Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Mei 2010

Kapan Punya Anak ? Sudah berapa anaknya Bu..?

"Siapa yang tak ingin memiliki anak?" batin saya selalu mengatakan demikian. Sayang memang, mereka tidak pernah tahu, betapa telinga ini rasanya selalu rindu oleh tangisan atau teriakan-teriakan kecil, "Ummi...!" yang akan memanggil saya. Tangan ini rasanya selalu rindu akan dekap tubuh mungil dalam kehangatan balutan selimut kecil. Betapa saya ingin.ingin sekali memiliki buah hati. Suatu harapan yang selalu saya bawa dalam setiap doa.

Sampai suatu ketika, dokter terapi infertilitas saya di akhir pemeriksaan bertanya seperti ini, "Mengapa anda ingin memilki anak?" ucapnya dengan wajah serius. "Ada beberapa pasangan yang berobat ke sini, setelah berhasil memiliki anak malah bercerai karena tidak tahu alasan kenapa ingin memiliki anak," ucapnya melanjutkan. Saya yang tiba-tiba disuguhi pertanyaan seperti ini tentu saja tersentak berusaha mencari jawab. Sungguh, saat itu saya tak bisa menjawab secara spontan kenapa saya ingin memiliki anak.

Dalam perjalanan pulang pun pertanyaan tersebut masih terngiang-ngiang dan bermain dalam benak pikiran. Saya berusaha mencari jawaban atas alasan keinginan dan harapan saya memiliki buah hati.

Saya mulai bertanya pada diri sendiri, "Kenapa saya ingin memiliki anak?" Apakah keinginan ini keluar semata karena rasa egois seorang manusia yang ingin memiliki? Apakah keinginan ini hanya dikarenakan saya sudah mulai jenuh mendengar pertanyaan "Kapan punya anak?" atau pertanyaan sejenis lainnya yang kerap dilemparkan? Apakah keinginan ini karena saya merasa cemburu jika melihat teman-teman yang sudah mulai memiliki satu, dua, tiga.... momongan? Apa sebenarnya tujuan saya memiliki keturunan? Ternyata, saya sukses dengan jawaban buntu disertai kepala pening.

Hingga suatu hari, suami menghadiahkan sebuah buku berjudul "Cara Nabi Mendidik Anak" yang disusun oleh Ir. Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaid. Buku yang memberikan perhatian khusus mengenai Tarbiyah Nabawi lith-Thif (pendidikan Nabi untuk anak), banyak mengungkapkan dunia anak yang belum pernah saya temui. Membaca buku ini, saya hanyut dalam suasana seperti seorang ibu. Ada banyak hal yang semula tidak saya ketahui tertulis di sini, seperti cara efektif membangun jiwa anak, mengembangakan pemikiran anak, meluruskan kesalahan perilaku anak, serta banyak hal lainnya yang membuat saya kadang termangut-mangut sendiri sambil meresapi.



Selesai membaca buku tersebut, saya seolah tersadar bahwa bagi beberapa orang memiliki anak itu mungkin mudah tapi mendidiknya agar selalu terjaga dalam fitrahnya (Islam) tidaklah mudah. Imam Al-Ghazali sendiri dalam risalah Ayuhal Walad pernah mengumpamakan proses tarbiyah anak sebagai ibarat "Usaha petani yang mencabuti duri-duri dan membuang tumbuhan asing dari tanamannya agar tumbuh dengan baik dan sempurna." Ia tidak hanya untuk dilahirkan ke dunia saja, tapi lebih dari itu, ia memiliki hak dan kewajiban yang harus bisa dipenuhi serta didukung oleh orang tua dengan sebaik-baiknya.

Saya mencoba mengubah pola pemikiran. Yang tadinya hanya berorientasi ingin memiliki anak, sedikit demi sedikit mulai membuka pandangan dengan tidak hanya sekedar `ingin` tapi juga harus memilki kesadaran untuk mempersiapkan diri agar dapat menjadi Ibu yang baik. Seorang ibu yang kelak dapat menjadi penenang jiwa sesunguhnya bagi keluarga, yang dapat mengemban amanah berharga dari Allah swt berupa anak-anak serta dapat bertanggung jawab agar anak-anak menjadi abrar (orang-orang yang berbakti). Insya Allah.

Dengan mengubah pola pikir seperti ini, akhirnya saya mendapatkan jawaban untuk sebuah pertanyaan yang diajukan sang dokter di atas. "Mengapa anda ingin memiliki anak?" Jawabannya adalah sebagai istri, saya ingin dapat merasakan satu fase kehidupan yang disebut ibu. Selain itu juga ingin membahagiakan suami dengan menghadirkan cahaya mata, penyejuk hati, meski suami tidak pernah menuntut tentang hal ini. Sebagai umat Rasulullah saw, saya ingin menggembirakan beliau dengan memperbanyak jumlah umatnya. Seperti yang tertulis dalam hadits riwayat Abu Dawud dan Nasa`i, Rasulullah saw bersabda "Nikahilah wanita yang bisa melahirkan banyak anak karena aku akan berbangga dengan kalian kepada umat-umat lain." Sedangkan sebagai hamba Allah swt, saya ingin menjaga kelangsungan keturunan dengan melahirkan generasi-generasi muslim, yang akan bersama-sama berjuang mengagungkan nama Allah swt di muka bumi ini. Insya Allah.

Saya percaya, ini adalah salah satu skenario yang Allah swt berikan untuk menguji kesabaran. Baik saya dan suami, tidak akan pernah berputus asa berdoa meminta diberi kepercayaan untuk memiliki keturunan disertai ikhtiar. Bukankah Rasulullah saw sendiri pernah mengatakan "Janganlah salah seorang dari kamu menyerah dari memohon agar dikarunia anak..."

Akhir-akhir ini, saya mulai terbiasa dengan pertanyaan ataupun percakapan seputar belum adanya buah hati yang dilemparkan pada saya atupun suami. Saya tahu, mereka yang bertanya tidak lebih karena ingin bersimpati ataupun ingin turut membantu memberikan jalan bagi kami yang tengah berikhtiar, meski selama ini mungkin tidak saya sadari. Saya harus bersyukur atas semua keadaan, karena di balik ini tentu akan ada hikmah, sebuah balasan terindah yang telah disiapkan Allah swt.

"Rabbihabliimilladunka dzurriyatan thayyibah, innaka samii `udduaa." Ya Tuhanku berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengarkan do`a. (Doa nabi Zakariya memohon keturunan, QS Al-Imran:38).

Jumat, 23 April 2010

Besarnya harapan & Do'a memiliki buah hati

Sedih dan gelisah rasanya, lebih-lebih ketika orang-orang dekat di sekitar suami istri mulai menyodorkan pertanyaan yang menurut mereka ringan, namun bagi suami istri merupakan pukulan keras, “Kapan bapak menimang cucu? Kapan keponakanku hadir? Sudah sekian tahun kok masih berdua saja?” Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang senada yang mungkin maksud pengucapnya adalah menyemangati atau sekedar pemanis sapaan, tetapi bagi yang bersangkutan, pertanyaan seperti itu bisa menjadi beban yang sangat memberatkan.

Hal semacam itu sangat manusiawi, namun jangan sampai berlebihan sehingga ia menjadi duri dalam rumah tangga yang mungkin mengarah kepada keretakan rumah tangga. Sikapi hal ini dengan wajar dan proporsional.

Pertama: Menyadari bahwa anak-anak adalah pemberian Allah Subhanu waTa’la

Allah Subhanu waTa’ala belum berkenan atau menunda pemberian tersebut karena suatu hikmah bijak yang Dia ketahui dan semoga kita pun berusaha untuk mengetahui. Ada apa dengan diriku sehingga Allah ‘Azza waJalla belum berkenan atau Dia menunda pemberian ini? Bukankah sebagai muslim kita meyakini bahwa apa pun yang Allah Ta’ala berikan kepada kita atau ambil dari kita merupakan kebaikan?

Kedua: Menyadari bahwa anak-anak merupakan ujian dan tanggung jawab yang tidak ringan,

Dengan asumsi bahwa Allah subhanahu wata’ala tidak memberikan anak kepada kita, berarti kita tidak memiliki tanggung jawab terhadapnya, dan ini artinya beban kita lebih ringan.

Ketiga: Melihat kepada orang-orang yang tidak Allah Ta’ala beri anak atau Dia menundanya.

Dengan hal itu, kita bisa sedikit terhibur, ternyata tidak sedikit orang yang sama dengan saya dan mereka tetap bahagia. Karena sebab-sebab kebahagian itu berjumlah bukan satu saja, anak hanyalah salah satu sebab.
Coba kita tengok Nabiyullah Ibrahim al-Khalil, Allah Subhanahu waTa’ala memberinya anak manakala yang bersangkutan dan istrinya sudah tidak muda lagi, Allah Subhanahu waTa’ala berfirman, artinya, “Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira kelahiran Ishaq dan dari Ishaq akan lahir Ya’qub. Istrinya berkata, ‘Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan padahal aku adalah wanita tua dan suamiku pun sudah tua pula? Sesungguhnya ini merupakan sesuatu yang benar-benar aneh.” (Huud: 71-72).



Ibrahim adalah Nabiyullah yang mulia, kurang apa beliau, meskipun demikian Allah Ta’ala tidak memberikan anak kepadanya melainkan di saat usianya tidak muda lagi, sekian lama menanti dan akhirnya penantian itu pun tiba. Jika hal semacam ini Allah ‘Azza waJalla tetapkan kepada beliau, tentu bukanlah suatu yang berlebihan jika hal itu terjadi terhadap diri kita. Dan seharusnya kita mengaca kepada hamba shalih tersebut.

Keempat: Bertawakal kepada Allah Ta’ala dengan menyerahkan masalah kepadaNya semata.

Sikap tawakal merupakan salah satu senjata seorang mukmin dalam menghadapi perosalan-persoalan sulit. Berapa banyak problem hidup yang terangkat oleh sikap tawakal kepada Allah Ta’ala, tanpa terkecuali problem kesulitan dalam mendapatkan keturunan. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman, artinya, “Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah niscaya Dia akan mencukupkan keperluannya.” (Ath-Thalaq: 3). Sebuah janji yang pasti dari Allah Ta’ala bahwa dia akan mencukupi kebutuhan siapa yang bertawakal kepadaNya, tanpa terkecuali kebutuhan kepada hadirnya anak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menceritakan kepada kita tentang seekor burung yang mendapatkan rizki dengan berangkat pagi dalam keadaan perut kosong dan pulang sore dalam keadaan perutnya penuh, dan ini karena kesungguhannya dalam bertawakal kepada Allah Ta’ala, maka apalagi kita sebagai manusia yang memiliki lebih banyak cara dan sebab, tentu kita lebih patut untuk mendapatkan rizki, jika kita benar-benar bertawakal kepada Allah Subhanahu waTa’ala, termasuk mendapatkan keturunan.
Namun jangan salah kaprah bahwa tawakal bukanlah berarti berpangku tangan dan berdiam diri tanpa upaya dan usaha.

Upaya semaksimal mungkin dan usaha sebatas kemampuan adalah sisi lain dari tawakal selain berpasrah diri kepada Allah Subhanahu waTa’ala, ibarat mata uang yang pasti memiliki dua sisi, satu sisi tawakal adalah kepasrahan dan sisi yang lain adalah usaha, jika mata uang hanya memilik satu sisi saja maka ia tidak laku, demikian juga dengan tawakal.

Maka berusahalah dan berupayalah sebatas kemampuan dan kesanggupan kita sebagai suami atau istri. Silahkan berkonsultasi dengan ahlinya, menjalani terapi tertentu, mengkonsumsi makanan tertentu atau ramuan-ramuan tertentu, karena semua itu merupakan bagian dari tawakal kita yang sebenarnya kepada Allah ‘Azza waJalla dan setelah semua upaya sudah kita lakukan maka serahkan segalanya kepada Allah Subhanahu waTa’ala.

Kelima: Bersabar beribadah dan terus bersedekah

Allah ‘Azza waJalla sedang menguji kita dengan menunda kehadiran anak, ada kemungkinan Dia menyintai kita, karena jika Allah Subhanahu waTa’ala menyintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Dan dibalik ujian terdapat kebaikan dan pahala yang besar selama kita menyikapi ujian tersebut dengan penuh kesabaran.

Keenam:Berdoa.

Doa adalah senjata seorang mukmin, pintu bantuan dan pertolongan yang tidak pernah tertutup, terbuka non stop 24 jam bahkan sepanjang hayat. Ketika kita sudah bertawakal dengan melakukan berbagai macam upaya, selanjutnya memasrahkannya kepada Allah ‘Azza waJalla, maka tambahi langkah tersebut dengan berdoa kepadaNya, mengetuk pintu karuniaNya, semoga Dia berkenan membuka pintuNya untuk kita.

Nabi Ibrahim al-Khalil termasuk terlambat dalam mendapatkan anak dan keduanya tetap gigih berdoa kepada Allah Subhanahu waTa’ala sehingga harapannya terwujud. Ibrahim berkata, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang termasuk orang-orang shalih.” Apa jawaban Tuhannya? JawabanNya, “Maka Kami memberinya berita gembira dengan seorang anak yang sangat sabar.” (Ash-Shaffat: 100-101).

Ketujuh: Kalau kita pikir lebih mendalam ternyata di balik keterlambatan hadirnya anak mengandung banyak pahala dari Allah Subhanahu waTa’ala.

Kalau kita bersabar maka kita meraih pahala sabar. Kalau kita bertawakal maka kita meraih pahala tawakal. Kalau kita berdoa maka kita meraih pahala doa dan begitu seterusnya. Cobalah melihat kepada sisi ini niscaya kehampaan rumah akibat belum hadirnya anak akan terimbangi.

Kedelapan: Ini yang terakhir.

Mohon kita tidak tergoda oleh langkah-langkah yang menyimpang dari ajaran agama atau cara-cara syirik untuk mendapatkan anak, tidak punya anak bukan merupakan suatu dosa, lalu untuk apa kita harus bersusah payah meraihnya dengan melakukan syirik kepada Allah Ta’ala?

Jangan menjadi bapak ibu yang rela berbuat syirik kepada Allah Ta’ala demi kelahiran anak, hal ini Allah Subhanahu waTa’ala sebutkan dalam firmanNya, “Tatkala Allah mengaruniakan mereka seorang anak laki-laki yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah dalam hal anak yang Dia karuniakan kepada mereka. Mahasuci Allah dari perbuatan syirik mereka.” (Al-A’raf: 190)

Bagaimana mengajarkan Anak Bersedekah

Awal mengajarkan anak bersedekah, khususnya anak usia dini adalah dengan keteladanan. Anak diajarkan untuk bisa bersedekah kepada fakir miskin. Orang tua yang mengajari anak, dan cukup mengatakan ini sedekah. Karena mungkin anak kecil belum tahu apa makna sedekah lebih dalam. Ia hanya tahu kalau ada peminta-minta maka orang tuanya memberikan uang misalnya 500 atau 1000. Sedikit-sedikit ketika anak sudah mulai isa diajarkan berkomunikasi, maka kita mengenalkan makna sedekah. Bahwa Nabi Saw mengajarkan kita untuk bersedekah, bahwa sedekah itu berpahala dan Allah mencintai orang-orang yang bersedekah. Orang yang bersedekah akan mendapatkan balasan pahala yang berlipat ganda di akhirat. Akhirnya anak akan mengenal kebiasaan bersedekah dan tidak pelit atau sulit menyedekahkan sebagian hartanya. Kalau ia punya uang jajan, ia tidak sulit menyedekahkan uang jajannya. Kalau dia tidak punya uang kita juga bisa mengajarkan untuk mengatakan tidak, maaf pak/bu sedang tidak ada uang. Pada pendidikan prabaligh, usia SD kita sudah bisa mengenalkan lebih jauh tentang sedekah. Kita mengajarkan tentang Infaq. Bahwa ada infaq yang wajib dan ada infaq yang sunnah. Infaq wajib apa saja, diantaranya menafkahi keluarga dan berzakat, infaq yang sunnah adalah sedekah. Tetapi sedekah ini sudah menjadi kebiasaan baik yang mudah dilakukan seorang anak, karena dia sudah biasa melakukannya sejak kecil. Yaitu menjalankan sunnah bersedekah. Targetnya adalah ia menjadi orang yang mudah mengorbankan hartanya

Bagaimana bila anak sulit berbagi?

Kalaupun ada anak yang kategorinya sulit berbagi, maka dengan pengajaran bersedekah ini akan lebih cepat terindikasi. Misalnya, ketika dia tidak mau mengorbankan uang jajannya selain untuk jajan. Maka ini indikasi anak tidak mudah mengorbankan harta. Saya juga pernah meminta tolong seorang anak kecil memberikan sedekah kepada pengemis di luar, dia mengatakan yang 500 buat aku ya. Waktu itu sedekahnya 1000. Ini menunjukkan dia belum otomatis memberikan sedekah dengan mudah. Tapi insya Allah dengan pembiasaan yang baik dan runtin anak akan berubah. Kepada anak yang sulit mengorbankan harta kita bisa memberikan pemahaman bagaimana kelebihan-kelebihan orang yang suka bersedekah.

Pada anak-anak dengan rasa pemilikan tinggi, apakah mereka ini bisa diajarkan mudah bersedekah? Insya Allah bisa, asalkan orang tua intensif memperhatikan masalah ini. Saya pernah melihat seorang anak dengan rasa memiliki yang tinggi. Tetapi karena dia telah dibiasakan bersedekah,maka ia tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk bersedekah. Di sisi lain, ketika bukan sedang bersedekah maka dia sangat pandai menjaga dan mengembangkan hartanya. Sebenarnya ini sifat yang baik yang akan menguatkan seorang muslim. Ketika dia berbisnis, maka dia optimalkan kemampuannya untuk berbisnis. Mengembangkan harta dengan cara yang halal. Ketika ia bersedekah, maka ia tidak segan-segan mengorbankan hartanya dijalan kebaikan. Sebagaimana yang terjadi pada sahabat Abudrrahman bin Auf yang kaya raya karena pandai berdagang dan Allah melimpahinya kekayaan yang mengalir. Ia juga sangat banyak berinfaq, baik infaq yang wajib seperti zakat dan menafkahi kerabat atau infaq yang sunnah seperti sedekah. Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa Aisyah mendengar ada suara gaduh di madinah, sehingga bertanya ada apa ini? Orang-orang menjelaskan : Unta-unta Abdurrahman bin Auf baru datang dari syam dan membawa dagangannya. Dituturkan bahwa unta-unta tersebut sekitar tujuh ratus ekor. Madinah sangat ramai saat itu. Aisyah berkata: Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: Aku melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan cara merangkak. Perkataannya itu sampai ke Abdurrahman. Ia berkata: Seandainya memungkinkan aku ingin masuk surga dengan berjalan. Setelah itu ia menginfaqkan seluruh hasil perdagangannya saat itu. Itu jumlah yang sangat besar. Selain Abdurrahman bin Auf, juga ada sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq dan Utsman bin Affan, para sahabat yang kaya raya tetapi sangat-sangat mudah bersedekah.



Seringkali sekarang peminta-minta itu terorganisir dan belum tentu mereka miskin, apakah ini tidak menghambat keinginan kita untuk bersedekah?

Sedekah adalah sedekah. Ketika ada orang meminta, maka kalau kita memberi itu berpahala. Kecuali bila secara zhahir kita tahu hasil sedekah itu akan digunakan untuk berbuat maksiat. Maka lebih baik tidak diberikan. Tetapi apapun yang kita berikan secara ikhlas akan berpahala. Dan Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan amalan kita. Untuk itu memang harus dipisahkan tentang bagaimana solusi terhadap orang yang suka meminta-minta karena terorganisir atau profesi dengan sedekah kita. Jangan sampai analisa-analisa kita yang bisa jadi sebagian hanya sumsi akan menghalangi kita berbuat baik. Kalaupun ketahuan bahwa ternyata mereka tidak miskin dan hanya sekedar meminta-minta untuk menumpuk kekayaan, maka sedekah kita yang ikhlas tidak akan sia-sia dan selanjutnya kita akan bisa bersedekah secara jelas kepada fakir miskin. Sementara di sis lain kita juga perlu menegakkan amar ma’ruf nahi munkar kepada mereka yang mencari kekayaan dengan cara itu. Bisa menyampaikan kepada pemerintah atau para tokoh masyarakat yang bisa memberikan jalan keluar. Tetapi yang terbaik adalah terus menerus menegakkan dakwah utuk mengubah sistem yang kapitalistik seperti ini, karena hal tersebut juga bersumber dari kehidupan yang kapitalis dan sekularis. Dengan kehidupan Islam, insya Allah masalah-masalah semacam itu juga akan terselesaikan