran aqidah Islam yang begitu murni dan sangat indah, sehingga Islam selalu mengaitkan antara seorang Muslim dengan Allah Yang Maha Kuasa. Baik dalam kelapangan atau kesempitan, dalam kesusahan atau kemudahan, dalam kondisi semangat atau benci.



Aaah…saya jadi ter-ngiang-ngiang nasehat teman perjalanan saya (baca buku), dalam buku “65 Kisah Teladan Pemuda Islam yang Brilyan” karya Muhamad Sulthan, dalam buku ini diceritakan bahwa, suatu hari ada orang kaya masuk masjid untuk melaksanakan sholat, dia termasuk orang yang sholeh, lalu dia melihat seorang anak kecil yang berumur tidak lebih dari 12 tahun sedang berdiri mengerjakan sholat dengan khuyu’. Tatkala anak itu selesai dari sholatnya mendekatlah si kaya seraya bertanya kepadanya,
“Anak siapa kamu?”
“Aku anak yatim, aku kehilangan ayah da ibuku,”
“Maukah kau jadi anakku?”
Si anak berkata, “Kau bisa memberiku makanan dan pakaian. Tapi apakah engkau akan menghidupkan aku tatkala aku sudah mati?

Takjublah lelaki itu seraya berkata, “Ini tidak mungkin dilakukan!”. Anak kecil itu berkata, “Kalau begitu, tinggalkanlah aku bersama Dzat Yang telah menciptakan aku, memberiku rezeki, mematikan aku dan menghidupkan aku kembali,”. Lelaki itu berkata kepada si anak, “Benar wahai anakku! Barang siapa yang bertawakal kepada Allah, pasti dia mencukupinya.”

Antara anak laki-laki pengemis dengan anak kecil di masjid. Mereka anak zaman berbeda, dilahirkan dalam suhu peradaban yang berbeda. Tapi sama-sama dalam kondisi yatim dan papa. Saya jadi manggut-manggut untuk menyimpulkan, untuk menjemput rezeki cukuplah izzah dan ketakwaan, dengan izzah seseorang lebih bermartabat, dengan ketakwaan seorang muslim akan berusaha dan bertawakal. Untuk sebungkus nasi tidak usahlah menghinakan diri!.

Bagaimana mengajarkan Anak Bersedekah

Awal mengajarkan anak bersedekah, khususnya anak usia dini adalah dengan keteladanan. Anak diajarkan untuk bisa bersedekah kepada fakir miskin. Orang tua yang mengajari anak, dan cukup mengatakan ini sedekah. Karena mungkin anak kecil belum tahu apa makna sedekah lebih dalam. Ia hanya tahu kalau ada peminta-minta maka orang tuanya memberikan uang misalnya 500 atau 1000. Sedikit-sedikit ketika anak sudah mulai isa diajarkan berkomunikasi, maka kita mengenalkan makna sedekah. Bahwa Nabi Saw mengajarkan kita untuk bersedekah, bahwa sedekah itu berpahala dan Allah mencintai orang-orang yang bersedekah. Orang yang bersedekah akan mendapatkan balasan pahala yang berlipat ganda di akhirat. Akhirnya anak akan mengenal kebiasaan bersedekah dan tidak pelit atau sulit menyedekahkan sebagian hartanya. Kalau ia punya uang jajan, ia tidak sulit menyedekahkan uang jajannya. Kalau dia tidak punya uang kita juga bisa mengajarkan untuk mengatakan tidak, maaf pak/bu sedang tidak ada uang. Pada pendidikan prabaligh, usia SD kita sudah bisa mengenalkan lebih jauh tentang sedekah. Kita mengajarkan tentang Infaq. Bahwa ada infaq yang wajib dan ada infaq yang sunnah. Infaq wajib apa saja, diantaranya menafkahi keluarga dan berzakat, infaq yang sunnah adalah sedekah. Tetapi sedekah ini sudah menjadi kebiasaan baik yang mudah dilakukan seorang anak, karena dia sudah biasa melakukannya sejak kecil. Yaitu menjalankan sunnah bersedekah. Targetnya adalah ia menjadi orang yang mudah mengorbankan hartanya

Bagaimana bila anak sulit berbagi?

Kalaupun ada anak yang kategorinya sulit berbagi, maka dengan pengajaran bersedekah ini akan lebih cepat terindikasi. Misalnya, ketika dia tidak mau mengorbankan uang jajannya selain untuk jajan. Maka ini indikasi anak tidak mudah mengorbankan harta. Saya juga pernah meminta tolong seorang anak kecil memberikan sedekah kepada pengemis di luar, dia mengatakan yang 500 buat aku ya. Waktu itu sedekahnya 1000. Ini menunjukkan dia belum otomatis memberikan sedekah dengan mudah. Tapi insya Allah dengan pembiasaan yang baik dan runtin anak akan berubah. Kepada anak yang sulit mengorbankan harta kita bisa memberikan pemahaman bagaimana kelebihan-kelebihan orang yang suka bersedekah.

Pada anak-anak dengan rasa pemilikan tinggi, apakah mereka ini bisa diajarkan mudah bersedekah? Insya Allah bisa, asalkan orang tua intensif memperhatikan masalah ini. Saya pernah melihat seorang anak dengan rasa memiliki yang tinggi. Tetapi karena dia telah dibiasakan bersedekah,maka ia tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk bersedekah. Di sisi lain, ketika bukan sedang bersedekah maka dia sangat pandai menjaga dan mengembangkan hartanya. Sebenarnya ini sifat yang baik yang akan menguatkan seorang muslim. Ketika dia berbisnis, maka dia optimalkan kemampuannya untuk berbisnis. Mengembangkan harta dengan cara yang halal. Ketika ia bersedekah, maka ia tidak segan-segan mengorbankan hartanya dijalan kebaikan. Sebagaimana yang terjadi pada sahabat Abudrrahman bin Auf yang kaya raya karena pandai berdagang dan Allah melimpahinya kekayaan yang mengalir. Ia juga sangat banyak berinfaq, baik infaq yang wajib seperti zakat dan menafkahi kerabat atau infaq yang sunnah seperti sedekah. Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa Aisyah mendengar ada suara gaduh di madinah, sehingga bertanya ada apa ini? Orang-orang menjelaskan : Unta-unta Abdurrahman bin Auf baru datang dari syam dan membawa dagangannya. Dituturkan bahwa unta-unta tersebut sekitar tujuh ratus ekor. Madinah sangat ramai saat itu. Aisyah berkata: Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: Aku melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan cara merangkak. Perkataannya itu sampai ke Abdurrahman. Ia berkata: Seandainya memungkinkan aku ingin masuk surga dengan berjalan. Setelah itu ia menginfaqkan seluruh hasil perdagangannya saat itu. Itu jumlah yang sangat besar. Selain Abdurrahman bin Auf, juga ada sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq dan Utsman bin Affan, para sahabat yang kaya raya tetapi sangat-sangat mudah bersedekah.



Seringkali sekarang peminta-minta itu terorganisir dan belum tentu mereka miskin, apakah ini tidak menghambat keinginan kita untuk bersedekah?

Sedekah adalah sedekah. Ketika ada orang meminta, maka kalau kita memberi itu berpahala. Kecuali bila secara zhahir kita tahu hasil sedekah itu akan digunakan untuk berbuat maksiat. Maka lebih baik tidak diberikan. Tetapi apapun yang kita berikan secara ikhlas akan berpahala. Dan Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan amalan kita. Untuk itu memang harus dipisahkan tentang bagaimana solusi terhadap orang yang suka meminta-minta karena terorganisir atau profesi dengan sedekah kita. Jangan sampai analisa-analisa kita yang bisa jadi sebagian hanya sumsi akan menghalangi kita berbuat baik. Kalaupun ketahuan bahwa ternyata mereka tidak miskin dan hanya sekedar meminta-minta untuk menumpuk kekayaan, maka sedekah kita yang ikhlas tidak akan sia-sia dan selanjutnya kita akan bisa bersedekah secara jelas kepada fakir miskin. Sementara di sis lain kita juga perlu menegakkan amar ma’ruf nahi munkar kepada mereka yang mencari kekayaan dengan cara itu. Bisa menyampaikan kepada pemerintah atau para tokoh masyarakat yang bisa memberikan jalan keluar. Tetapi yang terbaik adalah terus menerus menegakkan dakwah utuk mengubah sistem yang kapitalistik seperti ini, karena hal tersebut juga bersumber dari kehidupan yang kapitalis dan sekularis. Dengan kehidupan Islam, insya Allah masalah-masalah semacam itu juga akan terselesaikan

Sholat Berjama'ah VS Kecantikan Dunia

Suatu ketika khalifah Abu Bakar Ash-shiddiq radhiyallahu ’anhu saat berangkat menuju masjid untuk mengimami sholat melewati rumah putera beliau, Abdullah bin Abu Bakar radhiyallahu ’anhuma yang masih berstatus penganten baru. Baru beberapa bulan ia menikah dengan wanita sholehah nan cantik jelita bernama ’Atikah radhiyallahu ’anha. Ketika beliau lewat di depan rumah anaknya terdengar suara senda gurau antara suami isteri penuh kecintaan. Lalu ia berlalu dengan harapan anaknya akan segera menyusul ke masjid bergabung dengan orang-orang beriman melaksanakan sholat fardhu berjamaah. Begitu selesai mengimami sholat yang pertama kali ia cari di tengah jamaah yang sholat di belakangnya adalah anaknya, Abdullah radhiyallahu ’anhu. Satu per satu ia teliti, berkali-kali ia cari tidak ditemukan anaknya di sana.

Ketika pulang, Abu Bakar Ash-shiddiq radhiyallahu ’anhu kembali berlalu melewati rumah anaknya, sekali lagi ia dapati senda gurau, suasana penuh keceriaan, kebahagiaan, ketenteraman antara sepasang suami-isteri yang baru memasuki pelaminan, masih terdengar oleh beliau dari luar rumah. Berkali-kali Abu Bakar Ash-shiddiq radhiyallahu ’anhu ber-istighfar, dia ketuk pintu rumah anaknya dengan pelan...

Abdullah radhiyallahu ’anhu, anaknya, membuka pintu. Begitu terkejut ia ketika mendapati ayahnya di depan rumahnya. ’Atikah radhiyallahu ’anha juga begitu terperangah ketika menyadari bahwa yang datang adalah mertuanya.

Abu Bakar Ash-shiddiq radhiyallahu ’anhu mengatakan kepada Abdullah radhiyallahu ’anhu serta isterinya ’Atikah radhiyallahu ’anha: ”Wahai anakku Abdullah, kamu dapatkan kebahagiaan duniawi dengan isterimu, tapi engkau lalaikan jihad, engkau telah lalai terhadap perintah-perintah Allah subhaanahu wa ta’aala, engkau telah lalaikan sholat berjamaah.



Wahai menantuku ’Atikah, engkau tidak bisa membahagiakan anakku. Kecantikanmu, keikhlasanmu untuk berbakti kepada suamimu menyebabkan dia lalai menegakkan sholat berjamaah.

Hari ini, wahai anakku Abdullah, aku minta kau ceraikan isterimu, pisahkan dia dari tempat tinggalmu..! Talak dia dan perlakukan dia sebagaimana wanita-wanita lainnya..!”

Pucat pasi kedua pengantin baru tersebut. Akhirnya Abdullah radhiyallahu ’anhu menceraikan ’Atikah radhiyallahu ’anha. Waktu terus berjalan semenjak perceraian antara mereka berdua. Satu hari perceraian mereka, dua hari, tiga hari, satu pekan, dua pekan, Abu Bakar Ash-shiddiq radhiyallahu ’anhu melihat penderitaan mereka. Penderitaan suami yang mencintai isteri yang telah ia ceraikan. Penderitaan seorang isteri yang telah diceraikan suami yang ia cintai.

Kemudian Abu Bakar Ash-shiddiq radhiyallahu ’anhu memanggil anaknya Abdullah radhiyallahu ’anhu dengan berkata: ”Aku minta kamu rujuk kembali dengan mantan isterimu, ’Atikah. Saya izinkan kamu mengembalikan dia sebagai isterimu dengan harapan kamu jadikan ini sebagai pelajaran kecintaan kepada jihad fi sabilillah di atas kecintaanmu kepada siapapun, termasuk kepada isterimu ’Atikah.”

Ya Allah, ya Rahmaan ya Rahiim, jadikanlah kecintaan kami kepada sholat berjamaah di masjid laksana kecintaan kami kepada Engkau, RasulMu dan al-Jihad fii sabilillah yang lebih kami cintai dari apapun dan siapapun di dunia yang fana ini. Amin

Tips DAHSYAT Rosulullah SAW agar Rumah Tangga Tetap Romantis

Pertama : Ngasihin Hadiah

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda : Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling cinta mencintai".

Memberi hadiah merupakan salah satu bentuk perhatian seorang suami kepada istrinya, atau istri kepada suaminya. Terlebih bagi istri, hadiah dari suami mempunyai nilai yang sangat mengesankan. Hadiah tidak harus mahal, tetapi sebagai simbol perhatian suami kepada istri.

Seorang suami yang ketika pulang membawa sekedar oleh-oleh kesukaan istrinya, tentu akan membuat sang isteri senang dan merasa mendapat perhatian. Dan seorang suami, semestinya lebih mengerti apa yang lebih disenangi oleh isterinya. Oleh karena itu, para suami hendaklah menunjukkan perhatian kepada istri, diungkapkan dengan memberi hadian meski sederhana.

Kedua : Bercengkrama duduk2 santai

Jangan sampai antara suami istri sibuk dengan urusannya masing-masing, dan tidak ada waktu untuk duduk ngobrol bareng

Satu kisah Ada seorang pemuda tidak memperlakukan isteri dengan baik. Yang menjadi penyebabnya, karena ia sibuk menghabiskan waktunya untuk berbagai pekerjaan yang berhubungan dengan studi dan lainnya, sehingga meninggalkan isteri dan anak-anaknya dalam waktu lama. Masalah ini ditanyakan kepada Syaikh, apakah diperbolehkan sibuk menuntut ilmu dan sibuk beramal dengan resiko mengambil waktu yang seharusnya dikhususkan untuk isteri?
tidak ragu lagi, bahwa wajib atas suami untuk memperlakukan isterinya dengan baik berdasarkan firman Allah:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

"Pergaulilah mereka dengan baik" [An Nisa`: 19]

Juga sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Abdullah bin ‘Amr bin Ash, yaitu manakala sahabat ini sibuk dengan shalat malam dan sibuk dengan puasa, sehingga lupa dan lalai terhadap isterinya, maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata:

"Puasalah dan berbukalah. Tidur dan bangunlah. Puasalah sebulan selama tiga hari, karena sesungguhnya kebaikan itu memiliki sepuluh kali lipat. Sesungguhnya engkau memiliki kewajiban atas dirimu. Dirimu sendiri memiliki hak, dan engkau juga mempunyai kewajiban terhadap isterimu, juga kepada tamumu. Maka, berikanlah haknya setiap orang yang memiliki hak" [Muttafaqun ‘alaihi].

Banyak hadits yang menunjukkan adanya kewajiban agar suami memperlakukan isteri dengan baik. Oleh karena itu, para pemuda dan para suami hendaklah memperlakukan isteri dengan baik, berlemah-lembut sesuai dengan kemampuan. Apabila memungkinkan untuk belajar dan menyelesaikan tugas-tugasnya di rumah, maka lakukanlah di rumah, sehingga, disamping dia mendapatkan ilmu dan menyelesaikan tugas, dia juga dapat membuat isteri dan anak-anaknya senang. Kesimpulannya, adalah disyariatkan atas suami mengkhususkan waktu-waktu tertentu, meluangkan waktu untuk isterinya, agar sang isteri merasa tentram, memperlakukan isterinya dengan baik; terlebih lagi apabila tidak memiliki anak.

Rasululah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (artinya) :
Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik di antara kalian terhadap keluarganya. Dan saya adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap keluargaku.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (artinya) :
Orang yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya di antara mereka. Dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap isteri-isteri kalian. [Diriwayatkan oleh Tirmidzi]

Sebaliknya, seorang isteri juga disyariatkan untuk membantu suaminya, misalnya menyelesaikan tugas-tugas studi ataupun tugas kantor. Hendaklah dia bersabar apabila suaminya memiliki kekurangan karena kesibukannya, sehingga kurang memberikan waktu yang cukup kepada isterinya.

Berdasarkan firman Allah, hendaklah antara suami dan isteri saling bekerjasama:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

"Tolong-menolonglah kalian di atas kebaikan dan takwa".

Juga berdasarkan keumuman sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:

وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ


Untuk para isteri, bisa juga mengoreksi diri mereka. Mungkin di antara sebab suami tidak kerasan di rumah karena memiliki isteri yang sering marah, selalu bermuka masam dan ketus apabila berbicara.

Ketiga : Wajah yg cerah

Di antara cara untuk mempererat cinta kasih, hendaklah menampakkan wajah yang ceria. Ungkapan dengan bahasa wajah, mempunyai pengaruh yang besar dalam kegembiraan dan kesedihan seseorang. Seorang isteri akan senang jika suaminya berwajah ceria, tidak cemberut. Secara umum Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَحْقِرَنَّ مِنْ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْق

"Sedikit pun janganlah engkau menganggap remeh perbuatan baik, meskipun ketika berjumpa dengan saudaramu engkau menampakkan wajah ceria" [HR Muslim]

Begitu pula sebaliknya, ketika suami datang, seorang isteri jangan sampai menunjukkan wajah cemberut atau marah. Meskipun demikian, hendaknya seorang suami juga bisa memahami kondisi isteri secara kejiwaan. Misalnya, isteri yang sedang haidh atau nifas, terkadang melakukan tindakan yang menjengkelkan. Maka seorang suami hendaklah bersabar.

Kasus lainnya :

"Suami saya -semoga Allah memaafkan dia-, meskipun dia berpegang teguh dengan agama dan memiliki akhlak yang tinggi serta takut kepada Allah, tetapi dia tidak memiliki perhatian kepada saya sedikit pun. Jika di rumah, ia selalu berwajah cemberut, sempit dadanya dan terkadang dia mengatakan bahwa sayalah penyebab masalahnya.

Tetapi Allah-lah yang mengetahui bahwa saya –alhamdulillah- telah melaksanakan hak-haknya. Yakni menjalankan kewajiban saya sebagai isteri. Saya berusaha semaksimal mungkin dapat memberikan ketenangan kepada suami dan menjauhkan segala hal yang membuatnya tidak suka. Saya selalu sabar atas tindakan-tindakannya terhadap saya.

Setiap saya bertanya sesuatu kepadanya, dia selalu marah, dan dia mengatakan bahwa ucapan saya tidak bermanfaat dan kampungan. Padahal perlu diketahui, jika kepada teman-temannya, suami saya tersebut termasuk orang yang murah senyum. Sedangkan terhadap saya, ia tidak pernah tersenyum; yang ada hanyalah celaan dan perlakuan buruk. Hal ini menyakitkan dan saya merasa sering tersiksa dengan perbuatannya. Saya ragu-ragu dan beberapa kali berpikir untuk meninggalkan rumah.

jadi apabila saya meninggalkan rumah dan mendidik sendiri anak-anak saya dan berusaha mencari pekerjaan untuk membiayai anak-anak saya sendiri, apakah saya berdosa? Ataukah saya harus tetap tinggal bersama suami dalam keadaan seperti ini, (yaitu) jarang berbicara dengan suami, (ia) tidak bekerja sama dan tidak merasakan problem saya ini?"

jawabannya “gak diragukan lagi, bahwa kewajiban atas suami isteri ialah bergaul dengan baik dan saling menampakkan wajah penuh dengan kecintaan. Dan hendaklah berakhlak dengan akhlak mulia, (yakni) dengan menampakkan wajah ceria, berdasarkan firman Allah:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

"Pergaulilah mereka dengan baik". [An Nisa` : 19].

Juga dalam surat Al Baqarah ayat 228:

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ

"Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf, akan tetapi, para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isteri".

Arti kelebihan disini, secara umum laki-laki lebih unggul daripada wanita. Tetapi nilai-nilai yang ada pada setiap individu di sisi Allah, tidak berarti laki-laki pasti derajatnya lebih tinggi. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.

Dan berdasarkan sabda Nabi:

الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ

"Kebaikan itu adalah akhlak yang baik". [HR Muslim].

Dan berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :

لَا تَحْقِرَنَّ مِنْ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

"Sedikitpun janganlah engkau menganggap remeh perbuatan baik, meskipun ketika berjumpa dengan saudaramu engkau menampakkan wajah ceria".[HR Muslim]

Juga berdasarkan sabda Nabi:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا

"Orang yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya di antara mereka. Dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap isteri-isteri kalian".[Diriwayatkan oleh Tirmidzi].

Ini semua menunjukkan, bahwa motivasi berakhlak yang baik dan menampakkan wajah ceria pada saat bertemu serta bergaul dengan baik kepada kaum Muslimin, berlaku secara umum; terlebih lagi kepada suami atau isteri dan kerabat.

Oleh karena itu, engkau telah berbuat baik dalam hal kesabaran dan ketabahan atas penderitaanmu, yaitu menghadapi kekasaran dan keburukan suamimu. Saya berwasiat kepada dirimu untuk terus meningkatkan kesabaran dan tidak meninggalkan rumah di karenakan hal itu. Insya Allah akan mendatangkan kebaikan yang banyak. Dan akibat yang baik, insya Allah diberikan kepada orang-orang yang sabar. Banyak ayat yang menunjukan, barangsiapa yang bertakwa dan sabar, maka sesungguhnya balasan yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa. Dan sesungguhnya Allah akan memberi ganjaran yang besar tanpa hisab kepada oraang-orang yang sabar.

Tidak ada halangan dan rintangan untuk bercanda dan bergurau, serta mengajak bicara suami dengan ucapan-ucapan yang dapat melunakkan hatinya, dan yang dapat menyebabkan lapang dadanya dan menumbuhkan kesadaran akan hak-hakmu. Tinggalkanlah tuntutan-tuntutan kebutuhan dunia (yang tidak pokok) selama sang suami melaksanakan kewajiban dengan memberikan nafkah dari kebutuhan-kebutuhan yang pokok, sehingga ia menjadi lapang dada dan hatinya tenang. Engkau akan merasakan balasan yang baik, insya Allah. Semoga Allah memberikan taufiq kepada dirimu untuk mendapatkan kebaikan dan memperbaiki keadaan suamimu. Semoga Allah membimbingnya kepada kebaikan dan memperbaiki akhlaknya. Semoga Allah membimbingnya untuk dapat bermuka ceria dan melaksanakan kewajiban-kewajiban kepada isterinya dengan baik. Sesungguhnya, Allah adalah sebaik-baik yang diminta, dan Dia adalah pemberi hidayah kepada jalan yang lurus. [Dinukil dari buku Fatawa Islamiyyah].

Ini menunjukkan, bahwa seorang wanita diperbolehkan untuk mengeluh dan menyampaikan problemnya kepada orang yang alim, atau orang yang dianggap bisa menyelesaikan masalahnya. Hal ini tidak sama dengan sebagian wanita yang sering, atau suka menceritakan rahasia rumah tangganya, termasuk kelemahan dan keburukan suaminya kepada orang lain, tanpa bermaksud menyelesaikan masalahnya.

Sehubungan dengan permasalahan ini, Syaikh ‘Utsaimin mengatakan, bahwa apa yang disampaikan oleh sebagian wanita, yang menceritakan keadaan rumah tangganya kepada kerabatnya, bisa jadi (kepada) orang tua isteri atau kakak perempuannya, atau kerabat yang lainnya, bahkan kepada teman-temannya, (hukumnya) adalah diharamkan. Tidak halal bagi seorang wanita membuka rahasia rumah tangganya dan keadaan suaminya kepada seorang pun. Karena seorang wanita yang shalihah ialah, yang bisa menjaga dan memelihara kedudukan martabat suaminya. Nabi n telah memberitakan, seburuk-buruk manusia kedudukannya di sisi Allah pada hari Kiamat ialah, seorang laki-laki yang suka menceritakan keburukan isterinya, atau seorang wanita yang menceritakan keburukan suaminya.



Meski demikian, jangan dipahami bahwa secara mutlak seorang wanita tidak boleh menceritakan keburukan seorang suami. Karena, pada masa Nabi pun ada seorang wanita yang datang kepada Rasulullah n dan berkata: “Ya, Rasulullah. Suami saya adalah orang yang kikir, tidak memberikan nafkah yang cukup bagi saya. Bolehkah saya mengambil darinya tanpa sepengetahuannya untuk sekedar mencukupi kebutuhan saya dan anak saya?”

Mendengar penuturan orang ini, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab:

خُذِي مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ

"Ambillah nominal yang mencukupi kebutuhanmu dan anakmu". [Muttafaqun ‘alaihi]

Keempat : Memberikan Penghormatan Dengan Hangat Kepada Pasangannya.
Memberikan penghormatan dengan hangat kepada pasangannya, baik ketika hendak pergi keluar rumah, ataupun ketika pulang. Penghormatan itu, hendaklah dilakukan dengan mesra.

Dalam beberapa hadits diriwayatkan, ketika hendak pergi shalat, Rasulullah n mencium isterinya tanpa berwudhu lagi dan langsung shalat. Ini menunjukkan, bahwa mencium isteri dapat mempererat hubungan antara suami isteri, meluluhkan kebekuan ataupun kekakuan antara suami isteri. Tentunya dengan melihat situasi, jangan dilakukan di hadapan anak-anak.

Perbuatan sebagian orang, ketika seorang isteri menjemput suaminya yang datang dari luar kota atau dari luar negeri, ia mencium pipi kanan dan pipi kiri di tempat umum. Demikian ini tidak tepat.

Memberikan penghormatan dengan hangat tidak mesti dengan mencium pasangannya. Misalnya, seorang suami dapat memanggil isterinya dengan baik, tidak menjelek-jelekkan keluarganya, tidak menegur isterinya di hadapan anak-anak mereka. Atau seorang isteri, bila melakukan penghormatan dengan menyambut kedatangan suaminya di depan pintu. Apabila suami hendak bepergian, istri menyiapkan pakaian yang telah diseterika dan dimasukkannya ke dalam tas dengan rapi.

Suami hendaknya menghormati isterinya dengan mendengarkan ucapan isteri secara seksama. Sebab terkadang, ada sebagian suami, jika isterinya berbicara, ia justru sibuk dengan hand phone-nya mengirim sms atau sambil membaca koran. Dia tidak serius mendengarkan ucapan isteri. Dan jika menanggapinya, hanya dengan kata-kata singkat. Jika isteri mengeluh, suami mengatakan “hal seperti ini saja dipikirkan!”

Meskipun sepele atau ringan, tetapi hendaklah suami menanggapinya dengan serius, karena bagi isteri mungkin merupakan masalah yang besar dan berat.

Kelima : Hendaklah Memuji Pasangannya.

Di antara kebutuhan manusia adalah keinginan untuk dipuji -dalam batas-batas yang wajar. Dalam masalah pujian ini, para ulama telah menjelaskan, bahwa pujian diperbolehkan atau bahkan dianjurkan dengan syarat-syarat : untuk memberikan motivasi, pujian itu diungkapkan dengan jujur dan tulus, dan pujian itu tidak menyebabkan orang yang dipuji menjadi sombong atau lupa diri.

Abu Bakar As Siddiq Radhiyallahu 'anhu pernah dipuji, dan dia berdo’a kepada Allah: “Ya, Allah. Janganlah Engkau hukum aku dengan apa yang mereka ucapkan. Jangan jadikan dosa bagiku dengan pujian mereka, jangan timbulkan sifat sombong. Jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangka, dan ampunilah aku atas perbuatan-perbuatan dosa yang mereka tidak ketahui”.

Perkatanan ini juga diucapkan oleh Syaikh Al Albani ketika beliau dipuji-puji oleh seseorang di hadapan manusia. Beliau rahimahullah menangis dan mengucapkan perkataan Abu Bakar tersebut serta mengatakan: “Saya ini hanyalah penuntut ilmu saja”.

Seorang isteri senang pujian dari suaminya, khususnya di hadapan orang lain, seperti keluarga suami atau isteri. Dia tidak suka jika suami menyebutkan aibnya, khususnya di hadapan orang lain. Jika masakan isteri kurang sedap jangan dicela.

Keenam : Bersama-Sama Melakukan Tugas Yang Ringan.

Di antara kesalahan sebagian suami ialah, mereka menolak untuk melakukan sebagian tugas di rumah. Mereka mempunyai anggapan, jika melakukan tugas di rumah, berarti mengurangi kedudukannya, menurunkan atau menjatuhkan kewibawaannya di hadapan sang isteri. Pendapat ini tidak benar.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan tugas-tugas di rumah, seperti menjahit pakaiannya sendiri, memperbaiki sandalnya dan melakukan tugas-tugas di rumah. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan terdapat dalam Jami’ush Shaghir. Terlebih lagi dalam keadaan darurat, seperti isteri sedang sakit, setelah melahirkan. Terkadang isteri dalam keadaan repot, maka suami bisa meringankan beban isteri dengan memandikan anak atau menyuapi anak-anaknya. Hal ini, disamping menyenangkan isteri, juga dapat menguatkan ikatan yang lebih erat lagi antara ayah dan anak-anaknya.

Ketujuh : Ngucap yg bener

Kalimat yang baik adalah kalimat-kalimat yang menyenangkan. Hendaklah menghindari kalimat-kalimat yang tidak menyenangkan, bahkan menyakitkan.

Seorang suami yang menegur isterinya karena tidak berhias, tidak mempercantik diri dengan celak dimata, harus dengan ucapan yang baik.

Misalnya dengan perkataan : “Mengapa engkau tidak memakai kacamata?”

Isteri menjawab dengan kalimat yang menyenangkan : “Kalau aku memakai kacamata, akan mengganggu mataku untuk melihat wajahmu”.

Perkataan yang demikian menunjukkan ungkapan perasaan cinta isteri kepada suami. Ketika ditegur, ia menjawab dengan kalimat menyenangkan.

Berbeda dengan kasus lain. Saat suami isteri berjalan-jalan di bawah bulan purnama, suami bertanya : “Tahukah engkau bulan purnama di atas?”

Mendengar pertanyaan ini, sang isteri menjawab : “Apakah engkau lihat aku buta?”

Kedelapan : Rekreasi Berdua Tanpa Membawa Anak.

Rutinitas pekerjaan suami di luar rumah dan pekerjaan isteri di rumah membuat suasana menjadi jenuh. Sekali-kali diperlukan suasana lain dengan cara pergi berdua tanpa membawa anak. Hal ini sangat penting, karena bisa memperbaharui cinta suami isteri.

Kita mempunyai anak, lantas bagaimana caranya? Ini memang sebuah problem. Kita cari solusinya, jangan menyerah begitu saja.

Bukan berarti setelah mempunyai anak banyak tidak bisa pergi berdua. Tidak! Kita bisa meminta tolong kepada saudara, kerabat ataupun tetangga untuk menjaga anak-anak, lalu kita dapat pergi bersilaturahmi atau belanja ke toko dan lain sebagainya. Kemudian pada kesempatan lainnya, kita pergi berekreasi membawa isteri dan anak-anak.

Kesembilan :Respek ngehargain
Rasulullah bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

"Perumpamaan kaum mukminin antara satu dengan yang lainnya itu seperti satu tubuh. Apabila ada satu anggota tubuh yang sakit, maka anggota tubuh yang lain pun ikut merasakannya sebagai orang yang tidak dapat tidur dan orang yang terkena penyakit demam".

Ini berlaku secara umum kepada semua kaum Muslimin. Rasa empati harus ada. Yaitu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, termasuk kepada isteri atau suami. Jangan sampai suami sakit, terbaring di tempat tidur, isteri tertawa-tawa di sampingnya, bergurau, bercanda. Begitu pula sebaliknya, jangan sampai karena kesibukan, suami kemudian kurang merasakan apa yang dirasakan oleh isteri.

Kesepuluh : Perlu Adanya Keterbukaan.

Keterbukaan antara suami dan isteri sangat penting. Di antara problem yang timbul di keluarga, lantaran antara suami dan isteri masing-masing menutup diri, tidak terbuka menyampaikan problemnya kepada pasangannya. Yang akhirnya kian menumpuk. Pada gilirannya menjadi lebih besar, sampai akhirnya meledak.

Jodoh yang berakhlak menuai Rumah Tangga Sakinah

Saya sering melihat rubrik kontak jodoh di salah satu media cetak di Ibukota. Bukan, Bukan karena saya berniat ingin mencari jodoh lagi, tapi hanya sekedar iseng yang benar-benar iseng. Siapa tahu ada teman yang mengiklankan diri di situ, kan bisa jadi bahan ledekanku untuknya. Salah satu contoh isi iklan perjodohan yang sering kulihat itu adalah seperti ini misalnya: Seorang wanita, 25 tahun, Sarjana, tinggi badan 160 cm, bb 43 kg, berkulit putih mulus, wajah manis, Islam, pintar mengaji, keibuan dan Pandai Memasak Mendambakan: Seorang laki-laki, perjaka tulen, minimal 26 tahun, lulusan pasca sarjana, berpenghasilan tetap (swasta/PNS), tinggi badan minimal 170 cm dengan berat badan seimbang, Islam taat, Pandai mengaji dan bersifat kebapakan.

Coba kita lihat iklan tersebut, dan perhatikanlah. Niscaya kita akan menemukan sebuah fakta bahwa seorang wanita pada umumnya menginginkan pasangan (calon suami) yang memiliki spesifikasi yang lebih baik dari spesifikasi yang dimilikinya. Baik itu dari segi fisik, tingkat pendidikan atau hal-hal kasat mata lainnya. Menurut saya hal ini sangat wajar. Karena bagaimanapun juga seorang lelaki akan menjadi pemimpin dalam sebuah rumah tangga, jadi semakin bagus kualitasnya akan semakin baik bagi keluarganya kelak. Begitu kondisi idealnya.

****

Kembali kepada kisah Pak Asmadi dan isterinya, saya menjadi tersadarkan bahwa ternyata tidak semua wanita melihat kualitas calon suami hanya dari kasat mata yang tampak saja. Rasa penasaran saya muncul menggelitiki hati, membuat saya secara diam-diam ingin menyelidiki apa alasan Isteri Pak Asmadi begitu bangga dan mencintai suaminya yang ”hanya” seorang tukang ojeg dan hanya berpendidikan setingkat SLTA.

Sementara isterinya adalah wanita karir yang sukses yang memiliki pendidikan dan jabatan yang tinggi. Tidak ada rasa malu padanya akan ”kesenjangan” itu. Suatu hari dalam perjalanan menuju kantor, Pak Asmadi mengajukan sebuah pertanyaan pada saya



”Mbak, tahu ngga resep saya supaya tidak pernah mengalami kecelakaan di jalan atau supaya tidak pernah kena razia polisi jalan?” Saya pura-pura berpikir lantas menjawab ”hmm... tidak tahu pak, apa resepnya?” ”Berdzikir mbak..” jawabnya. ”Berdzikir itu mengingat kepada Allah, bisa dilakukan di mana saja, kalau kita sehabis melaksanakan sholat baik itu sholat fardhu atau shola sunnah, usahakan jangan langsung kAsmadir dan berdiri, dzikirlah terlebih dahulu.

Dzikir juga tidak hanya dilakukan setelah sholat, tapi bisa di mana saja, termasuk di jalan raya ketika mengendarai sepeda motor seperti saya ini” ”Bapak rajin ber-dzikir? ” saya bertanya untung memancing. “Alhamdulilah mbak, setiap selesai sholat saya selalu berdzikir, bahkan dalam perjalanan saya dari rumah sampai ke stasiun saya juga selalu berdzikir, kalau tidak salah ada dalam Al-quran perintah untuk mengingat Allah dalam keadaan duduk maupun beridir, itu artinya dalam keadaan apapun kita harusnya selalu mengingat Allah kan mbak?”

“Iya, betul pak, Berdzikir dengan mengingat Allah membuat hati kita merasa tenang dan tentram, itulah mungkin yang membuat Bapak jadi tidak pernah mengalami kecelakaan saat mengendaria sepeda motor, karena saat itu Bapak berdzikir sehingga pikiran dan hati Bapak menjadi tenang, berkendaraan pun jadi tenang “ jawabku menyimpulkan. Ternyata dari Pak Asmadi, terdapat banyak hikmah. Saya bisa memunguti hikmah-hikmah itu untuk diri saya. Sekaligus menyadari bahwa Pak Asmadi ternyata orang yang taat beragama lagi berakhlak mulia, wajarlah jika sang isteri begitu mencintainya.

***

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasullullah pernah bersabda ”Jika datang kepada kalian orang laki-laki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya maka nikahkanlah dia, karena jika tidak maka akan menjadi fitnah di bumi dan juga kerusakan.” Para sahabat bertanya, ”Wahai Rasulullah, meskipun pada diri orang tersebut terdapat kekurangan?” Beliau menjawab, ”Jika ada orang laki-laki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian, maka nikahkanlah dia” Artinya, jika kalian tidak menikahkan orang laki-laki yang taat beragama lagi berakhlak mulia meskipun tidak kaya atau tidak terhormat atau tidak kufu’, sedang kalian lebih menyukai orang laki-laki yang kaya, terhormat, lagi terpandang meskipun tidak taat beragama dan tidak berakhlak mulia, niscaya hal tersebt akan mengakibatkan kerusakan yang parah.

Mungkin akan banyak wanita yang hiduo tanpa suami dan banyak pula laki-laki yan hidup tanpa isteri. Akhirnya banyak perzinaan san tersebar pula perbuatan keji. Rasulullah SAW menyebutkan akhlak bersaaan dengan agama, karen akhlak berperan sangat penting sekali dalam kehidupan rumah tangga.

Akhirnya muncul kesan bahwa tingkah laku bururk itu disebabkan oleh agama. Padahal yang demikian itu merupakan keyakinan yang salah, karena Agama memerintahkan untuk mempergauli isteri secara baik.

***

Kini terjawablah sudah rasa kepenasaran saya. Isteri Pak Asmadi ternyata benar-benar telah menjalankan sabda Rasullullah SAW tersebut. Menentukan suami pilihannya adalah seorang yang taat beragama dan berakhlak mulia meskipun tidak kaya, tidak terhormat atau tidak se kufu’ dengannya. Satu pelajaran berharga yang bisa saya ambil darinya.

Orang-orang yg Di Do'akan Malaikat

Allah berfirman, yang artinya ,”…yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka (malaikat) dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan “, (At-Tahrim : 6).

Sesungguhnya makhluk mulia ini (malaikat) selalu beristighfar untuk memohon ampunan kepda Allah untuk hamba-hamba-Nya yang beriman. Agar Allah mengampuni kesalahan – kesalahan dan dosa-dosa manusia .
Sebagaimana firman-Nya, yang artinya ,” Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atas (karena kebesaran Rabb) dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Rabb-nya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi, bahwa sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang , “ (Qs. Asy-Syura : 5 ).

Saudaraku, sungguh beruntung bagi kita , apabila kita termasuk dalam golongan orang-orang yang didoakan makhluk mulia (malaikat) ini.

Sebagaimana firman Allah, yang artinya ,” (Malaikat-malaikat) yang memikul ‘arsy dan malaikat yang berada disekelilingnya bertasbih memuji Rabb-nya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (serta mengucapkan ) ,” Ya Rabb kami , rahmat dan ilmu engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala ,” (Qs. Al-Mukmin : 7).

Saudaraku ,sungguh jangan kita menyia-nyiakan kesempatan berharga ini. Semoga Allah memberi hidayah-Nya kepada kita agar kita bisa termasuk orang-orang yang didoakan malaikat..
Insya Allah berikut inilah orang – orang yang didoakan oleh para malaikat :

1.Orang yang tidur dalam keadaan bersuci . Rasulullah Sallallahualaihiwassalam bersabda, “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci”. (Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

2.Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat .Rasulullah Sallallahualaihiwassalam bersabda, “Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia’” (Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radiyallahuanhu, Shahih Muslim no. 469)

3.Orang yang berada di shaf terdepan di dalam shalat berjamaah . Rasulullah Sallallahualaiwassalm bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang – orang) yang berada pada shaf – shaf terdepan” (Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra’ bin ‘Azib ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

4.Orang menyambung shaf pada sholat berjamaah (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf) . Rasulullah Sallallahualaiwassalm bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang – orang yang menyambung shaf – shaf” (Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

5.Malaikat mengucapkan ‘Amin’ ketika Imam selesai membaca Al Fatihah . Rasulullah Sallallahualaiwassalm bersabda, “Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu”. (Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radiyallahuanu, Shahih Bukhari no. 782)



6.Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat . Rasulullah Sallallahualaiwassalm bersabda, ” Para malaikat akan selalu bershalawat ( berdoa ) kepada salah satu di antara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia’” (Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

7.Orang yang melakukan shalat shubuh dan ‘ashar secara berjama’ah . Rasulullah Sallallahualaiwassalm bersabda, ” Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat’” (Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

8.Orang yang mendoakan saudaranya tanpa diketahui orang yang didoakan itu . Rasulullah Sallallahualaiwassalm bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan’” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda’ radiyallahuanhu, Shahih Muslim no. 2733)

9.Orang – orang yang berinfak . Rasulullah Sallallahualaiwassalm bersabda, “Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit’” (Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

10.Orang yang sedang makan sahur . Rasulullah Sallallahualaiwassalm bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat (berdoa ) kepada orang – orang yang sedang makan sahur” Insya Allah termasuk disaat sahur untuk puasa “sunnah” (Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar radiyallahuanhu, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)

11.Orang yang sedang menjenguk orang sakit . Rasulullah Sallallahualaiwassalm bersabda, “Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh” (Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib ra., Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, “Sanadnya shahih”)

12.Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain . Rasulullah Sallallahualaiwassalm bersabda, “Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain” (Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)

Sibuk Tetap Semangat Menghafal Al Qur'an

Ustadz,Bagaimana metode belajar dan menghafal al-Qur'an sendiri tanpa guru, bila saya ada waktu luang di kantor Lokasi saya di daerah Meruya , dimana lokasi terdekat untuk belajar?

Jawaban

Alhamdulillah, washshslatu wassalamu 'ala Rasulillah wa ba'du.

Bapak Ilham yang dirahmati Allah, belajar dan menghafal Al-Qur'an adalah pekerjaan yang sangat mudah. karena memang ada jaminan dari Allah SWT akan hal itu. kita bisa lihat dalam Al-Qur'an surat Al-Qamar, surat ke 54 ayat 17, 22, 32 dan 40.

"Sungguh telah kami mudahkan Al-Qur'an itu untuk diingat, maka apakah ada orang yang mengambil pelajaran?".

Ayat ini berulangan sampai empat kali, ini adalah sebagai penegasan dari Allah SWT bahwa Al-Qur'an mudah dipelajari, difahami, dihafal bahkan Al-Qur'an mudah diamalkan.

Di zaman modern ini banyak cara untuk bisa mempelajari Al-Qur'an,baik melalui CD, kaset dan lain sebagainya. Dengan demikian tidak ada lagi alasan bagi kita untuk tidak belajar AlQur'an. jadi bapak bisa mendengarkan kemudian mengikuti bacaan dari kaset atau CD tersebut. Bapak juga harus pandai-pandai memanfaatkan waktu luang dengan mendegarkan salah satu tilawah seorang syaikh terkenal. Saat berangkat juga bisa dimanfaatkan untuk mendengarkan tilawah tersebut. Lakukan itu secara berulang-ulang, insya Allah, sedikit demi sedikit bapak akan mampu, namun usaha ini barang tentu hasilnya sangat berbeda dengan orang yang belajar dengan bimbingan seorang guru.

Maka yang harus kita fahami bersama, bahwa belajar Al-Qur’an yang benar adalah harus dengan guru yang mengajari dan membimbingnya. karena dengan demikian dia dapat memperbaikinya bilamana sang murid keliru dalam membaca dan melafazhkan ayat-ayat Al-Qur’an. Karena dengan talaqqi dan musyafaha (menerima pelajaran dengan berhadapan langsung) kepada guru inilah cara yang paling benar. Sebagaimana para Ahlul Qur’an bertalaqqi langsung kepada gurunya, gurungya bertalaqqi kepada gurunya lagi sampai kepada para qari’ dari kalangan Tabi’in, kemudian mereka bertalaqqi kepada qari’ dari kalangan Shahabat RA, kemudian mereka bertalaqqi langsung kepada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bertalaqqi kepada Malaikat Jibril dan malaikat jibril menerima Al-Qur’an dari Allah SWT.

Bila tidak mengganggu konsentrasi bapak dalam bekerja di kantor, bisa saja bapak memanfaatkan sarana teknologi yang ada yang saya sebutkan tadi di atas. Tapi ini semua hanyalah sebagai sarana penunjang bapak dalam belajar Al-Qur'an. Sekali lagi bahwa belajar Al-Qur'an pada hakikatnya harus dengan guru, dan tidak boleh tidak.



Sedikit saran dari saya agar bapak mengumpulkan teman-teman sekantor untuk sama-sama berkomitmen dalam mengahafal Al-Qur'an, kemudian memanggil seorang guru yang bisa datang ke kantor untuk mengajarkan cara membaca dan menghafalkan Al-Qur'an walaupun hanya satu pekan sekali. ini akan lebih baik dari pada belajar Al-Qur'an sama sekali tidak dengan bimbingan guru. kalau ini bisa berlangsung secara kontiniu, insya Allah maka bapak bisa melihat hasilnya sendiri nanti.

Kalau seseorang sudah memiliki niat yang kuat untuk menghafal Al-Quran, maka tidak ada yang dapat menghalanginya untuk terus menghafal. Dan salah satu cara untuk menghafal Al-Quran adalah memulainya dengan yang lebih mudah untuk dihafal, dan tentunya surat-surat pendek itu lebih mudah untuk dihafal, mengapa demikian? selain memang ayat-ayatnya pendek-pendek, dia juga sering dibaca oleh para imam shalat-terutama bagi para imam yang tidak memiliki banyak hafalan- sehingga surat-surat pendek ini akan lebih mudah dihafal.

Cara menghafal surat-surat pendek

Ada banyak cara menghafal surat-surat pendek, diantaranya :
1. Perbanyak mendengar sebelum memulai menghafal, bisa dengan kaset murattal atau mendengarnya dengan khusyu' dari para imam shalat yang kebanyakan dari mereka sering membaca surat-surat pendek dalam shalat maghrib, isya dan subuh. atau yang lebih sering lagi pada saat shalat tarawih di bulan ramadhan, dimana kebanyak imam membaca surat-surat pendek.

2. Perbanyak membaca surat-surat pendek tersebut sehingga ketika kita mulai menghafalnya maka lidah kita sudah akrab dengan ayat-ayat yang akan kita hafal. kemudian setelah kita yakin benar bahwa surat-surat tersebut sudah kita hafal, baru kemudian pindah ke surat berikutnya.

3. Jangan lupa untuk membacanya di hadapan seorang teman yang bacaan atau hafalan Al-Qurannya lebih baik dari kita atau seorang guru tahfizh Al-Quran untuk menyimak hafalan kita, ini harus kita lakukan untuk menghindari salah baca dan salah menghafal.

4. Lakukan pengulangan (muraja'ah) secara teratur, terutama kita baca dalam shalat lima waktu atau dalam shalat sunnah.

5. Usahakan membaca hafalan sesuai dengan urutan yang tercantum di dalam Al-Quran, misalnya kita membaca surat Al-Qari'ah, At-Takatsur kemudian surat Al-'Ashr terus sampai surat An-Nas. sehingga kita mampu mengurutkan hafalan kita sesuai urutan yang ada dalam Al-Quran.

Demikian, mudah-mudahan setelah kita mampu menghafal surat-surat pendek tersebut, membuat kita tertarik untuk menghafal surat-surat panjang sehingga kita dapat merasakan nikmatnya menghafal Al-Quran.

Pembaca Al Qur'an dan Buah harum berasa Lezat

Membaca Al Quran termasuk amal yang sangat mulia, dan Allah menjanjikan pahala yang berlipat ganda bagi yang melakukannya. Seorang mukmin akan menjadikan Al Quran sebaik-baik bacaan di kala senang maupun susah, gembira ataupun sedih. Malahan membaca Al Quran bukan saja menjadi amal ibadah, tetapi juga menjadi penawar/obat bagi jiwa (Q.S. Fushshilat :44)

Dimanakah letak keutamaan atau kelebihan martabat orang yang membaca Al Quran?

* Rasulullah menyatakan dengan 4 perumpaman „ Perumpamaan orang Mu’min yang membaca Al Qur’an adalah seperti Bunga Utrujjah (baunya harum dan rasanya lezat), orang mukmin yang tak suka membaca Al Qur’an adalah seperti Buah Kurma (baunya tidak begitu harum, tapi manis rasanya), orang munafiq yang membaca Al Qur’an ibarat Sekuntum Bunga (berbau harum, tetapi pahit rasanya), orang munafiq yang tak suka membaca Al Qur’an tak ubahnya seperti Buah Hanzalah (tidak berbau dan rasanya pahit sekali).(HR.Bukhari & Muslim):

* Ada dua golongan manusia yang sungguh-sungguh orang dengki kepadanya, yaitu orang yang diberi oleh Allah Kitab Suci Al Qur’an ini, dibacanya siang dan malam; dan orang yang dianugerahi Allah kekayaan harta, siang dan malam kekayaannya itu digunakannya untuk segala sesuatu yang diridhai Allah“ (HR. Bukhari & Muslim).

* Rahmat Allah SWT terhadap orang yang membaca Al Quran sangat besar.seperti dijelaskan oleh Hadist „ kepada kaum yang suka berjamaah di rumah-rumah ibadah, membaca Al Qur’an secara bergiliran dan mengajarkannya kepada sesama, akan turunlah kepadanya ketenangan dan ketentraman, akan terlimpah kepadanya rahmat dan mereka akan dijaga oleh malaikat, dan Allah akan selalu mengingat mereka(Muslim dr. Abu Hurairah).

*Allah menjanjikan pahala yang berlipat ganda bagi orang yang membaca Al Quran, seperti yang di katakan oleh Ali bin Abi Thalib: 50 x kebajikan dari tiap-tiap huruf yang diucapkannya, yaitu orang yang membaca Al Quran dalam shalat, 25x kebajikan, yaitu membaca Al Quran diluar sholat dengan berwudhu’, 10 x kebajikan, yaitu: membaca Al Qur’an diluar sholat dengan tidak berwudhu’)

Mendengarkan bacaan Al Quran

Mendengarkan orang membaca Al Quran pahalanya sama dengan orang yang membacanya. Tentang pahala orang mendengarkan bacaan Al Quran (QS. 7 :204)

Semakin sering orang membaca dan mendengarkannya, semakin tertarik hatinya kepada Al Quran. Apalagi jika Al Quran dibaca dengan lidah yang fasih, suara yang baik & merdu akan lebih berpengaruh kepada jiwa yang mendengarkannya. Keadaan orang mukmin tatkala mendengarkan bacaan Al Quran digambarkan pada (QS. 8:2) . Rasulullah pun sangat suka mendengarkan bacaan Al Quran dari orang lain.



Membaca Al Quran sampai khatam

Seorang mukmin yang begitu dalam cintanya kepada Al Quran, ketika ia membaca Al Quran seolah-olah jiwanya mengahadap kehadirat Allah SWT, menerima amanat dan hikmat suci, memohon limpah karunia serta rahmat dan pertolongan-Nya. Sehingga tidak ada suatu kebahagiaan di dalam hatinya , melainkan bila dia dapat membaca Al Quran sampai khatam dengan keikhlasan hati.

Adab Membaca Al Quran

Imam Alghazali didalam kitabnya Ihya Ulumuddin menguraikan bagiamana tatacara membaca Al Quran: Adab batin dan adab lahir

Adab batin yaitu dengan hati dan jiwa: Bagimana cara hati membesarkan kalimat Allah SWT. Dia harus yakin bahwa kalam yang dibacanya adalah bukanlah kalam manusia, melainkan kalam Allah Azza wa Jalla.

Adab lahir:

* disunatkan membaca Al Quran sesudah berwudhu, lalu mengambilnya dengan tangankanan, dan memegangnya dengan ke 2 belah tangan.
*disunatkan membacanya di tempat yang bersih, (surau , rumah mushallah), yang paling utama di Mesjid.
*disunatkan menghadap ke kiblat, khusuk dan tenang, sebaiknya dengan pakaian yang pantas.
*ketika membaca, mulut hendaknya bersih
*Sebelum membaca disunatkan membaca Ta awwudz
*disunatkan membaca Al Quran dengan tartil (Q.S. 73:4)
*bagi orang yang sudah mengerti arti dan maksud ayat-ayat Al Quran disunatkan membacanya dengan penuh perhatian dan pemikiran tentang ayat tsb dan maksudnya.
*disunatkan membaca Al Quran dengan suara yang bagus lagi merdu (Zayyinulquraanabiaswaatik
um)
* Janganlah diputuskan hanya karena hendak berbicara dengan orang lain.

Batas untuk mempelajari Al Quran itu hanya bila seseorang sudah diantar ke liang kubur.

Mengembalikan Cahaya Al Qur'an Kita

Beberapa dekade yg silam,umat Islam memiliki tradisi Qur'an. Itulah harta yg tak ternilai, yaitu sebuah tradisi yg indah,Dimulai diwaktu magrhib dimana anak2,orangtua,para pemuda shalat berjamaah,mengaji dimasjid, suaranya terdengar mengalun mengisi heningnya malam2,Qur'an sbg cahaya,walaupun penerapannya blm menyeluruh, namun sbagian keberkahan-Nya bs menerangi kegelapan. Kegiatan yg diakhiri Isya berjamaah di masjid, Rahmat-Nya pun terasa turun diberbagai penjuru Tanah air di masa itu. Dahulu sangat langka manusia2 di masyarakat yg sakit jiwa, Qur'an menjaga dada2 mereka, diseluruh tanah air saat itu hampir tiada berita anak membunuh orang tuanya, aborsi, frustasi dsb.Dan kini masa itu, tinggal cerita,perlahan Qur'an ditinggalkan, diacuhkan dan tergantikan dgn kegiatan2 yg melalaikan, padahal itulah tradisi kita, tradisi Islam, Tradisi Shalihin,Nabi2 dan Rosul

CEMBURU QUR'AN II :

Dzikir Membaca Al Qur'an, yang membuat Allah bangga didepan para Malaikat-Nya, Itu identitas kita sbg Umat Rosulullah SAW. Masihkah hati kita cinta dgn Al Qur'an yang diperjuangkan oleh Nabi Muhammad SAW dibawah tetesan darah dan air matanya beliau?. Masihkah ada cinta Allah dan Rosul-Nya dihati?,Lalu diManakah kecemburuan itu?. Jangan kita biarkan tradisi Qur'an lenyap, jangan kita biarkan tradisi itu di rampas oleh siapapun dan oleh apapun, Allahuakbar, tegakah kita membiarkan tradisi Qur'an yg indah ini diambil alih oleh tontonan2 yg jauh dr tuntunan?, sampai hatikah kita melihat harta yg sangat berharga itu lenyap ditengah2 umat Islam, yaitu bersama membaca Al Qur'an dmasjid2,setiap hari. Kitalah pembela2 Agama Allah, marilah kita mulai hidupkan tradisi Qur'an, sepenuh hati. Jika benar dihati ini msh ada cinta Qur'an, mari tebarkan tradisi dan pesan ini



CEMBURU QUR'AN III :

Dibalik bencana yang gemanya sampai masyarakat dunia. Allah menitip pesan, salah satunya Tsunami aceh yg menyapu bersih semua bangunan2 kokoh, tetapi masjid2nya tetap berdiri tegak. Arti lahirnya bg yg msh hidup ialah jgn menjauhi Masjid. Masjid didalam hadist,dan Qur'an disebutkan sbg tanda Taqwa hamba2-Nya yg memakmurkannya. Mungkin terlalu banyak diantara kita yg jauh dr Masjid. Tradisi membaca Qur'an di masjid yg telah hilang pd masyarakat. Mungkin Allah ingin kt menghidupkannya kembali. Qur'an adalah petunjuk pd jalan selamat. Di akhirat ia akan datang sbg syafa'at orang2 yg membacanya. 1 huruf nya senilai 10 kebaikan, Masihkah berdalih?,bhw Masjid dan Qur'an adl jalan keselamatan?. Dan pelajaran aceh td. Mari hidupkan Masjid dgn Qur'an, sunnahnya dan ibadahnya, jalan keselamatan hakiki dibanding apapun bentuk kesenangan didunia yg teramat rapuh-kosong

Al Qur'an Keutamaannya Di Dunia dan Akhirat

Al-Qur`an adalah kalamullah, firman Allah SWT yang diturunkan kepada nabi kita Muhammad selama 23 tahun. Ia adalah kitab suci umat Islam yang merupakan sumber petunjuk dalam beragama dan pembimbing dalam menjalani kehidupan di dunia dan akhirat.

Oleh karena itu, merupakan suatu kewajiban bagi seorang muslim untuk selalu berinteraksi aktif dengan al-Qur`an, menjadikannya sebagai sumber inspirasi, berpikir dan bertindak. Membaca al-Qur`an merupakan langkah pertama dalam berinteraksi dengannya, kemudian diteruskan dengan tadabbur, yaitu dengan merenungkan dan memahami maknanya sesuai petunjuk salafus shalih, lalu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, kemudian dilanjutkan dengan mengajarkannya.

Di samping itu, kita juga dianjurkan menghapalnya dan menjaga hapalan tersebut agar jangan terlupakan, karena hal itu merupakan salah satu bukti nyata bahwa Allah SWT berjanji akan menjaga al-Qur`an dari perubahan dan penyimpangan seperti kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Dan salah satu bukti terjaganya al-Qur’an adalah tersimpannya di dada para penghapal al-Qur’an dari berbagai penjuru dunia, bangsa arah dan ajam (non arab).

Banyak sekali anjuran dan keutamaan membaca al-Qur’an, baik dari al-Qur’an maupun as-Sunnah, di antara perintah membaca al-Qur`an adalah: firman Allah swt:

Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Rabb-mu (al-Qur’an).. (QS. al-Kahfi:27).

Dan firman-Nya:

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (al-Qur’an). (QS. al-’Ankabut:45)

Dan firman-Nya:

Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Rabb negeri ini (Mekah) yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. * Dan supaya aku membacakan al-Qur’an (kepada manusia). “. (QS. an-Naml:91-92)

Adapun di antara keutamaan membaca al-Qur`an dari sunnah Rasulullah SAW adalah:

1. Menjadi manusia yang terbaik:

“Dari Utsman bin ‘Affan rad, dari Nabi saw, beliau bersabda:

‘Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari al-Qur`an dan mengajarkannya.” HR. Al-Bukhari.

2. Kenikmatan yang tiada bandingnya:

Dari Abdullah bin Umar RA, dari Nabi, beliau bersabda:

“Tidak boleh ghibthah (menginginkan sesuatu yang dimiliki orang lain) kecuali dalam dua hal: (pertama) orang yang diberikan Allah SWT keahlian tentang al-Qur`an, maka dia melaksanakannya (membaca dan mengamalkannya) malam dan siang hari. Dan seorang yang diberi oleh Allah SWT kekayaan harta, maka ia infakkan sepanjang hari dan malam.”Muttafaqun alaih.



3. al-Qur`an memberi syafaat di hari kiamat: dari Abu Umamah al-Bahili RA, ia berkata, ‘Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda:

“Bacalah al-Qur`an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat memberi syafaat bagi ahlinya (yaitu orang yang membacanya, mempelajari dan mengamalkannya).” HR. Muslim.

4. Pahala berlipat ganda: dari Ibnu Mas’ud rad, ia berkata, ‘Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari al-Qur`an maka untuknya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipat gandakan dengan sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan ‘alif laam miim’ satu huruf, akan tetapi alif adalah satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf.” HR. At-Tirmidzi.

5. Dikumpulkan bersama para malaikat: dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, ‘Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Orang yang membaca al-Qur’an dan ia mahir dalam membacanya maka ia dikumpulkan bersama para malaikat yang mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang membaca al-Qur`an dan ia masih terbata-bata dan merasa berat dalam membacanya, maka ia mendapat dua pahala.” Muttafaqun ‘alaih.

Inilah sebagian dari anjuran dan keutamaan membaca al-Qur`an, dan yang perlu diingat bahwa pahala membaca al-Qur`an diperoleh bagi siapa pun yang membacanya, walau tidak memahami makna dan tafsirnya. Kendati kalau bisa memahaminya pahalanya tentu lebih baik dan lebih banyak pahalanya. Sebagian ulama menyebutkan beberapa hikmah keistimewaan membaca al-Qur`an yang pahalanya bisa diperoleh kendati tidak memahamainya, di antaranya adalah:

1. Sebagai faktor penting untuk menjaga keutuhan dan keaslian al-Qur`an dari perubahan dan campur tangan manusia, seperti yang menimpa kitab-kitab sebelumnya.
2. Membentuk persatuan kaum muslimin secara bahasa, memperkuat persatuan agama, dan memudahkan sarana komunikasi di antara mereka serta memperkokoh barisan mereka.
3. Sebagai langkah pertama bagi pembaca al-Qur`an untuk tadabbur, memahami dan mengamalkan al-Qur`an.

Salafus shalih dan al-Qur’an:

Berdasarkan anjuran-anjuran dan keutamaan-keutamaan di atas, para salaf sangat bersungguh-sungguh dalam memperbanyak membaca al-Qur`an dan menghapalnya, karena mengharapkan keutamaan dan pahala ini, serta karena cinta terhadap Kitabullah dan mendapatkan kenikmatan dengan membacanya.

Imam Abdurrahman al-Auza’i rahimahullah berlata: ‘Ada lima perkara yang selalu dipegang para sahabat nabi dan para tabi’in yang mengikuti langkah mereka dalam kebaikan: Selalu bersama jama’ah kaum muslimin, mengikuti sunnah, memakmurkan masjid, membaca al-Qur`an dan jihad fi sabilillah.”

Di antara para sahabat yang masyhur selalu bersama al-Qur`an adalah Utsman bin Affan RA, sehingga diriwayatkan bahwa beliau pernah berkata: ‘Jikalau hati kamu bersih niscaya kamu tidak pernah kenyang dari Kalamullah.”

Di antaranya lagi adalah Abdullah bin Amar bin Ash rad, seperti yang diriwayatkan dalam shahih tentang dialognya bersama Rasulullah SAW, hingga akhirnya Rasulullah SAW memintanya agar membaca dan mengkhatamkan al-Qur`an dalam tujuh hari.

Para salaf rahimahullah merasakan ketenangan dan kenikmatan saat membaca al-Qur`an, karena ia adalah Kalamullah yang tidak pernah bosan membacanya dan tidak pernah jemu mendengarnya. Allah SWT menghilangkan rasa jemu dan bosan dari pembaca dan pendengarnya dengan keikhlasan dan kebenaran iman, untuk memudahkan membaca dan mendengarnya. Firman Allah SWT:

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran (QS. al-Qamar:17)

Inilah rahasia perkataan Utsman bin Affan RA: ‘Jikalau hati kamu bersih niscaya kamu tidak pernah kenyang dari Kalamullah.” Itulah penyebab mereka selalu membaca al-Qur`an dan menjaga hizib mereka. Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: “Carilah kenikmatan dalam tiga perkara: shalat, al-Qur`an dan doa. Jika kamu mendapatkannya maka pujilah Allah SWT atas hal itu, dan jika kamu tidak mendapatkannya maka ketahuilah bahwa pintu kebaikan telah ditutup atasmu.”

Para salaf selalu berpegang teguh terhadap sunnah nabawiyah dalam berbagai aspek kehidupan mereka, tanpa terkecuali dalam hal membaca al-Qur`an. Abul ‘Aliyah ar-Rayahi berkata: “Kami adalah budak yang dimiliki orang, di antara kami ada yang membayar dharibah, ada pula yang melayani keluarganya. Kami mengkhatamkan al-Qur`an setiap malam, maka hal itu terasa berat bagi kami. Lalu kami mengkhatamkan setiap dua malam, ternyata juga merasa berat. Lalu kami mengkhatamkan setiap tiga malam, lalu kami merasa berat, sehingga kami saling mengeluh satu sama lain. Kami menemui Rasulullah SAW, maka beliau mengajarkan kepada kami agar mengkhatamkan setiap jum’ah, maka kami bisa shalat dan tidur, dan kami tidak merasa berat.”

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “Sepantasnya seseorang menjaga rutinitas dan memperbanyak membaca al-Qur`an. Para salaf mempunyai kebiasaan yang bervariasi dalam mengkhatamkan al-Qur`an. Ibnu Abi Daud meriwayatkan dari sebagian salaf bahwa di antara mereka ada yang mengkhatamkan setiap dua bulan, ada yang setiap bulan, ada yang setiap sepuluh hari. Dan dari sebagian mereka ada yang mengkhatamkan setiap delapan hari, dan dari kebanyakan mereka adalah mengkhatamkan al-Qur`an setiap tujuh malam. Dan dari sebagian mereka ada yang mengkhatamkan setiap tiga hari. Dan yang terbaik bahwa hal itu berbeda menurut tugas dan kewajiban seseorang.

Apabila dengan pelan ia bisa memahami makna dan tafsirnya secara baik, maka hendaklah ia membaca menurut kadar yang ia bisa mendapatkan kesempurnaan pemahaman yang dia baca. Demikian pula orang yang sibuk menyebarkan ilmu (mengajar, berdakwah dan sejenisnya) maka hendaklah membatasi diri agar tidak mengurangi tugas utamanya. Dan jika bukan seperti golongan di atas dan tidak punya tugas yang lain, maka hendaklah ia memperbanyak membacanya sebatas kemampuannya yang tidak menyebabkan rasa bosan.

Ibnu Abbas RA berkata: ‘Kalau bukan karena kemudahan yang diberikan Allah SWT kepada manusia niscaya tidak ada seorang pun yang bisa membaca Kalamullah.Dan di antara kemudahannya adalah mudah dibaca dan menghapalnya.

Di antara keutamaan menghapal al-Qur`an adalah hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas RA, ia berkata, ‘Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya orang yang tidak ada sedikitpun al-Qur`an di dalam rongganya, ia seperti rumah yang runtuh.

Dan Beliau mengutamakan di antara para sahabatnya menurut kadar hapalan al-Qur`an mereka, apabila mengutus pasukan beliau mengangkat imam dalam shalat bagi yang paling banyak hapalannya, mengedepankan di liang lahat bagi yang paling banyak hapalannya. Maka banyak sekali dorongan dan motivasi untuk lebih giat menghapal al-Qur`an. Memang tidak disebutkan secara pasti berapa jumlah sahabat yang hapal al-Qur`an, namun cukup sebagai bukti banyak yang hapal al-Qur`an, bahwa dalam perang Yamamah telah terbunuh tujuh puluh orang sahabat yang hapal al-Qur`an.

Di antara contoh penghapal al-Qur`an dari para sahabat, hadits Ibnu Mas’ud RA, ia berkata: ‘Aku hapal dari mulut Rasulullah SAW lebih dari tujuh puluh surah.”

Demikianlah sebagian di antara keutamaan membaca dan menghapal al-Qur’an, semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin.