Tampilkan postingan dengan label Orang Kaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Orang Kaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Mei 2010

Kisah Menjadi Kaya karena Menikah


Pada hari-hari pertama pernikahan kami, suami bertanya, “Ke mana saja uangmu selama ini?” Pertanyaan itu sungguh menggedor dadaku. Ya, ke mana saja uangku selama ini? Buku tabunganku tak pernah berisi angka belasan hingga puluhan juta. Selalu hanya satu digit. Itu pun biasanya selalu habis lagi untuk kepentingan yang agak besar seperti untuk bayar kuliah (ketika aku kuliah) dan untuk kepentingan keluarga besarku di kampung. Padahal, kalau dihitung-hitung, gajiku tidaklah terlalu kecil-kecil amat. Belum lagi pendapatan lain-lain yang kudapat sebagai penulis, instruktur pelatihan menulis, pembicara di berbagai acara, guru privat, honor anggota tim audit ataupun tim studi. Lalu, ke mana saja uangku selama ini? Kepada suamiku, waktu itu aku membeberkan bahwa biaya operasional untuk keaktifanku cukup besar. Ongkos jalan, pulsa telepon, nombok biaya kegiatan, makan dan traktiran. Intinya, aku mencari apologi atas aliran uangku yang tidak jelas.

Namun diam-diam aku malu padanya. Sesaat sebelum pernikahan kami, dia berkata, “Gajiku jauh di bawah gajimu...”. Kata-kata suamiku -ketika masih calon- itu membuatku terperangah. “Yang benar saja?” sambutku heran. Dengan panjang kali lebar kemudian dia menjelaskan kondisi perusahaan plat merah tempatnya bekerja serta bagaimana tingkat numerasinya. Yang membuatku lebih malu lagi adalah karena dengan gajinya yang kecil itu, setelah empat tahun hidup di Jakarta, ia telah mampu membeli sebuah sepeda motor baru dan sebuah rumah –walaupun bertipe RSS- di dalam kota Jakarta. Padahal, ia tidak memiliki sumber penghasilan lain, dan dikantornya dikenal sebagai seorang yang bersih, bahkan “tak kenal kompromi untuk urusan uang tak jelas.” Fakta bahwa gajinya kecil membuatku tahu bahwa suamiku adalah seorang yang hemat dan pandai mengatur penghasilan. Sedang aku?

***

Hari-hari pertama kami pindahan.
Aku menata baju-baju kami di lemari. “Mana lagi baju, Mas?” tanyaku pada suami yang tengah berbenah. “Udah, itu aja!” Aku mengernyit. “Itu aja? Katanya kemarin baju Mas banyak?” tanyaku lebih lanjut. “Iya, banyak kan?” tegasnya lagi tanpa menoleh. Aku kemudian menghitung dengan suara keras. Tiga kemeja lengan pendek, satu baju koko, satu celana panjang baru, tiga pasang baju seragam. Itu untuk baju yang dipakai keluar rumah. Sedang untuk baju rumah, tiga potong kaos oblong dengan gambar sablon sebuah pesantren, dua celana pendek sedengkul dan tiga pasang pakaian dalam. Ketika kuletakkan dalam lemari, semua itu tak sampai memenuhi satu sisi pintu sebuah lemari. Namun dua lemari besar itu penuh. Itu artinya pakaianku lebih dari tiga kali lipat lebih banyak dibanding jumlah baju suamiku. Kata orang, kaum wanita biasanya memang memiliki baju lebih banyak dibanding kaum laki-laki. Tapi isi lemari baju itu memberikan jawaban atas banyak hal padaku. Terutama, pertanyaannya di hari-hari pertama pernikahan kami tentang ke mana saja uangku. Isi lemari itu memberi petunjuk bahwa selain untuk keluarga dan organisasi, ternyata aku menghabiskan cukup banyak uang untuk belanja pakaian. Oo!

Pekan-pekan pertama aku hidup bersamanya.
Aku mencoba mencatat semua pengeluaran kami. Dan aku sudah mulai memasak untuk makan sehari-hari. Cukup pusing memang. Apalagi jika melihat harga-harga yang terus melonjak. Tapi coba lihat...! Untuk makan seminggu, pengeluaran belanjaku tak pernah lebih dari seratus ribu. Padahal menu makanan kami tidaklah terlalu sederhana: dalam seminggu selalu terselip ikan, daging atau ayam meski tidak tiap hari. Buah–makanan -kesukaanku- dan susu –minuman favorit suamiku- selalu tersedia di kulkas. Itu artinya, dalam sebulan kami berdua hanya menghabiskan kurang dari lima ratus ribu untuk makan dan belanja bulanan. Aku jadi berhitung, berapa besar uang yang kuhabiskan untuk makan ketika melajang? Aku tak ingat, karena dulu aku tak pernah mencatat pengeluaranku dan aku tidak memasak. Tapi yang pasti, makan siang dan malamku rata-rata seharga sepuluh hingga belasan ribu. Belum lagi jika aku jalan-jalan atau makan di luar bersama teman. Bisa dipastikan puluhan ribu melayang. Itu artinya, dulu aku menghabiskan lebih dari 500ribu sebulan hanya untuk makan? Ups!



Baru sebulan menikah.
“De, kulihat pembelian pulsamu cukup banyak? Bisa lebih diatur lagi?”
“Mas, untuk pulsa, sepertinya aku tidak bisa menekan. Karena itu adalah saranaku mengerjakan amanah di organisasi.” Si mas pun mengangguk. Tapi ternyata, kuhitung dalam sebulan ini, pengeluaran pulsaku hanya 300 ribu, itu pun sudah termasuk pulsa untuk hp si Mas, lumayan berkurang dibanding dulu yang nyaris selalu di atas 500 ribu rupiah.

Masih bulan awal perkawinan kami.
Seminggu pertama, aku diantar jemput untuk berangkat ke kantor. Tapi berikutnya, untuk berangkat aku nebeng motor suamiku hingga ke jalan raya dan meneruskan perjalanan dengan angkutan umum sekali jalan. Dua ribu rupiah saja. Pulangnya, aku naik angkutan umum. Dua kali, masing-masing dua ribu rupiah. Sebelum menikah, tempat tinggalku hanya berjarak tiga kiloan dari kantor. Bisa ditempuh dengan sekali naik angkot plus jalan kaki lima belas menit. Ongkosnya dua ribu rupiah saja sekali jalan. Tapi dulu aku malas jalan kaki. Kuingat-ingat, karena waktu mepet, aku sering naik bajaj. Sekali naik enam ribu rupiah. Kadang-kadang aku naik dua kali angkot, tujuh ribu rupiah pulang pergi. Hei, besar juga ya ternyata ongkos jalanku dulu? Belum lagi jika hari Sabtu Ahad. Kegiatanku yang banyak membuat pengeluaran ongkos dan makan Sabtu Ahadku berlipat.

Belum lagi tiga bulan menikah.
“Ke ITC, yuk, Mas?” Kataku suatu hari. Sejak menikah, rasanya aku belum lagi menginjak ITC, mall, dan sejenisnya. Paling pasar tradisional. “Oke, tapi buat daftar belanja, ya?” kata Masku. Aku mengangguk. Di ITC, aku melihat ke sana ke mari. Dan tiap kali melihat yang menarik, aku berhenti. Tapi si Mas selalu langsung menarik tanganku dan berkata,”Kita selesaikan yang ada dalam daftar dulu?” Aku mengangguk malu. Dan aku kembali teringat, dulu nyaris setiap ada kesempatan atau pas lewat, aku mampir ke ITC, mall dan sejenisnya. Sekalipun tanpa rencana, pasti ada sesuatu yang kubeli. Berapa ya dulu kuhabiskan untuk belanja tak terduga itu?

Masih tiga bulan pernikahan “Kita beli oleh-oleh sebentar ya, untuk Bude?” Masku meminggirkan motor. Kios-kios buah berjejer di pinggir jalan. Kami dalam perjalanan silaturahmi ke rumah salah satu kerabat. Dan membawakan oleh-oleh adalah bagian dari tradisi itu.
“Sekalian, Mas. Ambil uang ke ATM itu...” Aku ingat, tadi pagi seorang tetangga ke rumah untuk meminjam uang. Ini adalah kesekian kali, ada tetangga meminjam kepada kami dengan berbagai alasan. Dan selama masih ada si Mas selalu mengizinkanku untuk memberi pinzaman(meski tidak langsung saat itu juga). Semua itu membuatku tahu, meskipun hemat, si Mas tidaklah pelit. Bersikaplah pertengahan, begitu katanya. Jangan menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak jelas, tapi jangan lantas menjadi pelit!

***

Semester pertama pernikahan.
Mengkilat. Elegan. Kokoh. Masih baru. Gress. Begitu sedap dipandang mata. Benda itu, sudah sekian lama kuinginkan. Sebuah laptop baru kelas menengah (meski masih termasuk kategori low end). Namun selama ini, setiap kali melihatnya di pameran atau di toko-toko komputer, aku hanya bisa memandanginya dan bermimpi. Tak pernah berani merencanakan, mengingat duitku yang tak pernah cukup. Tapi rasanya, dalam waktu dekat benda di etalase itu akan kumiliki. Rasanya sungguh indah, memiliki sebuah benda berharga yang kubeli dengan uangku sendiri, uang yang kukumpulkan dari gajiku.

Sejak menikah, aku tak pernah lagi membeli baju untuk diriku sendiri. Pakaian dan jilbabku masih dapat di-rolling untuk sebulan. Sejak menikah, aku memilih membawa makan siang dari rumah ke kantor. Aku juga jarang ke mall lagi. Dan kini, setiap kali akan membeli sesuatu, aku selalu bertanya: perlukah aku membeli barang itu? Indahnya, aku menikmati semua itu. Dan kini, aku bisa menggunakan tabunganku untuk sesuatu yang lebih berharga dan tentu saja bermanfaat bagi aktifitasku saat ini, lingkunganku dan masa depanku nanti.

Aku bersyukur kepada Allah. Semua ini, bisa dikatakan sebagai berkah pernikahan. Bukan berkah yang datang tiba-tiba begitu saja dari langit. Tapi berkah yang dikaruniakan Allah melalui pelajaran berhemat yang dicontohkan oleh suamiku. Rabb, terima kasih atas berkahMu...

Jumat, 23 April 2010

Pengemis, preman, anak kecil dan Orang Kaya

Suatu hari dalam perjalanan pulang menggunakan bis jurusan Senen-Cikokol, aku duduk dibangku nomer dua belakang pak sopir (biasanya lebih sering berdiri berdesak-desakan). Seperti biasa, alunan gitar akustik dan nyayian seniman jalanan ibu kota selalu menghibur gendang telinga para penumpang yang penat kerja seharian . Kalau di hitung-hitung, ada tiga hingga lima pengamen naik turun bis menjajakkan hiburan terbaiknya, ada yang berpuisi, lagu pop-rock terbaru, nasyid, dangdut, bahkan nyayian kidung rohani gereja. “Sambung menyambung seperti pulau Indonesia, jadi jangan bosan ya!,” kata pengamen menjelaskan.

Ada juga yang berlagak seperti preman, meminta uang tanpa sajian hiburan apapun, kata-katanya mengancam. “Dari pada saya menodong, mencuri, menjambret, lebih baik saya terus terang pada om, tante, bapak, ibu. Dengan sumbangan seratus limaratus, seribu dua ribu berarti anda telah mengurangi angka kriminal di Jakarta,” kata salah seorang dari mereka. Yang terakhir ini membuat saya jadi eneg, dan males merogoh kantong untuk berpartisipasi walau hanya gope.

Di hari yang lain, seorang anak laki-laki kecil, berwajah kusam, kulitnya (gelap) terbakar matahari menggendong (mungkin) adiknya. Dengan memelas dia berdiri didepan memperkenalkan diri. “Para penumpang yang budiman, bantulah kami untuk membelikan susu adik saya, ayah meninggal, kami tidak bisa beli susu. Tolonglah pak-bu, om-tante, kakak biar adik saya tidak nangis terus…” kemudian dia duduk bersimpuh sambil mengangkat tangan kanannya, “Saya Apandi bersumpah bahwa apa yang saya katakan benar. Kalau saya berbohong biarlah saya mati dipinggir jalan,”

Setelah berprolog tentang kemalangan nasib, sambil mengelus-elus kepala adiknya, sesekali adiknya menangis, ia mengeluarkan kantong permen Relaxa, dan mulai mengedarkan dari penumpang satu ke penumpang yang lain. Saya perhatikan, hanya satu-dua penumpang yang menyumbang.. Sepertinya para penumpang “tidak” tersentuh oleh aksi eksploitasi ketidakberdayaan anak laki-laki kecil itu. Melihat kejadian itu hatiku menjadi gelisah, ada pertanyaan besar di dalam diriku, mungkinkah anak belasan tahun itu hanya dimanfaatkan oleh sindikat tertentu untuk dijadikan mesin uang dengan menampilkan wajah papa dan kepolosannya?. Mungkin sebagian besar penumpang sudah tau dari media massa tentang fatwa MUI soal keharaman memberi sumbangan di jalanan?

Mengapa sih hanya untuk membeli sebungkus nasi atau susu harus merendahkan harga diri dengan mengeksploitasi kemiskinan dan bersumpah serapah? Apa tidak ada jalan lain untuk menjemput rezeki? Alangkah baiknya jika berkarya ala musisi jalanan, karena saya perhatikan pengamen yang mendendangkan sholawat Nabi, Opick, atau nasyid ala Raihan lebih disukai dan diminati penumpang dari pada harus mengumpat atau memelas. Apalagi bis Senen-Cikokol sering dihinggapi pengamen gereja dengan mendendangkan kidung gereja yang sangat mengganggu gendang telinga saya yang sangat sensitif (maaf ya pengamen gereja?). Logika ideologi lebih dikedepankan sehingga setiap kali ada pengamen yang melantunkan nasyid Opick atau Raihan, para penumpang dari deret bangku depan sampai belakang suka ria memenuhi kantong permen Kopiko dengan limaratus-seribu.“Ini pertarungan ideology bung!”. Kecamuk hati saya.

Duhai anak kecil, janganlah kau umbar kemiskinan. Cobalah berkarya yang lebih bermakna. Pasti para penumpang akan berempati kepadamu!. Ingatlah nak, di antara mulainya tujuan yang diinginkan Syariat Islam adalah, membangun mental seorang Muslim untuk tidak suka meminta-meminta, dan memelihara air mukanya dari kehinaan akibat mengemis. Inilah pancaran aqidah Islam yang begitu murni dan sangat indah, sehingga Islam selalu mengaitkan antara seorang Muslim dengan Allah Yang Maha Kuasa. Baik dalam kelapangan atau kesempitan, dalam kesusahan atau kemudahan, dalam kondisi semangat atau benci.



Aaah…saya jadi ter-ngiang-ngiang nasehat teman perjalanan saya (baca buku), dalam buku “65 Kisah Teladan Pemuda Islam yang Brilyan” karya Muhamad Sulthan, dalam buku ini diceritakan bahwa, suatu hari ada orang kaya masuk masjid untuk melaksanakan sholat, dia termasuk orang yang sholeh, lalu dia melihat seorang anak kecil yang berumur tidak lebih dari 12 tahun sedang berdiri mengerjakan sholat dengan khuyu’. Tatkala anak itu selesai dari sholatnya mendekatlah si kaya seraya bertanya kepadanya,
“Anak siapa kamu?”
“Aku anak yatim, aku kehilangan ayah da ibuku,”
“Maukah kau jadi anakku?”
Si anak berkata, “Kau bisa memberiku makanan dan pakaian. Tapi apakah engkau akan menghidupkan aku tatkala aku sudah mati?

Takjublah lelaki itu seraya berkata, “Ini tidak mungkin dilakukan!”. Anak kecil itu berkata, “Kalau begitu, tinggalkanlah aku bersama Dzat Yang telah menciptakan aku, memberiku rezeki, mematikan aku dan menghidupkan aku kembali,”. Lelaki itu berkata kepada si anak, “Benar wahai anakku! Barang siapa yang bertawakal kepada Allah, pasti dia mencukupinya.”

Antara anak laki-laki pengemis dengan anak kecil di masjid. Mereka anak zaman berbeda, dilahirkan dalam suhu peradaban yang berbeda. Tapi sama-sama dalam kondisi yatim dan papa. Saya jadi manggut-manggut untuk menyimpulkan, untuk menjemput rezeki cukuplah izzah dan ketakwaan, dengan izzah seseorang lebih bermartabat, dengan ketakwaan seorang muslim akan berusaha dan bertawakal. Untuk sebungkus nasi tidak usahlah menghinakan diri!.