Tampilkan postingan dengan label Sedekah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sedekah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Juni 2010

Sedekah


Sedekah bisa mendatangkan ampunan Allah, menghapus dosa dan menutup kesalahan dan keburukan. Sedekah bisa mendatangkan ridha Allah, dan sedekah bisa mendatangkan kasih sayang dan bantuan Allah. Wuh, inilah sekian fadilah sedekah yang ditawarkan Allah bagi para pelakunya.
Sebagaimana kita ketahui, hidup kita jadi susah, lantaran memang
kita banyak betul dosanya. Dosa-dosa kita mengakibatkan kehidupan
kita menjadi tertutup dari Kasih Sayangnya Allah. Kesalahan-
kesalahan yang kita buat, baik terhadap Allah, maupun terhadap manusia, membuat kita terperangkap dalam lautan kesusahan yang sejatinya kita buat sendiri. Hidup kita pun banyak masalah. Lalu Allah datang menawarkan bantuan-Nya, menawarkan kasih sayang-Nya, menawarkan ridha-Nya terhadap ikhtiar kita, dan menawarkan ampunan-Nya. Tapi kepada siapa yang Allah bisa berikan ini semua? Kepada siapa yang mau bersedekah. Kepada yang mau membantu orang lain.
kepada yang mau peduli dan berbagi. Kita memang susah. Tapi pasti ada yang lebih susah. Kita memang sulit, tapi pasti ada yang lebih sulit. Kita memang sedih, tapi barangkali ada yang lebih sedih. Terhadap mereka inilah Allah minta kita memperhatikan jika ingin diperhatikan. Insya Allah, hari demi hari, saya akan menulis tentang sedekah, dan segala apa yang terkait dengan sedekah. Di website ini. Saudara yang melihat, Saudara yang membaca, Saudara yang bisa memetik hikmahnya, saya mempersilahkan membagi kepada sebanyak-banyaknya keluarga, kawan dan sahabat Saudara. Barangkali ada kebaikan bersama yang bisa diambil. Di website ini pula, Saudara akan bisa mengambil petikan hadits hari per hari dan ayat hari per hari, yang berkaitan dengan sedekah dan amaliyah terkait, dengan pembahasan singkatnya. Di pembahasan-pembahas an tentang sedekah, saya akan banyak mendorong diri saya dan saudara, untuk melakukan sedekah, dengan mengemukakan
fadilah-fadilah/ keutamaannya. Insya Allah pembahasan akan sampai kepada Ihsan, Mahabbah, Ikhlas dan Ridha Allah. Apa yang tertulis, adalah untuk memotivasi supaya tumbuh keringanan dalam berbagi,
kemauan dalam bersedekah. Sebab biar bagaimanapun, manusia adalah pedagang. Ia perlu dimotivasi untuk melakukan.
Akhirnya, mintalah doa kepada Allah, agar Allah terus menerus membukakan pintu ilmu, hikmah, taufiq dan hidayah-Nya hingga sampai kepada derajat "mukhlishiina lahuddien", derajat orang-orang yang
mengikhlaskan diri kepada Allah.

Matematika Dasar Sedekah
Apa yang kita lihat dari matematika di bawah ini?
10 – 1 = 19
Pertambahan ya? Bukan pengurangan?
Kenapa matematikanya begitu?
Matematika pengurangan darimana?
Koq ketika dikurangi, hasilnya malah lebih besar?
Kenapa bukan 10-1 = 9?
Inilah kiranya matematika sedekah. Dimana ketika kita memberi dari
apa yang kita punya, Allah justru akan mengembalikan lebih banyak
lagi. Matematika sedekah di atas, matematika sederhana yang diambil
dari QS. 6: 160, dimana Allah menjanjikan balasan 10x lipat bagi
mereka yang mau berbuat baik.
Jadi, ketika kita punya 10, lalu kita sedekahkan 1 di antara yang
sepuluh itu, maka hasil akhirnya, bukan 9. Melainkan 19. Sebab yang
satu yang kita keluarkan, dikembalikan Allah sepuluh kali lipat.
Hasil akhir, atau jumlah akhir, bagi mereka yang mau bersedekah,
tentu akan lebih banyak lagi, tergantung Kehendak Allah. Sebab Allah
juga menjanjikan balasan berkali-kali lipat lebih dari sekedar
sepuluh kali lipat. Dalam QS. 2: 261, Allah menjanjikan 700x lipat.
Tinggallah kita yang kemudian membuka mata, bahwa pengembalian Allah
itu bentuknya apa? Bukalah mata hati, dan kembangkan ke-
husnudzdzanan, atau positif thinking ke Allah. Bahwa Allah pasti
membalas dengan balasan yang pas buat kita.

Memberi Lebih Banyak, Menuai Lebih Banyak
Kita sudah belajar matematika dasar sedekah, dimana setiap kita
bersedekah Allah menjanjikan minimal pengembalian sepuluh kali lipat
(walaupun ada di ayat lain yg Allah menyatakan akan membayar 2x
lipat). Atas dasar ini pula, kita coba bermain-main dengan
matematika sedekah yang mengagumkan. Bahwa semakin banyak kita
bersedekah, ternyata betul Allah akan semakin banyak juga memberikan
gantinya, memberikan pengambalian dari-Nya.
Coba lihat ilustrasi matematika berikut ini:
Pada pembahasan yang lalu, kita belajar:
10 - 1 = 19
Maka, ketemulah ilustrasi matematika ini:
10 - 2= 28
10 - 3= 37
10 - 4= 46
10 - 5= 55
10 - 6= 64
10 - 7= 73
10 - 8= 82
10 - 9= 91
10 - 10= 100
Menarik bukan? Lihat hasil akhirnya? Semakin banyak dan semakin
banyak. Sekali lagi, semakin banyak bersedekah, semakin banyak
penggantian dari Allah.
Mudah-mudahan Allah senantiasa memudahkan kita untuk bersedekah,
meringankan langkah untuk bersedekah, dan membuat balasan Allah
tidak terhalang sebab dosa dan kesalahan kita.

Sebagaimana kita ketahui, hidup kita jadi susah, lantaran memang
kita banyak betul dosanya. Dosa-dosa kita mengakibatkan kehidupan
kita menjadi tertutup dari Kasih Sayangnya Allah. Kesalahan-
kesalahan yang kita buat, baik terhadap Allah, maupun terhadap
manusia, membuat kita terperangkap dalam lautan kesusahan yang
sejatinya kita buat sendiri. Hidup kita pun banyak masalah. Lalu
Allah datang menawarkan bantuan-Nya, menawarkan kasih sayang-Nya,
menawarkan ridha-Nya terhadap ikhtiar kita, dan menawarkan ampunan-
Nya. Tapi kepada siapa yang Allah bisa berikan ini semua? Kepada
siapa yang mau bersedekah. Kepada yang mau membantu orang lain.
kepada yang mau peduli dan berbagi.
Kita memang susah. Tapi pasti ada yang lebih susah. Kita memang
sulit, tapi pasti ada yang lebih sulit. Kita memang sedih, tapi
barangkali ada yang lebih sedih. Terhadap mereka inilah Allah minta
kita memperhatikan jika ingin diperhatikan
nsya Allah, hari demi hari, saya akan menulis tentang sedekah, dan
segala apa yang terkait dengan sedekah. Di website ini. Saudara yang
melihat, Saudara yang membaca, Saudara yang bisa memetik hikmahnya,
saya mempersilahkan membagi kepada sebanyak-banyaknya keluarga,
kawan dan sahabat Saudara. Barangkali ada kebaikan bersama yang bisa
diambil. Di website ini pula, Saudara akan bisa mengambil petikan
hadits hari per hari dan ayat hari per hari, yang berkaitan dengan
sedekah dan amaliyah terkait, dengan pembahasan singkatnya
Di pembahasan-pembahas an tentang sedekah, saya akan banyak mendorong
diri saya dan saudara, untuk melakukan sedekah, dengan mengemukakan
fadilah-fadilah/ keutamaannya. Insya Allah pembahasan akan sampai
kepada Ihsan, Mahabbah, Ikhlas dan Ridha Allah. Apa yang tertulis,
adalah untuk memotivasi supaya tumbuh keringanan dalam berbagi,
kemauan dalam bersedekah. Sebab biar bagaimanapun, manusia adalah
pedagang. Ia perlu dimotivasi untuk melakukan sebuah amal. Kepada
Allah juga semuanya berpulang

Akhirnya, mintalah doa kepada Allah, agar Allah terus menerus
membukakan pintu ilmu, hikmah, taufiq dan hidayah-Nya hingga sampai
kepada derajat "mukhlishiina lahuddien", derajat orang-orang yang
mengikhlaskan diri kepada Allah.

2.5 % Tidaklah Cukup

Saudaraku, barangkali sekarang ini zamannya minimalis. Sehingga ke
sedekah juga hitung-hitungannya jadi minimalis. Angka yang biasa
diangkat, 2,5%. Kita akan coba ilustrasikan, dengan perkalian
sepuluh kali lipat, bahwa sedekah minimalis itu tidak punya pengaruh
yang signifikan.
Contoh berikut ini, adalah contoh seorang karyawan yang punya gaji
1jt. Dia punya pengeluaran rutin sebesar 2jt. Kemudian dia
bersedekah 2,5% dari penghasilan yang 1jt itu. Maka kita dapat
perhitungannya sebagai berikut:
Sedekah: Sebesar 2,5%
2,5% dari 1.000.000 = 25.000
Maka, tercatat di atas kertas:
1.000.000 – 25.000 = 975.000
Tapi kita belajar, bahwa 975.000 bukan hasil akhir. Allah akan
mengembalikan lagi yang 2,5% yang dia keluarkan sebanyak sepuluh
kali lipat, atau sebesar 250.000. Sehingga dia bakal mendapatkan
rizki min haitsu laa yahtasib (rizki tak terduga) sebesar:
975.000 + 250.000 = 1.225.000
Lihat, "hasil akhir" dari perhitungan sedekah 2,5% dari 1jt, "hanya"
jadi Rp. 1.225.000,-. Masih jauh dari pengeluaran dia yang sebesar
Rp. 2jt. Boleh dibilang secara bercanda, bahwa jika dia
sedekahnya "hanya" 2,5%, dia masih akan keringetan untuk mencari
sisa 775.000 untuk menutupi kebutuhannya


Coba Jajal Sedekah 10 %
Saudara sudah belajar, bahwa sedekah 2,5% itu tidaklah cukup. Ketika
diterapkan dalam kasus seorang karyawan yang memiliki gaji 1jt dan
pengeluarannya 2jt, maka dia hanya mendapatkan pertambahan 250rb,
yang merupakan perkalian sedekah 2,5% dari 1jt, dikalikan sepuluh.
Sehingga "skor" akhir, pendapatan dia hanya berubah menjadi Rp.
1.225.000. Masih cukup jauh dari kebutuhan dia yang 2jt.
Sekarang kita coba terapkan ilustrasi berbeda. Ilustrasi sedekah 10%.
Sedekah: Sebesar 10%
10% dari 1.000.000 = 100.000
Maka, tercatat di atas kertas:
1.000.000 – 100.000 = 900.000
Kita lihat, memang kurangnya semakin banyak, dibandingkan dengan
kita bersedekah 2,5%. Tapi kita belajar, bahwa 900.000 itu bukanlah
hasil akhir. Allah akan mengembalikan lagi yang 2,5% yang dia
keluarkan sebanyak sepuluh kali lipat, atau dikembalikan sebesar
1.000.000. Sehingga dia bakal mendapatkan rizki min haitsu laa
yahtasib (rizki tak terduga) sebesar:
900.000 + 1.000.000 = 1.900.000
Dengan perhitungan ini, dia "berhasil" mengubah penghasilannya,
menjadi mendekati angka pengeluaran yang 2jt nya. Dia cukup butuh
100rb tambahan lagi, yang barangkali Allah yang akan menggenapkan


2.5 ITU CUKUP, KALAU ..
Setiap perbuatan, pasti ada balasannya. Dan satu hal yang saya
kagumi dari matematika Allah, bahwa Spiritual Values, ternyatab
selalu punya keterkaitan dengan Economic Values. Kita akan bahas
pelan-pelan sisi ini, sampe kepada pemahaman yang mengagumkan
tentang kebenaran janji Allah tentang perbuatan baik dan perbuatan
buruk.
Kita sedang membicarakan bahwa sedekah 2,5% itu tidaklah cukup.
Mestinya, begitu saya ajukan dalam tulisan terdahulu, sedekah kita,
haruslah minimal 10%. Dengan bersedekah 10%, insya Allah kebutuhan-
kebutuhan kita, yang memang kita hidup di dunia pasti punya
kebutuhan, akan tercukupi.
Dari ilustrasi di dua tulisan terdahulu, saya memaparkan bahwa
ketika seorang karyawan bersedekah 2,5% dari gajinya yang 1jt,
maka "pertambahannya" menjadi Rp. 1.225.000. Yakni didapat dari Rp.
975.000, sebagai uang tercatat setelah dipotong sedekah, ditambah
dengan pengembalian sepuluh kali lipat dari Allah dari 2,5% nya.
Bila sedekah 2,5% ini yang dia tempuh, sedangkan dia punya
pengeluaran 2jt, maka kekurangannya teramat jauh. Dia masih butuh
Rp. 775.000,-. Maka kemudian saya mengajukan agar kita bersedekah
jangan 2,5%, tapi lebihkan. Misalnya 10%.
Saudaraku, ada pernyataan menarik dari guru-guru sedekah, bahwa
katanya, sedekah kita yang 2,5% itu sebenarnya tetap akan mencukupi
kebutuhan-kebutuhan kita, di dunia ini, maupun kebutuhan yang lebih
hebat lagi di akhirat, kalau kita bagus dalam amaliyah lain selain
sedekah. Misalnya, bagus dalam mengerjakan shalat. Shalat dilakukan
selalu berjamaah. Shalat dilakukan dengan menambah sunnah-sunnahnya;
qabliyah ba'diyah, hajat, dhuha, tahajjud. Bagus juga dalam hubungan
dengan orang tua, dengan keluarga, dengan tetangga, dengan kawan
sekerja, kawan usaha. Terus, kita punya maksiat sedikit, keburukan
sedikit. Bila ini yang terjadi, maka insya Allah, cukuplah kita akan
segala hajat kita. Allah akan menambah poin demi poin dari apa yang
kita lakukan.
Hanya sayangnya, kita-kita ini justru orang yang sedikit beramal,
dan banyak maksiatnya. Jadilah kita orang-orang yang merugi. Skor
akhir yang sebenernya sudah bertambah, dengan sedekah 2,5% itu,
malah harus melorot, harus tekor, sebab kita tidak menjaga diri.
Perbuatan buruk kita, memakan perbuatan baik kita.
Tambahi terus amaliyah kita, dan kurangi terus maksiat kita

Kalikan Dari Target Supaya Beroleh Lebih
Saudaraku, ini menyambung tiga tulisan terdahulu. Kasusnya, tetap
sama: Seorang karyawan dengan gaji 1jt, yang punya pengeluaran 2jt.
Bila karyawan tersebut mau hidup tidak pas-pasan, dan mau dicukupkan
Allah, dia harus menjaga dirinya dari keburukan, dan terus memacu
dirinya dengan berbuat kebaikan dan kebaikan. Kemudian, lakukan
sedekah 10% bukan dari gajinya, melainkan dari pengeluarannya.
Kita lihat ya…
Sedekah 10% dari 2jt (bukan dari gajinya yang 1jt), maka akan
didapat angka sedekah sebesar Rp. 200rb. Gaji pokok sebesar 1jt,
dikurang 200rb, menjadi tinggal 800rb. Lihat, angka tercatatnya
tambah mengecil, menjadi tinggal 800.000.
Tapi di sinilah misteri sedekah yang ajaib. Yang 200rb yang
disedekahkan, akan dikembalikan sepuluh kali lipat oleh Allah, atau
menjadi 2jt. sehingga skor akhirnya bukan 800rb, melainkan 2,8jt.

Dengan perhitungan di atas, kebutuhannya yang 2jt, malah terlampaui.
Dia lebih 800rb. Subhanallah. Apalagi kalau kemudian dia betul-betul
mau memelihara diri dari maksiat dan dosa, dan mempertahankan
perbuatan baik, maka lompatan besar akan terjadi dalam hidupnya.
Sebuah perubahan besar, sungguh-sungguh akan terjadi. Baik kemuliaan
hidup, kejayaan, kekayaan, hingga keberkahan dan ketenangan hidup.
Sekali lagi, subhanallah.

Sabtu, 29 Mei 2010

Kisah Lelaki Ahli Sedekah

Laki-laki itu. Tak satu pun pedagang dan peminta sumbangan yang melewatkan mejanya. Karena jika mereka menghampirinya, pasti akan ada sesuatu yang mereka terima. Tak pernah mereka pergi dengan tangan kosong. Seorang gadis kecil berjilbab, kulihat sering berkunjung dan keluar dari ruangannya menggenggam amplop.

Laki-laki itu. Adalah biasa baginya makan rujak dari bungkus yang sama dengan anak buahnya. Tak pernah menjadi masalah baginya bertanya,”Ada yang bawa kue/oleh-oleh, ya?“ dan kemudian mencomotnya. Sebagaimana tak masalah pula ketika para staf meminta dibelikan rujak atau makanan. Lembaran rupiah pun dengan ringan melayang.

Laki-laki itu. Ruang kerjanya terbuka untuk siapa saja. Tak ada istilah ruangannya adalah tempat istimewa yang tak boleh dijamah siapa pun. Tak ada kesan kebirokratisan sehingga anak buah dan rekan kerja menjadi sungkan. Hingga semua fasilitas di sana dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh anak buah: komputer, telepon, internet, bahkan bangku tamu pun dapat dijadikan tempat rapat, atau sekedar istirahat.

Laki-laki itu. Berbincang dan bercanda adalah salah satu kebiasaannya. Bahkan saling ledek dengan staf pun sesuatu yang biasa. Baginya tak ada bos dan bawahan. Karena semua adalah tim kerja, jabatan hanyalah sarana untuk mencapai tujuan lembaga. Maka dirinya menjadi dekat dengan siapa saja -dari pejabat hingga office boy- tanpa harus kehilangan wibawa.

Laki-laki itu. Adalah kebetulan aku sedikit mengenal keluarganya. Dan karenanya aku tahu bagaimana rumahnya menjadi tempat berlabuh bagi banyak orang. Dan karenanya aku tahu, bahwa ia adalah seorang yang ringan tangan, ringan hati dan dermawan terhadap sesama. Pertama kali aku mengunjungi tempat tinggalnya, aku sempat terpana: rumah itu terlalu sederhana untuk seorang ia. Namun toh, rumah itu telah pernah menjadi tempat singgah begitu banyak jiwa.



Laki-laki itu. Berbincang dari hati ke hati dengannya bukan sekali dua saja kulakukan. Sejak pertama kali aku mengenalnya sekitar 6 tahun yang lalu, saat ia menjadi pejabat level paling bawah di kantorku, ia sudah menjadi seseorang yang cukup dekat denganku, termasuk dengan staf-staf lain tentunya. Kedekatan dan keakraban itu bahkan hingga taraf konsultasi kehidupan pribadi. Bahkan pernah ada saat-saat ia membuatku menangis dengan menanyakan hal-hal yang terkait dengan kehidupan pribadi. Dan sejak itu, ia terus menjadi salah satu bagian hidupku di dunia kantor.

Laki-laki itu. Postur tubuhnya ideal. Gerak geriknya gesit. Usianya belum lagi 40 tahun meski rambutnya nyaris telah memutih semua, (mungkin) karena banyak berpikir keras. Dalam enam tahun itu, karirnya terus menanjak, sedang banyak orang lainnya masih tetap sama seperti sebelumnya, termasuk diriku. Dalam enam tahun itu, ia terus berkembang, dipercaya oleh banyak pihak dan kemudian menjadi seseorang yang terpercaya.

***

“Nduk! Piye kabarmu sak wise kawin?” Laki-laki itu dengan to the point menyampaikan pertanyaan itu begitu aku duduk di depan mejanya. Beberapa saat sebelumnya, ia melambaikan tangan memanggilku ketika aku lewat, meski aku bukan lagi anak buahnya. Panjang lebar, aku becerita tentang kondisi terakhirku setelah sebulan menikah. Dan dari lisannya kemudian mengalir nasehat-nasehat panjang tentang pernak-pernik pernikahan yang kudengar baik-baik meski sekali-kali kami timpali dengan canda. Itulah saat terakhir aku berbincang cukup banyak dengannya.

Sabtu, 22 Mei 2010

Al Faatihah

Kalau saya tidak salah, al Faatihah itu sekitar 142 huruf (Bismillah dan huruf tasydidnya dihitung). Kalo kita bicara poin dengan bilangan pengali 10 (asumi setiap kebaikan dikali 10 kebaikan), maka poin membaca Surah al Faatihah itu sebanyak 1420. Itu kalo kita baca sendirian. Gimana kalo kita kumpulin anak-anak kita dan istri kita? Seisi rumah saya: Istri saya, Maemunah. Dan anak-anak saya: Wirda, Qumii, Kun, Haafidz. Jumlahnya minimal 5 orang, dengan saya jadi 6 orang. Jika saya minta semua baca al Faatihah, maka setiap orang akan dapat: 1420 x 6 = 8.520 poin. Poin ini adalah poin minimal. Sebab selain Rasulullah menjanjikan pahala 10 untuk setiap hurufnya, Rasulullah pun masih menjanjikan dikali ilaa sab'i mi-ati dhi'fin; dikali sampe 700x lipat. Kalo dikali 700x lipat, maka poin kebaikannya mencapai: 596.400 poin kebaikan. Untuk pekerjaan baca al Faatihah yang terbilang mudah, poin kebaikannya banyak banget. Itu belom lagi pahala-pahala yang lain. Di mana Al Faatihah adalah doa, puji-pujian, dan macam-macam lagi fadhilah membaca al Faatihah.

Apa maksudnya saya awali dengan hitung-hitungan poin?
Gini, saban hari Jum'at, adalah hari rayanya ummat Islam. Setiap Jum'at, seluruh laki-laki yang baligh lagi berakal, diwajibkan shalat Jum'at. Beruntunglah di Indonesia ada kebiasaan pengumuman-pengumuman dulu sebelomnya khotib naik mimbar. Di antara pengumuman biasanya imam/DKM masjid meminta kita-kita peserta shalat Jum'at untuk mendoakan si Fulan dan si Fulan, lalu meminta membacakan al Faatihah.

Nah, jika kita sepakati menyuruh anak-anak kita dan istri kita maka kita dapat pahalanya, dan bahkan semuanya dapat pahala juga, kiranya demikian pulalah yang terjadi jika kita meminta dibacakan al Faatihah jelang khotib naik mimbar khutbah. Sebanyak yang hadir dan sebanyak yang baca, sebanyak itu pula kita dapat perkalian poin kebaikannya. Subhaanallaah kan? Ada yang mau iseng ngitung? Coba aja. Apalagi kalo masjidnya masjid yang gede-gede, yang sekali Jum'atan bisa seribu, 5ribu atau bisa sampe 10ribu dan 100ribu jamaah macam Istiqlal. Widdiyyyy.... Subhaanallaaah dah banyaknya.
Dan mengajak (baca: meminta) jamaah Jum'atan membaca al Faatihah itu gampang. Cukup dekati DKM masjid. Bahkan cukup sms jika kenal dengan DKM nya. Lalu berilah sedikit kebaikan. Misalnya derma berapa gitu untuk masjid dan merbotnya. Habis itu minta dah dibacakan al Faatihah... InsyaAllah pasti dibacakan. Ga ada dermanya juga kalo minta didoakan mah, insyaAllah didoakan.

So, jangan lewatkan saban Jum'at, titip sedekah dan permintaan doa dan pembacaan al Faatihah lewat suara Imam atau DKM masjid. Dan segera dapatkan limpahan poin kebaikan yang ga kira-kira banyaknya. InsyaAllah poin-poin kebaikan ini "bisa ditukar" oleh Allah sebagai doa kita hingga ia menjadi kemudahan bagi setiap urusan kita, kesembuhan bagi penyakit kita, dan wasilah amal saleh yang baik sekali untuk pengabulan doa-doa kita. Yah, jika kita selama ini yang dikomandoi terus sama DKM agar membacakan al Faatihah dan doa untuk si Fulan dan si Fulan, sekarang sesekali boleh dong gantian yang mengomando jamaah semua lewat permintaan kita kepada imam/DKM masjid.

Salam, Yusuf Mansur.

Rabu, 19 Mei 2010

Kisah Bocah Pengamen dan Sedekah

Seorang bocah pengamen tanpa alat musik apapun, termasuk tepukan tangan. Kira-kira berusia 10 tahun.

Aku senang memandanginya, dia tidak seperti anak-anak jalanan kebanyakan. Kotor, bau, dan menyanyi seadanya. Ada hal unik dalam dirinya, pakaiannya bersih, memakai sandal, rambutnya jatuh tidak klimis, dan kuku tangan dan kakinya pun bersih. Seperti anak rumahan. Ibunya sungguh merawatnya, pikir ku malam itu.

Satu hal yang menjadi perhatianku, ternyata anak tersebut kurang normal. Gaya menyanyinya dieja kata perkata dengan berusaha sekuat tenaga agar apa yang diucapkannya jelas terdengar. Rupanya lirik sholawat badar menjadi lagu favoritnya. Beberapa penumpang senyum-senyum simpul memandangnya. Jujur, aku pun ingin tertawa lebar. Aku berusaha menahan tawaku dengan mengalihkan pandangan ke luar jendela.

Setelah selesai menyanyi, ternyata masih ada satu hal yang dia lakukan. Dia memberi nasihat kepada kami tentang manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara. Subhanallah, dia membawakannya dengan penuh semangat, penuh percaya diri dan sangat sungguh-sungguh. Tanpa malu, meskipun tidak sedikit penumpang yang tersenyum simpul. Masya Allah, dia mendoakan kami semua. Hatiku begitu lapang mendengarnya. Beda rasanya ketika yang berdoa adalah panitia masjid yang memang ada maksud ingin meminta sumbangan. Anak itu begitu polos.



Seperti biasanya, anak-anak pengamen akan meminta bayaran atas hiburan yang sudah mereka persembahkan. Tidak kecuali dia. Dia memulainya dari kursi depan samping Pak Supir. Satu dua orang telah terlewati tanpa memberi apa-apa. Alhamdulillah orang ketiga telah memberinya uang. “Makasih Pak, semoga rizkinya nambah ya Pak” spontan anak itu mendoakan sang Bapak. Masya Allah bergetar hati saya. Dia terus mendoakan setiap penumpang yang memberinya uang. Penumpang yang memberi hanya mampu berucap amin sambil menggangguk disertai senyuman.

Biasanya saya selalu menyeleksi setiap ada pengamen bis kota, minimal melihat tampang dan kesungguhan mereka dalam menyanyi. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pengamen anak-anak adalah mereka yang dimanfaatkan oleh orangtua untuk mencari nafkah. Itulah salah satu usaha saya untuk mengurangi maraknya anak jalanan. Tapi tidak untuk bocah itu. Tangan saya pun ringan memberinya uang, dan saya niatkan untuk bersedekah. Saya pun tidak terlewatkan dari do’anya.

Sungguh banyak hikmah yang dapat saya ambil. Bocah itu telah mengingatkan banyak hal kepada saya. Kesungguhan dalam bekerja untuk mencari rizki tanpa malu yang penting halal, usaha untuk melakukan kebaikan dapat dilakukan di mana saja dan oleh siapa saja, dan lapangnya dada kita untuk menebar do’a kepada siapa saja. Semoga Allah memberikan Rahmat dan perlindungan Nya kepada bocah itu dari kejahatan di malam hari. Amiin.

Selasa, 04 Mei 2010

Kedermawanan Rosulullah SAW yang luarbiasa

Sayyidina Umar bin Khattab bercerita, suatu hari seorang laki-laki datang menemui Rasulullah SAW untuk meminta-minta, lalu beliau memberinya. Keesokan harinya, laki-laki itu datang lagi, Rasulullah juga memberinya. Keesokan harinya, datang lagi dan kembali meminta, Rasulullah pun memberinya. Keesokan harinya, ia datang kembali untuk meminta-minta, Rasulullah lalu bersabda, “Aku tidak mempunyai apa-apa saat ini. Tapi, ambillah yang kau mau dan jadikan sebagai utangku. Kalau aku mempunyai sesuatu kelak, aku yang akan membayarnya.”

Umar lalu berkata, “Wahai Rasulullah janganlah memberi diluar batas kemampuanmu.” Rasulullah tidak menyukai perkataan Umar tadi. Tiba-tiba, datang seorang laki-laki dari Anshar sambil berkata, “Ya Rasulullah, jangan takut, terus saja berinfak. Jangan khawatir dengan kemiskinan.” Mendengar ucapan laki-laki tadi, Rasulullah tersenyum, lalu beliau berkata kepada Umar, “Ucapan itulah yang diperintahkan oleh Allah kepadaku.” (HR Turmudzi).

Jubair bin Muth’im bertutur, ketika ia bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba orang-orang mencegat beliau dan meminta dengan setengah memaksa sampai-sampai beliau disudutkan ke sebuah pohon berduri.

Kemudian salah seorang dari mereka mengambil mantelnya. Rasulullah berhenti sejenak dan berseru, ”Berikan mantelku itu! Itu untuk menutup auratku. Seandainya aku mempunyai mantel banyak (lebih dari satu), tentu akan kubagikan pada kalian (HR. Bukhari)

Ummu Salamah, istri Rasulullah SAW bercerita, suatu hari Rasulullah masuk ke rumahku dengan muka pucat. Aku khawatir beliau sedang sakit. “Ya Rasulullah, mengapa wajahmu pucat begini?” tanyaku.

Rasulullah menjawab, ”Aku pucat begini bukan karena sakit, melainkan karena aku ingat uang tujuh dinar yang kita dapat kemarin sampai sore ini masih berada di bawah kasur dan kita belum menginfakkannya.” (HR Al-Haitsami dan hadistnya sahih).

Aisyah berkata, suatu hari, ketika sakit, Rasulullah SAW menyuruhku bersedekah dengan uang tujuh dinar yang disimpannya di rumah. Setelah menyuruhku bersedekah, beliau lalu pingsan. Ketika sudah siuman, Rasulullah bertanya kembali: “Uang itu sudah kau sedekahkan?” “Belum, karena aku kemarin sangat sibuk,” jawabku Rasulullah bersabda, “Mengapa bisa begitu, ambil uang itu!”.
Begitu uang itu sudah di hadapannya, Rasulullah lalu bersabda, “Bagaimana menurutmu seandainya aku tiba-tiba meninggal, sementara aku mempunyai uang yang belum kusedekahkan? Uang ini tidak akan menyelamatkan Muhammad seandainya ia meninggal sekarang, sementara ia mempunyai uang yang belum disedekahkan,”. (HR Ahmad).



Sahl bin Sa’ad bertutur, suatu hari datang seorang perempuan menghadiahkan kepada Nabi Saw sepotong syamlah yang ujungnya ditenun (syamlah adalah baju lapang yang menutup seluruh badan). Perempuan itu berkata, “Ya Rasulullah, akulah yang menenun syamlah ini dan aku hendak menghadiahkannya kepada Engkau.” Rasulullah pun sangat menyukainya. Tanpa banyak bicara, beliau langsung mengambil dan memakainya dengan sangat gembira dan berterima kasih kepada wanita itu. Rasulullah betul-betul sangat membutuhkan dan menyukai syamlah tersebut.

Tidak lama setelah wanita itu pergi, tiba-tiba datang seorang laki-laki meminta syamlah tersebut. Rasulullah pun memberikannya. Para sahabat yang lain lalu mengecam laki-laki tersebut. Mereka berkata, “Hai Fulan, Rasulullah sangat menyukai syamlah tersebut, mengapa kau memintanya? Kau kan tahu Rasulullah tidak pernah tidak memberi kalau diminta?” Laki-laki itu menjawab, “Aku memintanya bukan untuk dipakai sebagai baju, melainkan untuk kain kafanku nanti kalau aku meninggal”. Tidak lama kemudian, laki-laki itu meninggal dan syamlah tersebut menjadi kain kafannya. (HR Bukhari).

Beberapa kisah diatas hanyalah sebutir jejak kedermawanan Nabi Muhammad SAW. Kisah-kisah lainnya bagaikan gunung pasir tertinggi yang takkan pernah sanggup diimbangi oleh siapapun, termasuk para sahabat-sahabat terdekatnya di masa beliau masih hidup. Sahabat-sahabat Rasulullah hanya bisa meniru kedermawanan yang diajarkan Baginda Rasul itu, yang kemudian menambah panjang jejak sejarah kedermawanan yang dicontohkan Nabi dan para sahabatnya.

Lihatlah Thalhah bin Ubaidillah, seorang sahabat yang kaya raya namun pemurah dan dermawan. “Sungai yang airnya mengalir terus menerus mengairi dataran dan lembah” adalah lukisan tentang kedermawanan seorang Thalhah. Isterinya bernama Su’da binti Auf. Pada suatu hari isterinya melihat Thalhah sedang murung dan duduk termenung sedih. Melihat keadaan suaminya, sang isteri segera menanyakan penyebab kesedihannya dan Thalhah mejawab, “Uang yang ada di tanganku sekarang ini begitu banyak sehingga memusingkanku. Apa yang harus kulakukan ?”

Maka istrinya berkata, “Uang yang ada di tanganmu itu bagi-bagikanlah kepada fakir miskin.” Maka dibagi-baginyalah seluruh uang yang ada di tangan Thalhah tanpa meninggalkan sepeserpun.

Assaib bin Zaid berkata tentang Thalhah, “Aku berkawan dengan Thalhah baik dalam perjalanan maupun sewaktu bermukim. Aku melihat tidak ada seorangpun yang lebih dermawan dari dia terhadap kaum muslimin. Ia mendermakan uang, sandang dan pangannya.”

Jaabir bin Abdullah bertutur, “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih dermawan dari Thalhah walaupun tanpa diminta.” Oleh karena itu patutlah jika dia dijuluki “Thalhah si dermawan”, “Thalhah si pengalir harta”, “Thalhah kebaikan dan kebajikan”.

Sahabat lain yang mengukir jejak indah kedermawanan mencontoh Nabi adalah Tsabit bin Dahdah yang memiliki kebun yang bagus, berisi 600 batang kurma kualitas terbaik. Begitu turun firman Allah, “Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan (pembayaran) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.” (Al-Hadid: 11). Dia bergegas mendatangi Rasulullah untuk bertanya, “Ya Rasulullah, apakah Allah ingin meminjam dari hambanya?”

“Benar,” jawab Rasulullah.

Spontan Tsabit bin Dahdah mengacungkan tangannya seraya berkata, “Ulurkanlah tangan Anda, wahai Rasulullah.”

Rasulullah mengulurkan tangannya, dan langsung disambut oleh Tsabit bin Dahdah sambil berkata, “Aku menjadikan Anda sebagai saksi bahwa kupinjamkan kebunku kepada Allah.” Tsabit sangat gembira dengan keputusannya itu. Dalam perjalanan pulang dia mampir ke kebunnya. Dilihatnya isteri dan anak-anaknya sedang bersantai di bawah pepohonan yang sarat dengan buah.

Dari pintu kebun, Dipanggillah sang isteri, “Hai Ummu Dahdah! Ummu Dahdah! Cepat keluar dari kebun ini, Aku sudah meminjamkan kebun ini kepada Allah!” Isterinya menyambut dengan suka cita, “Engkau tidak rugi, suamiku, engkau beruntung, engkau sungguh beruntung!” Segera dikeluarkannya kurma yang ada di mulut anak-anaknya seraya berkata, “Ayahmu sudah meminjamkan kebun ini kepada Allah.”

Ibnu Mas’ud menceritakan bahwa Rasulullah bersabda, “Berapa banyak pohon sarat buah yang kulihat di surga atas nama Abu Dahdah.” Artinya, Allah memberi Tsabit bin Dahdah pohon-pohon yang berbuah lebat di surga sebagai ganti atas pemberiannya kepada-Nya di dunia.

Indah nian jejak-jejak kedermawanan Nabi Muhammad SAW, lebih indah lagi apa-apa yang dijanjikan Allah atas apa yang diberikan di jalan-Nya. Karenanya, seluruh sahabat pada masa itu berlomba-lomba mengikuti jejak Nabi dalam segala hal, termasuk tentang kedermawanan. Semoga, jejak kedermawanan itu terus terukir pada ummat Muhammad hingga kini selama kita masih terus meleburkan diri pada rantai jejak indah itu, dan mengajarkannya kepada anak-anak dan penerus kehidupan ini.

Jumat, 23 April 2010

SMS dari 02198967xxx

Ustat Yusuf..koleksi cd ustat yg sy punya luar biasa..mengechase sy, dan istri jadi agak tenang stl sering disetel..ustat trus bantu doa ya..agar jadi pengusaha islam yg sukses..dan full suport di jalan ALLAH..sampai wafat..hingga RASUL bangga..dan sy akan cerita bhw guru sy adl..ustat YUSUF MANSYUR..amin.

Jawaban saya:

Alhamdulillah... Saya mau cerita dikit. Alkisah ada seseorang yg tersenyum pada suatu hari, sbb ia katanya bisa bersedekah 15jt. Padahal sebelomnya sedekah 1jt saja rasanya ga pernah. Lalu ditanyakan kpd dia, apakah ia punya rizki banyak sehingga bisa sedekah sampe 15jt begitu? Katanya engga. Terus darimana? Oh, rupanya beliau beli 10 CD The Power of Giving, lalu dia bagi2kan ke kwn2nya. Ternyata ada 2 kawannya yg laporan, bhw setelah mendengar CD tsb, 2 kawannya itu bersedekah masing2 10 & 5jt. Kawan ini senang ketika tahu, bhw ketika orang lain berbuat baik a/ dorongan kita, maka kita dapat pahalanya. Maka itulah dia cerita bhw dia sdh bersedekah 15jt. Di cerita yg lain, tdk sedikit yg laporan bhw mereka2 sdh menjadi juru dakwah/da'i baru. Yaitu dg cara menyampaikan ulang apa yg mereka dengar kpd yg belum dengar. Seperti suami ke istrinya, atau sebaliknya. Atau cara gampangnya, nyetelin CD/Kaset2 dakwah kepada orang2 sekitarnya. Alhamdulillah. Doanya dari semua buat keistiqamahan dan kemanfaatan ilmu dan amal. Amin."

Tanya Jawab SMS ( Kompensasi & Janji )

08193282xxxx:

Ass. Ustadz sy berulang kali bc buku kun fayakun dan ta'lim diberbagai kesempatan. Bagaimana menumbuhkan keyakinan akan kuasa Alloh atas kompensasi shodaqoh yg kita keluarkan. Afwan. Bgmn jg kalkulasi shodaqoh atas niat atau hajat nilai nominal shodaqoh yg hrs dikeluarkan. Spt : kalau kita butuh 50 juta apa dibagi 700? Pembagian atau teori angka 7?

Jawaban :

Bilangan pembaginya: 10 dulu. Kalo 10 ga kuat, pakai bilangan pengali 2,5%. Kalo 2,5% msh ga kuat, pakai bilangan pembagi 700. Nanti angkanya semakin kecil. Tp kudu jujur. Jangan lsg pilih yg 700. Malah kalo bisa, lakukan bilangan pengali yg bukan 10%-an, tp 20, 30, atau >50% hingga ketemu angka sedekah yg berkategori "terbaik" atau pol2an. Untuk bisa menumbuhkan keyakinan adalah mengetahuinya dulu u/ pertama kalinya. Terus mendengar dan membuka hati u/ pengalaman2 sedekah orang banyak. Kemudian meyakini dan melakukan. Bahkan kadang doing is believing itu lbh hebat. Artinya, jgn mikir. Laksanakan saja. Janji sedekah adalah janji Allah. Pasti trjadi. Asal sabar dan yakin serta baik sangka.

Bersedekahlah dan Keuntungan Menantimu ( Arsip Media )

Kampanye bersedekah yang dilancarkan Ustad Yusuf Mansyur sukses. Banyak umat mendermakan bagian hartanya dalam jumlah besar. Tapi apakah benar, bersedekah layak dilakukan untuk mencapai keuntungan?

Senin 4 Mei 2009, waktu baru menunjukkan pukul tujuh pagi, ketika seorang ibu turun dari ojek motor di depan Sekolah Darul Quran Internasional (SDQI), di bilangan Cipondoh, Tangerang, provinsi Banten.

Berbeda dengan para anak murid, sang ibu bergegas ke lantai ke dua gedung sekolah dan yayasan yang didirikan ustad muda dan terkenal Yusuf Mansyur. Di sana ia bergabung dengan belasan ibu-ibu lain yang sudah menunggu. Tujuan mereka satu: berkumpul dan berkonsultasi dengan sang Ustad.

Baru pada sekitar 08.30, Yusuf nampak keluar dari rumah. Didampingi beberapa rekannya, ia berjelan menuju ke gedung. Ia masih harus bertemu dengan beberapa tamunya, sebelum kemudian masuk ke ruang pertemuan.

Waktu menunjukkan sekitar pukul 09.00. Yusuf Mansur duduk di ruangan tersebut. Ia melihat jam tangannya, sebelum berucap, ”Sampai jam sepuluh ya, karena saya harus ke TVRI,” ujarnya. ”Nah sekarang siapa yang mau memulai? Dari ujung sini saja lah,” sambil menunjuk orang di samping kanannya. ”Apa masalahnya?” tanyanya.

Seorang ibu di samping Yusuf Mansur awalnya terlihat ragu untuk mulai bicara. Dia datang tidak sendirian dari Semarang. Di sampingnya, ada ibunya menemani. Ia sendiri memangku seorang anak berusia sekitar lima tahun. Dalam ceritanya, ibu tersebut menyampaikan bahwa saat ini dia sedang terjerat utang sebesar 70 juta rupiah. Selain itu dia saat ini sedang menjanda. Dia ingin utangnya segera terlunasi dan kembali mempunyai suami.

Ustad Yusuf bertanya apa yang ibu tersebut miliki untuk membayar utang tersebut. Selain itu ustad Yusuf juga bertanya apakah ibu tersebut tidak meninggalkan salat wajib, melakukan salat malam dan salat duha, dan berapa rakaat ibu tersebut melakukan salat duha.

Setelah dijawab, Ustad Yusuf berkata, ”Salat duhanya ditambah ya, 12 rakaat. Nah kalau memang motornya mau di jual dan mau disedekahkan, beri makan anak-anak yatim yang ada di dekat rumah ibu. Undang mereka ke rumah selama beberapa hari, dan ibu rajin berdoa. Insya Allah nanti utang ibu akan terlunasi. Kalau mengenai jodoh, lagak-lagak-nya sih sudah dekat, pokoknya jangan tinggal salat duhanya,” urai Ustad Yusuf. Setelah itu Ustad Yusuf mengajak semua hadiri berdoa, untuk mendoakan ibu yang tadi telah menyampaikan masalahnya.

Kapada beberapa orang lain yang berkosultasi, Ustad Yusuf memberi saran serupa. Menanyakan apakah orang tersebut rajin salat, baik itu salat wajib, salat malam dan salat duha, dan seberapa konsisten orang tersebut memberikan sedekah. Setelah itu mengajak berdoa bersama.

Tepat jam sepuluh Ustad Yusuf berpamitan meninggalkan mereka. Madina yang hadir di acara itu tidak melihat ada peserta yang membayar. Ini adalah sebuah konsultasi gratis.

Sedekah sebagai Solusi

Nama Yusuf Mansur memang mencuat beberapa tahun terakhir ini. Dengan program Wisata Hati-nya ia berhasil mengetuk hati ribuan umat Islam untuk mendermakan sebagian dari kekayaan mereka untuk kepentingan sosial. Dari uang yang terkumpul dari sedekah para dermawan itu, Yusuf mengembangkan antara lain, yang paling terkemuka, Program Pembibitan Penghapal Al Quran (PPPA) Daarul Qur’an.

Hanya dalam waktu tiga tahun Daarul Qur’an telah memiliki sekitar 3.00n santri binaan, dan mengembangkan berbagai lembaga pendidikan baik di tingkat SD, SMP, SMA dan STIK. Di beberapa kota juga telah didirikan peantren gratis bagi anak-anak dari keluara tidak mampu. Yusuf memiliki cita-cita tinggi, menjadikan Indonesia bebas buta Al-Qur’an dengan cara mengoptimalisasi penggalangan dana sedekah.

Namun di mata banyak, nama Yusuf Mansyur dikenal terutama karena konsepnya tentang ‘sedekah sebagai solusi’. Dalam berbagai pengajian dan ceramahnya, Yusuf secara bersemangat menunjukkan pada umat bahwa bersedekah bukanlah sekadar sesuatu yang membawa pahala, namun juga dapat melicinkan jalan mencapai tujuan yang kita inginkan. Kira-kira imbauan sederhananya begini: “Bersedekahlah, dan Allah akan memberi apa yang kau minta”.

Yusuf sangat percaya bahwa ‘bersedekah’ adalah sebuah sarana yang disediakan Allah bagi umat-Nya yang sedang meminta sesuatu. Menurutnya, manusia yang tidak mau menggunakan sarana itu adalah manusia yang sombong. Justru, manusia sebaiknya secara jelas menyatakan pada Allah permintaan spesifik yang hendak dicapai saat bersedekah.

Apa yang didakwahkan ini disambut baik. Banyaknya pihak yang bersedia mensedekahkan uang mereka pada PPPA menunjukkan besarnya kepercayaan mereka. Sebuah buku yang dikeluarkan PPPA, berjudul Senjata Kaum Beriman (2009) memuat berbagai kisah pribadi yang menggambarkan bagaimana sedekah yang dikeluarkan dibayar kontan oleh Allah.

Contohnya cerita Agus Kuncoro, pemain utama dalam sinetron Para Pencari Tuhan. Beberapa tahun lalu ia pernah mengalami masa-masa sulit. Ia putus hubungan dengan calon istrinya, putus hubungan kerja, dan rumah kontrakannya terbakar. Agus mengaku, saat itu ia merasa kehilangan pegangan.

Sampai suatu saat, ia bertemu dengan seorang ustad yang memberi saran sederhana. Menurut sang ustadz, kalau Agus ingin memperoleh pertolongan Allah, ia harus melakukan aqad dengan Allah. “Lu kalau bersedekah kudu pake aqad. Kalau lu ngasih ke orang, sebutir, Lu maunya apa sama Allah. Jangan ngasih-ngasih aja tanpa pamrih pada Allah. Kalau lu bersedekah tanpa pengharapan pada Allah, sama aja Lu pelit berdoa sama Allah,” kata si utsda dengan gaya bicara Betawi.

Nasehat itu pun diikuti Agus. Ia tingkatkan sedekahnya, diiringi dengan doa pengharapan kepada-Nya. Nyatanya strategi itu sukses. “Alhamdulillah, setelah itu pintu-pintu rejeki buat saya seperti terbuka, sehingga saya banyak order dan punya rumah sendiri,” cerita Agus.

Persoalan lain Agus adalah soal anak. Setelah tiga tahun menikah, tak ada tanda-tanda kehamilan pada istrinya. Ia berkonsultasi pada Ustad Yusuf. Saran sang ustad sederhana: sedekahkan saja setengah dari honor film Kun Fayakun. Saran ini diikuti Agus. Ia sumbangkan sebagian penghasilannya pada PPPA. Lagi-lagi sukses. Tak lama kemudian, istri Agus hamil.

Ada banyak cerita lain. Ada kisah tentang seorang wanita yang bisa naik haji dan memperoleh jodoh setelah bersedekah dalam jumlah banyak. Atau tentang seorang pengacara yang menghabiskan uang di atas Rp 150 juta milik kliennya, namun akhirnya bebas dari amukan kliennya setelah ia memutuskan untuk menyedekahkan isi rumah dan kantornya. Dalam kasus lain, seorang wanita yang selamat tanpa cacat dari tabrakan fatal yang dialaminya percaya bahwa itu hanyalah satu rangkaian ‘kejaiban’ dari bersedekah. Begitu juga ada seorang wanita yang selamat dari peristiwa bom Bali percaya itu terjadi karena ia rajin bersedekah.

Sebagian cerita nampak sederhana. Ada pengakuan tentang seorang pria yang mobilnya bermasalah ketika menempuh perjalanan Jakarta-Bandung. Karena itu, ia menerapkan jurus ‘memberi sedekah penolak bala’. Caranya, ia bersedekah Rp 5.000 pada pengemis di beberapa titik perjalanan. Hasilnya? Ia mencapai Bandung dengan selamat.

Solusi sedekah dan Hitungannya

Maafkan kalo ada huruf kapitalnya, sekedar memberikan penekanan kepada kebaikan dan motivasi kita semua, Insya Allah yaa..

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. DAN ORANG YANG DISEMPITKAN REZEKINYA, HENDAKLAH MEMBERI NAFKAH DARI HARTA YANG DIBERIKAN ALLAH KEPADANYA. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan."
(Q.S. Ath Thalaaq [65] ayat 7)

Sempit rezeki yg disebut ayat itu macem2 seperti resah, kesehatan yg kurang, masalah yg menumpuk, dll Nah perhatiin ayat diatas buat kita yg merasa rezeki kita sempit, justru bukalah (luaskanlah), lapangkanlah rezeki kita dengan BERSEDEKAH. Jangan malah kita tahan harta kita. Ibarat menggenggam pasir lautan ditangan kita, semakin kita genggam, eee malah semakin habis dia dari genggaman kita lantaran tumpah dari sela-selaa jari tangan.

Insya Allah, dengan sedekah, Allah akan mengganti sedekah kita dengan 2x lipat, 10x lipat, 700x lipat atau mungkin bahkan lebih banyak dari itu.

Misalnya saja,
Kita sedekah 1000 maka balasannya dari Allah adalah kalau ga jadi 2.000 ya 10.000 atau malah 700.000 bahkan bisa jadi lebih dari itu. Balasan Allah pun tidak serta merta dalam wujud uang tunai, ada juga yang diberikan dalam wujud KESEHATAN, DAPET ANAK SHALEH/SHALEHAH, SELAMAT DARI BENCANA, AWET MUDA dan lain-lain....

Hitung2annya dari sini, juga Firman Allah SWT berikut ini....

"Perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya DUA KALI LIPAT. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat. “
(Q.S. Al Baqarah [2] ayat 265)

"Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) SEPULUH KALI LIPAT AMALNYA dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan) “
(Q.S. Al An'aam [6] ayat 160)

"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. “
(Q.S. Al Baqarah [2] ayat 261)
ayat ini (JIKA DITOTAL PAHALANYA 7x 100 = 700 KALI LIPAT)


Nah, tunggu apalagi ???!!
Ini real BISNIS, jika Anda mau berarti kita sedang melakukan bisnis dengan Dzat Yang Maha Benar Janji-Nya, Dzat Yang Tidak Akan Pernah Ingkar Dengan Janji2-Nya, Dzat Yang Maha Kaya Raya di alam semesta ini.

So... turunin rezeki kita dengan sedekah. Buruaannn... jangan pake nanti-nanti, ini berita dari al Quran, yang bisa juga ini berarti PERINTAH ALLAH kepada hamba2-Nya. Yang jelas ini ilmu bukan dari saya tapi dari Allah sendiri.

Bukankah untuk mendapatkan seekor ikan, terkadang kita harus mancing duluan? Ya sudah, pancing aja rezeki kita dengan SEDEKAH.

Bersegera dalam kebaikan

Orang mengenal saya sebagai penganjur sedekah ( Bahkan ada
sebagiannya su'udzon pada saya sbg pemburu sedekah hehehe
) aslinya saya ini penganjur dalam menghidupkan sunnah,
menegakkan sholat dimana untuk awal perbaikan seseorang.
Kebetulan saja sisi sedekahnya yg menonjol, padahal saya
mirip2 jamaah tablig yg menyerukan hidupkan sunnah.

Subhanallah mudah2an Allah menyelamatkan hidup kita.
perkara penganjur lalu disebut pemburu sedekah gak
apa-apa juga, karena saya ngajar bab sedekah, masa
nyuruhnya baris berbaris atau senam.

Kenceng bener kalo udah nyuruh sedekah, tapi kalo
masuk bab Qur'an, sunnah dan dhuha malah jarang
masuk ke sedekahnya.
Saya senang mengclosing sedekah seseorang, Namun
saya berharap di rentetan amalnya, bukan di fisik
sedekahnya. Saya cenderung mengeksekusi cepat,
sebab kalo lambat2, orang masuk angin dan banyak
yg gak jadi sedekah. Biarlah kadang disesali.

Namun perjalanan waktu,jadi nyesel bila diambil
lagi sedekahnya, karena akan berbuah. Keikhlasan
akab berjalan dengan waktu juga keyakinan dan
baik sangka. Tugas sebagian pendakwah, yang
kadang maksain, dorongin dalam berbuat kebaikan.

Salam dari Mekkah.

SELUK BELUK SEDEKAH

"Boleh gak pamrih sama Allah...?"

Emang boleh sedekah dengan minta sama2 kpd Allah ?, apa gak pamrih tuh?, bukankah harus ikhlas memurnikan sedekah karena Allah ?"

Pertanyaan ini seriiiiing bener ditanyakan sama jamaah, saya juga seneng jawabinnya jika ada waktu, sebab ini bukan saja persoalan keyakinan tetapi persoalan keyakinan dan tauhid kita.
Allah meminta kita untuk meminta kepada-Nya, tanpa diharuskan sedekah apa tidak.
Artinya tanpa sedekah pun kita juga bisa minta sama Allah.

Karena sedekah itu amal shaleh, mestinya lebih bisa lagi kita meminta kepada Allah, karena disertai dengan amal shaleh.

Kemudian ada yg nanya, terus kemudian niatnya apa?, sedekah pengen punya mobil?.Masa iya sih sedekah pengen punya mobil..Wuah saya mah istiqomah dgn jawaban saya, sekali lagi berdoa supaya punya mobil saja boleh, apalagi jika didahului sedekah.

Coba buka mata hati sebentar dgn pemikiran atau gagasan ini, jangan terburu2 ditolak, kalau dari awal udah nolak, ya susah. Coba ya ikuti penjelasannya, koreksi kalimat saya dalam permohonannya begini :

" Ya Allah besok udah mau puasa, habis puasa datang lebaran. Saya pengeeeeeeen muliakan orang tua, ingin manjain orang tua, bahagiakan mereka..dulu waktu orang tua gagah, pulang kampung berdempet2an kagak jadi masalah, sekarang usia senja kasihan mereka, Ya Allah berikanlah saya Mobil, berikanlah hamba rejeki untuk bisa beli mobil, agar saya bisa persembahkan kpd orang tua, Engkau menyuruhku meminta hanya kepada-Mu, sedangkan Engkau maha Pemurah, jadikanlah rejeki mobil ini tiba sebelum lebaran, agar didalamnya orang tua saya bisa tersenyum bahagia, tanpa harus berjalan dikeramaian dengan resiko bermacam2 seperti maling dsb.."

Boleh gak doa begitu, saya rasa gak satu pun yang bilang gak boleh, karena memang ada kesantunan dalam berdo'a, untuk pribadi kita yang dihubungkan dengan kemaslahatan ibadah kita yang lain, apalagi dalam rangka berbakti kpd orang tua, jika demikian bagusnya niat, gak mustahil doa yang tadinya dalam konteks candaan malah membuat diri sodara bisa memiliki Mobil beneran.

kesantunan disertai keperluan beribadah dalam do'alah sewajarnya untuk dikabulkan, bukan dengan kalimat doa mentah seperti " Ya Allah saya udah bersedekah ni, kabulkan keinginan saya..."
jelas bukan ini yang saya maksudkan, Allah maha baik, suka dengan kebaikan, di tangan-Nya segala kebaikan dan kekuasaan, Insya Allah dengan niatan redaksi yg benar diiiringi untaian kalimat merendah Doa dan amalan shaleh akan seiring menjadi solusi dari setiap permasalahan kita, Insya Allah, Amin.

Bagaimana mengajarkan Anak Bersedekah

Awal mengajarkan anak bersedekah, khususnya anak usia dini adalah dengan keteladanan. Anak diajarkan untuk bisa bersedekah kepada fakir miskin. Orang tua yang mengajari anak, dan cukup mengatakan ini sedekah. Karena mungkin anak kecil belum tahu apa makna sedekah lebih dalam. Ia hanya tahu kalau ada peminta-minta maka orang tuanya memberikan uang misalnya 500 atau 1000. Sedikit-sedikit ketika anak sudah mulai isa diajarkan berkomunikasi, maka kita mengenalkan makna sedekah. Bahwa Nabi Saw mengajarkan kita untuk bersedekah, bahwa sedekah itu berpahala dan Allah mencintai orang-orang yang bersedekah. Orang yang bersedekah akan mendapatkan balasan pahala yang berlipat ganda di akhirat. Akhirnya anak akan mengenal kebiasaan bersedekah dan tidak pelit atau sulit menyedekahkan sebagian hartanya. Kalau ia punya uang jajan, ia tidak sulit menyedekahkan uang jajannya. Kalau dia tidak punya uang kita juga bisa mengajarkan untuk mengatakan tidak, maaf pak/bu sedang tidak ada uang. Pada pendidikan prabaligh, usia SD kita sudah bisa mengenalkan lebih jauh tentang sedekah. Kita mengajarkan tentang Infaq. Bahwa ada infaq yang wajib dan ada infaq yang sunnah. Infaq wajib apa saja, diantaranya menafkahi keluarga dan berzakat, infaq yang sunnah adalah sedekah. Tetapi sedekah ini sudah menjadi kebiasaan baik yang mudah dilakukan seorang anak, karena dia sudah biasa melakukannya sejak kecil. Yaitu menjalankan sunnah bersedekah. Targetnya adalah ia menjadi orang yang mudah mengorbankan hartanya

Bagaimana bila anak sulit berbagi?

Kalaupun ada anak yang kategorinya sulit berbagi, maka dengan pengajaran bersedekah ini akan lebih cepat terindikasi. Misalnya, ketika dia tidak mau mengorbankan uang jajannya selain untuk jajan. Maka ini indikasi anak tidak mudah mengorbankan harta. Saya juga pernah meminta tolong seorang anak kecil memberikan sedekah kepada pengemis di luar, dia mengatakan yang 500 buat aku ya. Waktu itu sedekahnya 1000. Ini menunjukkan dia belum otomatis memberikan sedekah dengan mudah. Tapi insya Allah dengan pembiasaan yang baik dan runtin anak akan berubah. Kepada anak yang sulit mengorbankan harta kita bisa memberikan pemahaman bagaimana kelebihan-kelebihan orang yang suka bersedekah.

Pada anak-anak dengan rasa pemilikan tinggi, apakah mereka ini bisa diajarkan mudah bersedekah? Insya Allah bisa, asalkan orang tua intensif memperhatikan masalah ini. Saya pernah melihat seorang anak dengan rasa memiliki yang tinggi. Tetapi karena dia telah dibiasakan bersedekah,maka ia tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk bersedekah. Di sisi lain, ketika bukan sedang bersedekah maka dia sangat pandai menjaga dan mengembangkan hartanya. Sebenarnya ini sifat yang baik yang akan menguatkan seorang muslim. Ketika dia berbisnis, maka dia optimalkan kemampuannya untuk berbisnis. Mengembangkan harta dengan cara yang halal. Ketika ia bersedekah, maka ia tidak segan-segan mengorbankan hartanya dijalan kebaikan. Sebagaimana yang terjadi pada sahabat Abudrrahman bin Auf yang kaya raya karena pandai berdagang dan Allah melimpahinya kekayaan yang mengalir. Ia juga sangat banyak berinfaq, baik infaq yang wajib seperti zakat dan menafkahi kerabat atau infaq yang sunnah seperti sedekah. Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa Aisyah mendengar ada suara gaduh di madinah, sehingga bertanya ada apa ini? Orang-orang menjelaskan : Unta-unta Abdurrahman bin Auf baru datang dari syam dan membawa dagangannya. Dituturkan bahwa unta-unta tersebut sekitar tujuh ratus ekor. Madinah sangat ramai saat itu. Aisyah berkata: Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: Aku melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan cara merangkak. Perkataannya itu sampai ke Abdurrahman. Ia berkata: Seandainya memungkinkan aku ingin masuk surga dengan berjalan. Setelah itu ia menginfaqkan seluruh hasil perdagangannya saat itu. Itu jumlah yang sangat besar. Selain Abdurrahman bin Auf, juga ada sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq dan Utsman bin Affan, para sahabat yang kaya raya tetapi sangat-sangat mudah bersedekah.



Seringkali sekarang peminta-minta itu terorganisir dan belum tentu mereka miskin, apakah ini tidak menghambat keinginan kita untuk bersedekah?

Sedekah adalah sedekah. Ketika ada orang meminta, maka kalau kita memberi itu berpahala. Kecuali bila secara zhahir kita tahu hasil sedekah itu akan digunakan untuk berbuat maksiat. Maka lebih baik tidak diberikan. Tetapi apapun yang kita berikan secara ikhlas akan berpahala. Dan Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan amalan kita. Untuk itu memang harus dipisahkan tentang bagaimana solusi terhadap orang yang suka meminta-minta karena terorganisir atau profesi dengan sedekah kita. Jangan sampai analisa-analisa kita yang bisa jadi sebagian hanya sumsi akan menghalangi kita berbuat baik. Kalaupun ketahuan bahwa ternyata mereka tidak miskin dan hanya sekedar meminta-minta untuk menumpuk kekayaan, maka sedekah kita yang ikhlas tidak akan sia-sia dan selanjutnya kita akan bisa bersedekah secara jelas kepada fakir miskin. Sementara di sis lain kita juga perlu menegakkan amar ma’ruf nahi munkar kepada mereka yang mencari kekayaan dengan cara itu. Bisa menyampaikan kepada pemerintah atau para tokoh masyarakat yang bisa memberikan jalan keluar. Tetapi yang terbaik adalah terus menerus menegakkan dakwah utuk mengubah sistem yang kapitalistik seperti ini, karena hal tersebut juga bersumber dari kehidupan yang kapitalis dan sekularis. Dengan kehidupan Islam, insya Allah masalah-masalah semacam itu juga akan terselesaikan