Rabu, 19 Mei 2010

IBLIS Pelopor Materialisme ( Matre )

Materialisme adalah faham hidup yang dianut banyak manusia sejak dahulu kala sampai hari ini. Bahkan IBLIS adalah BAPAK MATERIALISME PERTAMA di alam semesta ini. Kebanggaannya dan klaimnya yang tidak didasari pengetahuan, bahwa api lebih baik dari tanah adalah bukti bahwa Iblis adalah penganut faham materialisme pertama. Kemudian diteruskan oleh anak cucu Adam yang tergoda dan tertipu oleh Iblis khususnya bangsa Yahudi.

Tidak ada perbedaan mendasar antara materialisme di zaman prasejarah maupun di zaman moderen sekarang ini. Secara umum, materialisme terbagi kepada tiga kategori:

a. Materialisme yang berkedok ilmu pengetahuan seperti yang dikembangkan kaum evolusionis. Pemikiran seperti ini bermuara dari falsafah materialisme yang dikembangkan Barat yang meneruskan pemikiran dan falsafah Yunani Kuno. Kaum materialis yang berkedok ilmu pengetahuan ini sesungguhnya menafikan keberadaan Tuhan Pencipta alam semesta. Tokoh klasiknya yang diagungkan di zaman moderen adalah Charles Darwin. Darwin dengan teori evolusinya yang miskin argumentasi itu telah banyak menyesatkan manusia, tak terkecuali dari kalangan Muslim. Ironisnya, teori evolusi telah menjadi landasan berfikir peradaban Barat moderen dan juga Dunia Islam yang terpengaruh oleh peradaban Barat, paling tidak satu abad belakangan.

Teori yang dikembangkan kaum evolusionis-materialis ini telah melahirkan generasi atheist di berbagai belahan dunia, termasuk di Dunia Islam. Namun demikian, teori yang sempat dibanggakan oleh berbagai kalangan ilmuwan dunia sekitar satu setengah abad ini secara ilmiah telah kandas sejak awal abad 20 karena nyata-nyata bertentangan dengan berbagai penemuan ilmiah yang tak terbantahkan, seperti teori Big Bang, penemuan sisa-sisa radioaktif oleh ilmuwan NASA tahun 1988 dan berbagai penemuan ilmiah lainnya dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan moderen seperti embriologi, astronomi dan sebagainya. Semua penemuan tersebut dengan jelas membuktikan adanya Zat Pencipta alam semesta yakni Allah Ta’ala. Kendati demikian, pengaruh faham materialisme yang berkedok ilmu pengetahuan tersebut masih kuat dalam kehidupan manusia moderen karena telah menjadi kultur/budaya.

b. Materialisme yang berbasis sosial ekonomi. Faham materialisme ini boleh dikatakan sebagai saudara kembar faham materialisme yang berkedok ilmu pengetahuan. Kendati materialisme berbasis sosial ekonomi ini tidak sevulgar jenis yang pertama dalam menolak dan menafikan eksistensi Tuhan Pencipta, namun implikasinya dalam kehidupan sama saja, yakni penolakan atas konsep Tuhan Pencipta secara total atau setengah-setengah dan pada waktu yang bersamaan terjebak mempertuhankan benda dan apa saja yang berbentuk materi khususnya harta benda, pangkat dan lain sebagainya.

c. Materialisme yang berbasis tanah dan air atau apa yang disebut dengan faham nasionalisme. Faham materialisme jenis ini sesungguhnya sudah terkikis dari atas bumi, khususnya di negeri-negeri Islam sejak Rasululllah Saw. mendeklarasikan pertama kali Negara Madinah, sebuah negara moderen yang didasari falsafah dan ideologi Tauhid yang menjadi dasar konsep kenegaraan dan pemerintahan moderen. Di antaranya ialah standarisasi loyalitas terhadap tanah tempat kelahiran manusai bukan berdasarkan keturunan, warna kulit, bahasa, suku, tempat dan tanggal lahir dan sebagainya, melainkan berdasarkan komitmen ideologi terhadap Tuhan Pencipta, serta tegaknya nilai-nilai kebenaran dan keadilan di tengah masyarakat, kendati mereka berbeda suku, warna kulit, bahasa, dan bahkan berbeda agama sekalipun. Hal itu disebabkan, karena bumi, langit dan semua makhluk yang ada di dalamnya dan di antara keduanya, termasuk manusia adalah makhluk (diciptakan) Allah Ta’ala.




Fakta menunjukkan, bahwa ketiga virus materialisme tersebut menjadi fakor utama kehancuran dan kekacauan tatanan hidup manusia. Berbagai fasilitas dunia yang seharusnya berfungsi sebagai sarana kehidupan telah berubah menjadi tujuan utama bagi kehidupan. Tidak jarang pula fasilitas kehidupan dunia berubah menjadi tujuan dan dicintai melebihi cinta kepada Tuhan Pencipta, bahkan ada pula manusia yang menyembahnya. Akibatnya, berbagai nilai dan aturan yang menata kehidupan manusia dengan mudah dilanggar. Pola hidup menjadi tidak terkendali sehingga menghalalkan segala cara dan tanpa mempertimbangkan kerusakan yang akan timbul dalam masyarakat dan lingkungan.

Sebagai akibat lain dari virus materialisme adalah, manusia lupa akan Perjalanan Wisata Abadinya (Rihlatul Khulud) yang amat panjang, bermula dari sebelum mereka dilahirkan ke dunia dan berakhir ketika mereka kembali kepada Tuhan Pencipta di sebuah negeri abadi yang bernama Akhirat.

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) Akhirat adalah lalai”. (Q.S. Ar-Rum ayat 7)

Agar kita tidak tertipu oleh faham dan ideologi materialisme yang sudah menggurita akal, fikiran, perasaan dan hati kebanyakan umat manusia hari ini, ada empat hal yang harus kita jadikan pegangan dalam hidup ini :

1. Ingat selalu kematian. Setiap yang bernyawa pasti merasakan kematian. Ini adalah sunnatullah (ketetapan Allah) yang mustahil dapat kita rubah atau kita hindarkan. Setiap hari kita melihat kematian di mana-mana. Cukuplah peristiwa kematian itu bagi kita sebagai pelajaran.

2. Bangun orientasi hidup akhirat, karena akhirat itulah yang abadi. Harus disadari betul bahwa kehidupan dunia ini sementara dan sebagai ladang kita bercocok tanam atau berinvestasi akhirat. Gunakan semua potensi akal, ilmu, harta, fisik dan apa saja yang kita miliki di jalan Allah Ta’ala. Buang jauh-jauh angan-angan duniawi dari dalam diri kita, jauhkan hidup yang berlebihan, dan hiduplah dengan sederhana, karena kehidupan yang berlebihan itu hanya akan melalaikan kita dari konsentrasi menuju kehidupan sejati, yakni kehidupan akhirat.

3. Evaluasi pengertian sukses yang selama ini menggurita pikiran kita. Orang yang sukses bukanlah yang banyak hartanya, akan tetapi yang menginfakkan kebanyakan hartanya di jalan Allah. Orang yang sukses bukanlah yang tinggi pangkatnya di dunia, akan tetapi yang paling baik kualitas taqwanya di sisi Allah. Orang yang sukses bukanlah yang paling banyak ilmunya, akan tetapi yang paling takut kepada Allah. Orang yang sukses bukanlah yang paling berkuasa di dunia, akan tetapi yang paling taat dan tunduk kepada Allah semasa hidup di dunia. Sukses bukanlah ditentukan dan dinilai di dunia, akan tetapi ditentukan dan dinilai di akhirat nanti.

4. Hati-hati terhadap kehidupan dunia dan jangan sampai tertipu, karena kehidupan dunia ini di mata Allah hanyalah kenikmatan yang sedikit dan menipu. Harta, tahta, anak dan istri adalah bunga-bunga dunia dan menjadi ujian dalam kehidupan dunia. Jika kita tidak pandai memenej dan mensyukurinya, semua itu akan menjadi beban dan bencana bagi kita, jika tidak di dunia pasti di akhirat kelak akan kita rasakan musibahnya.

Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 185 :

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Q.S. Ali Imran (3) : 185)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar